Pemikiran Marx akan Revolusi dan Negara

Pemikiran awam melihat bahwa terdapat keterkaitan erat antara tindakan politik menggunakan kekerasan dengan Marxisme dan kaum Marxis. Seakan kaum Marxis menolak pemikiran moderat atau reformasi demi revolusi yang berlumuran darah dan penuh kekacauan. Segelintir pemberontak akan bangkit, menggulingkan negara dan memaksakan kehendaknya kepada mayoritas. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Ide dari sebuah revolusi biasanya membangkitkan gambaran kekerasan dan kekacauan. Dalam hal ini, revolusi dibandingkan dengan reformasi sosial yang secara awam dinilai sebagai proses yang damai, moderat dan bertahap. Padahal, dalam kenyataan nya, reformasi sosial sebagian besar adalah perlawanan palsu. Coba lihat kembali sejarah gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat yang jauh dari revolusioner, namun melibatkan banyak kematian, pemukulan, pembunuhan tanpa pengadilan dan represi brutal. Dalam kolonial yang mendominasi Amerika Latin pada abad ke-18 dan abad ke-19, setiap upaya reformasi liberal memicu kekerasan dan konflik sosial.

Bolshevik Rev

Revolusi Bolshevik, Rusia 1917 (sumber gambar: http://www.iwm.org.uk)

Sebaliknya, terdapat bukti bahwa pada beberapa revolusi, relatif berjalan dengan damai. Misalnya tidak banyak orang tewas dalam pemberontakan Dublin pada tahun 1916, dimana revolusi bertujuan menghasilkan kemerdekaan parsial untuk Irlandia. Atau sejarah revolusi Bolshevik tahun 1917 dimana pengambil-alihan titik kunci di Moskow dicapai tanpa adanya tembakan. Sangat menakjubkan melihat dukungan yang begitu kuat dari masyarakat umum kepada kaum pemberontak. Ketika sistem Soviet jatuh lebih dari tujuh puluh tahun kemudian, negeri yang memiliki sejarah dan konflik ini runtuh tanpa banyak terjadi pertumpahan darah dibandingkan pada saat Soviet berdiri. Memang benar bahwa perang sipil berdarah mengikuti langkah revolusi Bolshevik, namun hal ini terjadi karena tatanan sosial baru diserang secara brutal dari kekuatan sayap kanan serta para penyerbu asing. Pasukan Inggris dan Prancis turun mendukung pasukan kontrarevolusioner melawan kaum Bolshevik. (Eagleton 2011: 180) 

Bolshevik Rev2

Vladimir Lenin dan Revolusi Boshevik 1917. Lenin berkata: “Revolusi Rusia harus mengambil jalan yang memadukan revolusi demokratik dan revolusi sosialis di bawah pimpinan kelas buruh!” (sumber gambar: http://www.liberationschool.org)

Bagi Marxisme, revolusi tidak ditandai dengan berapa banyak kekerasan. Rusia tidak bangun pada pagi hari setelah revolusi Bolshevik untuk kemudian menemukan semua hubungan pasar dihapuskan dan semua industri menjadi milik publik. Sebaliknya, pasar dan kepemilikan pribadi bertahan untuk waktu yang cukup lama bahkan setelah Bolshevik merebut kekuasaan. Partai sayap kiri mengambil garis yang sama dengan kaum tani. Tidak ada pernyataan kaum revolusioner yang mengarahkan mereka ke pertanian kolektif secara paksa; sebaliknya, proses itu dilakukan secara bertahap dan konsensual. Revolusi biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk timbul, dan memakan waktu berabad-abad untuk mencapai tujuan mereka. Kelas menengah Eropa tidak menghapuskan feodalisme hanya dalam waktu satu malam. Perebutan politik adalah urusan untuk jangka pendek; sebaliknya, mengubah kebiasaan, lembaga dan sifat masyarakat membutuhkan waktu lebih banyak lagi. Hal tersebut melibatkan proses panjang pendidikan dan perubahan budaya.

Karl Marx sendiri percaya bahwa di negara-negara seperti Inggris, Belanda dan Amerika Serikat, sosialisme mungkin mencapai tujuan dengan cara damai. Marx tidak menampik parlemen atau reformasi sosial. Dia juga berpikir bahwa partai sosialis bisa mendapat kekuatan hanya dengan dukungan dari mayoritas kelas pekerja. Marx adalah seorang yang antusias akan hadirnya organ reformis seperti partai politik kelas pekerja, serikat perdagangan pekerja, asosiasi budaya dan koran politik. Selain itu, Marx juga berbicara untuk langkah-langkah reformis tertentu seperti pemendekan jam kerja. Bahkan, pada satu titik Marx dianggap optimis bahwa hak pilih universal akan melemahkan sendiri kekuasaan kapitalis.

Selanjutnya, apakah setelah kepemilikan pribadi dihapuskan, kaum revolusioner sosialis akan memerintah dengan kekuasaan yang brutal demi membangun negara yang kuat? Tentu saja tidak. Apa yang Marx sebenarnya harapkan dalam masyarakat komunis bukanlah negara dalam arti pemerintahan pusat. Faktanya, Marx menulis di volume ketiga Capital (Das Kapital), bahwa sebuah negara adalah sebagai:

“kegiatan umum yang timbul dari sifat seluruh masyarakat”.

Negara sebagai badan administratif akan hidup. Seperti yang Marx katakan dalam Manifesto Komunis, kekuasaan publik di bawah komunisme akan kehilangan karakter politiknya. Dalam hal ini, Marx memandang negara dengan kacamata realisme. Negara jelas bukan organ yang netral secara politik, bahkan bertindak secara hati-hati terhadap suatu bentrokan kepentingan sosial. Negara paling tidak memihak dalam konflik antara buruh dan kapital. Negara ada, antara lain untuk mempertahankan tatanan sosial yang ada saat ini terhadap mereka yang berusaha untuk mengubahnya. Jika secara inheren tidak adil, maka dalam hal ini negara bertindak tidak adil juga.

Sheila R.J

Referensi

Capital Volume 3 

Manifesto Partai Komunis

Terry Eagleton. (2011). Why Marx Was Right. Connecticut: Yale University Press

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s