Marxisme = Anti Agama, Ateis?

Celetukan yang seringkali saya dengar kira-kira seperti ini: “Sheil, lu belajar dan menerapkan Marxisme gak takut jadi Ateis? Marx juga para penerusnya itu kan Anti Agama. Negara Komunis saja melarang agama.”

Eits. Tunggu dulu. Apa benar Marxisme dan turunannya (Marxisme-Leninisme, Marxisme-Leninisme-Maoisme) itu Anti-Agama dan Ateis? Apa benar negara Komunis melarang penduduknya untuk beragama? Mari saya jelaskeun ya.

Marxisme secara jelas memang tidak percaya pada solusi-solusi keagamaan dalam menyelesaikan ketidakadilan yang disebabkan oleh kapitalisme. Tapi ini tidak sama artinya dengan anti agama. Yang benar adalah Marxisme itu anti kelas. Anti penindasan yang dilakukan oleh kelas borjuis terhadap kelas proletar.

Dari beberapa kajian literatur yang saya pelajari, agama memiliki dua fungsi berbeda bagi masing-masing kelas: Bagi kelas borjuis, agama berfungsi sebagai alat manipulasi rakyat agar percaya bahwa ketidakadilan dan penindasan di bumi ini adalah kehendak dan hukum Tuhan, layaknya siang dan malam, panas dan dingin, baik dan buruk. Maka terimalah ketidakdilan itu, bekerjalah dengan sabar dan keras siapa tau nanti yang berada di kelas bawah akan naik, dan yang di atas akan turun kelas. Pasrah. Sebenarnya, ini lah yang dimaksud Mbah Karl Marx saat beliau ngomel dan berkata “Agama adalah candu masyarakat.” Beliau gemas melihat rakyat yang dibodohi sedemikian rupa sehingga rakyat tidak menyadari bahwa mereka sedang ditindas oleh kelas borjuis.

Sedangkan bagi kelas proletar (kelas pekerja), agama bermakna sebagai pembebasan (liberation). Para nabi, tidak hanya seorang pendakwah tapi juga seorang liberator (pembebas). Bagi kalangan proletar, agama menjadi mata air inspirasi yang tak pernah kering, bahwa sejak semula manusia diciptakan sama tapi, oleh proses sosial-politik-budaya-ekonomi, kesamaan itu dilupakan. Manusia kemudian menjadi terbelah-belah namun bukan oleh hukum Tuhan. Karena dalam Islam disebutkan, “semua orang di hadapan Allah adalah sama kecuali yang paling bertakwa.”

chickensoup

Mbah Karl Marx dan para penerusnya sangat menyadari dua fungsi agama ini. Karena itu, mereka melangkah lebih jauh dari sekedar berkutat pada persoalan keagamaan. Mbah Marx, misalnya, bukanlah orang yang serius terhadap masalah-masalah keagamaan. Mbah Marx pernah menyatakan: “Kritik terhadap agama dalam garis besar sudah lengkap. Kritik tersebut sudah diselesaikan oleh kaum filosof yang mendahului Marx (kaum “Hegelian Muda” dan terutama Ludwig von Feuerbach). Marx merangkum kritik mereka sebagai berikut:

“Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran-diri dan harga-diri manusia yang belum menemukan diri atau sudah kehilangan diri sendiri.”

Berangkat dari sini, Marx lantas beralih pada isu-isu sosial yang merupakan perhatian utamanya. Walaupun ia setuju pada kritik para filsuf Jerman tersebut, tapi ia mengatakan bahwa agama memiliki segi-segi yang agung. Bahwa agama, sebagai refleksi dari ketimpangan sosial yang ada, merupakan protes terhadap ketimpangan dan eksploitasi tersebut. Dengan meletakkan makna keagamaan dalam konteks kehidupan sosial yang nyata, Marx menutup teksnya dengan menghimbau agar kaum filosof meninggalkan kritik terhadap agama demi memperjuangkan perubahan sosial:

“Maka begitu dunia di luar kebenaran itu hilang, tugas ilmu sejarah adalah untuk memastikan kebenaran dunia nyata ini. Begitu bentuk suci dari keterasingan manusia telah kehilangan topengnya, maka tugas pertama bagi filsafat, yang menjadi pembantu ilmu sejarah, adalah untuk mencopot topeng keterasingan dalam bentuk-bentuk yang tak suci. Sehingga kritik terhadap surga menjelma menjadi kritik terhadap alam nyata, kritik terhadap agama menjadi kritik terhadap hukum, dan kritik teologi menjadi kritik politik.”

Sekian dari Mbah Marx. Sekarang kita beralih ke Vladimir Lenin yang sukses mendirikan negara Sosialis pertama di dunia. Lenin, dalam artikelnya yang bertajuk “Socialism and Religion,” menulis dengan singkat dan jelas bagaimana agama di Rusia yang otoriter di bawah kepemimpinan Tsar menjadi alat untuk melumpuhkan kesadaran massa atas penindasan yang dialaminya.

Bagi Lenin, peran agama yang seperti itu terjadi karena agama berkait erat dengan kekuasaan politik, para pendeta bersekongkol dengan Tsar. Karena itu, dengan tegas Lenin mengatakan, “Religion must be declared a private affair” (Agama harus dinyatakan sebagai masalah pribadi). Dengan pernyataan ini, menurut Lenin, kaum sosialis tetap bisa mengekspresikan penghayatan keagamaan mereka.

Memang kemudian, Lenin dengan tegas mengatakan bahwa agama harus terpisah dari politik atau dari negara. Agama biarlah menjadi urusan individu yang tidak boleh bercampur dengan politik yang berurusan dengan kepentingan publik. Berikut adalah tulisan Lenin yang saya kutipkan agak panjang:

“Religion must be of no concern to the state, and religious societies must have no connection with governmental authority. Everyone must be absolutely free to profess any religion he pleases, or no religion whatever, i.e., to be an atheist, which every socialist is, as a rule. Discrimination among citizens on account of their religious convictions is wholly intolerable.”

Nah uraian tadi bisa menjadi jawaban untuk celetukan “Negara komunis melarang penduduknya beragama.” Karena sebenarnya bukan dilarang, namun menempatkan agama dalam ranah privat. Misalnya, di negara bekas Uni Sovyet, tidak ada satu pun pasal yang secara tegas menyatakan bahwa negara melarang rakyat untuk memeluk atau mengekspresikan keyakinan keagamaannya. Nicaragua pun demikian, di bawah kepemimpinan rejim Sandinista, beberapa pastor Katolik malah terlibat dalam urusan pemerintahan. Kuba, sebuah negara sosialis yang ada saat ini, juga tidak mencantumkan dalam konstitusinya larangan bagi rakyatnya untuk beragama.

Tapi sebaliknya, di Indonesia negara hanya mengakui keberadaan enam agama. Di luar keenam agama tersebut adalah bertentangan dengan konstitusi, padahal kita tahu masih banyak yang memeluk keyakinan tradisionalnya, seperti masyarakat adat di Kalimantan dan Papua. Ini jelas melanggar hak asasi manusia. Atau di Perancis, yang bukan negara Komunis, malah melarang umat muslim di negara itu untuk mengenakan hijab di depan umum. Padahal, bagi sebagian umat Islam, hijab bukan sekadar simbol keislaman tapi juga merupakan bagian dari ibadah. Ini juga jelas melanggar hak asasi manusia.

Demikianlah pembahasan mengenai celetukan-celetukan yang terkadang nyinyir. Agak panjang sih penjelasan kali ini, tapi semoga mencerahkan yaa.

Sheila R.J

Referensi:

Karl Marx. “The German Ideology”

Vladimir Lenin. “Socialism and Religion” 

As religious freedoms grow in Cuba, so does church participation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s