Kasus Bunuh Diri Edward Nylander

Edward Nylander

Classification: Suicide

Characteristics: Voluntary Suicide. Victimless Crime

Date of Suicide: April 11, 1977

Victim Profile: Edward Nylander, 29

Method of Suicide: Self burning (self-immolation)

Location: City of Boulder, Colorado, USA

 

A. Gambaran Singkat Kasus

Pada tanggal 1 April 1977. Edward Nylander mengirimkan satu foto dirinya kepada 10 teman. Di dalam foto tersebut, terlihat Edward Nylander sedang berpose tersenyum dalam posisi meditasi, membelakangi pola mandala, dengan tengkorak di pangkuannya. Sepuluh hari kemudian, Nylander ditemukan tewas di dalam sebuah gua di sebelah barat Boulder, Colorado. Jenazah Edward Nylander ditemukan setengah terbakar dalam posisi meditasi persis seperti dalam foto yang telah ia kirimkan kepada teman-temannya.

Selain foto, Ed juga menyertakan surat wasiat yang menjelaskan bagaimana teman-teman nya dapat menghubunginya setelah kematiannya, yaitu dengan bermeditasi dalam posisi seperti yang ia lakukan, Ed akan muncul diantara menit ke-3 hingga ke-20 dan menyapa mereka. Dalam suratnya, Ed meyakinkan teman-temannya bahwa setelah kematiannya, ia bereinkarnasi.

Media massa saat itu mendeskripsikan kasus bunuh diri Edward Nylander sebagai ‘unsolved event’ dan ‘kasus bunuh diri misterius’.

(Data diperoleh dari Harian The Free Lance-Star, terbit pada 2 Juni 1977) 1

B. Profil Edward Nylander

Edward Nylander (29) merupakan anak dari pensiunan Angkatan Udara Amerika. Ia merupakan lulusan dari Oberlin College, Ohio. Pemerang Optimist International Youth Award, seorang pekerja pabrik, penggemar berat pinball, penggemar filsafat Timur dan seorang guru yoga.

Edward Nylander pindah ke Boulder, Colorado pada tahun 1974 bersama seorang istri dan suatu misi yaitu untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya dan mengajarkan masyarakat tentang metode-metode realisasi diri (self realizatation) yang ia kembangkan sendiri. Sebelumnya, Edward pernah memiliki pengalaman sebagai instruktur yoga pada Departemen Olahraga di Oberlin College, dan ia dianggap sebagai guru (yogi).

Namun sayangnya, harapan Edward Nylander untuk menyebarluaskan ajarannya terhambat di Boulder. Hal ini disebabkan karena Boulder merupakan kota pelajar dengan beberapa universitas yang tersebar di sana. Selain itu, Boulder juga adalah kota religius dengan banyak pemuka agama dan sebagian besarnya pengikut Kristen yang taat.

Pada tahun 1976, Nylander dan istrinya bercerai. Nylander juga memiliki riwayat penggunaan LSD dengan dosis yang tidak menentu. LSD digunakan Nyander saat meditasi untuk memicu serta mempertahankan perasaan spiritualitas tinggi.

(Data diperoleh dari Harian The Free Lance-Star, terbit pada 2 Juni 1977).2

C. Analisis Modus Operandi

Kasus bunuh diri Edward Nylander dilakukan dengan cara membakar diri (self-immolation) menggunakan bensin. Hal ini dapat dipastikan dari luka bakar yang terdapat pada jenazah nya. Serta sekaleng bensin yang ditemukan dekat jenazah Nylander.3

Dari modus operandi ini, saya akan melanjutkan dengan analisis berdasarkan data statistik kasus bunuh diri dengan cara membakar diri yang berhasil didokumentasikan dalam beberapa literatur. Menurut Hollin (2013) 4, membakar diri sebagai salah satu cara bunuh diri termasuk kasus ekstrim dan tidak biasa. Lari dan Alaghehbandan (2009) mendokumentasikan sekitar 110 kasus membakar diri yang diperoleh dari beberapa rumah sakit di Iran. Ditemukan bahwa cairan mudah terbakar seperti kerosin, digunakan dalam 110 kasus bakar diri tersebut. Pelaku bunuh diri sebagian besar adalah laki laki dengan rentang usia antara 14 – 68 tahun, serta memiliki riwayat malasah kejiwaan, sebagian besar adalah depresi. 5

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Reilanad dkk (2006). Ditemukan bahwa pelaku bakar diri 86% adalah laki-laki dan memiliki riwayat sebagai pengguna alkohol dan obat-obatan. 6

Selain itu terdapat pula kasus bakar diri yang dilakukan secara kolektif dengan landasan kepentingan politik dan kepercayaan. Misalnya kasus bakar diri kolektif yang dilakukan oleh 5 orang di Menara Tianmen, Beijing pada tahun 2001 dengan cara menuangkan bensin di sekujur tubuh kemudian secara sukarela menyalakan api dan membakar diri mereka. Tindakan bakar diri kolektif yang menjadi sorotan media internasional ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Beijing. Dua dari 5 pelaku meninggal dan sisanya mengalami luka bakar sangat serius serta kehilangan anggota tubuh. 7

D. Analisis Motif Bunuh Diri

Sebelum sampai pada motif bunuh diri yang dilakukan oleh Edward Nylander, penulis akan menguraikan teori dari perspektif kriminologi yang berkaitan juga dengan teori psiko-sosial mengenai bunuh diri.

Selain itu, penulis juga akan mencoba menjelaskan menggunakan perspektif yang disesuaikan dengan latar belakang Nylander sebagai seorang yogi yang mendalami meditasi serta yoga.

Teori-teori ini dapat menjadi landasan yang kuat dalam menganalisis motif Edward Nylander melakukan bunuh diri yang ‘tidak biasa’.

D.1 Teori Bunuh Diri Emile Durkheim: Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu

Emile Durkheim merupakan sosiolog asal Prancis yang memberi perhatian penuh pada kasus-kasus bunuh diri yang terjadi pada masa nya. Pemikiran-pemikiran Durkheim dituangkan dalam buku berjudul “Le Suicide” pada tahun 1897. Durkheim mengambi kasus tentang bunuh diri karena persoalan bunuh diri adalah femonena konkret dan spesifik di mana tersedia data yang bagus secara komparatif

Durkheim memberikan definisi untuk bunuh diri sebagai suatu tindakan manusia yang lebih memilih kematian daripada kehidupan di dunia. Durkheim mengklasifikasikan empat jenis bunuh diri yaitu bunuh diri egoistik, fatalistik, alturistik, dan anomik yang dikaitkan dengan faktor-faktor internal maupun eksternal pemicu terjadinya bunuh diri. 8

  • Bunuh Diri Egoistik: Bunuh diri egoistik terjadi akibat menurunnya integrasi yang terjadi dalam suatu masyarakat. Ketika manusia bersikap egois dan tidak ada hubungan dengan dengan lingkungannya, akan menimbulkan perasaan kesendirian. Ketika seseorang menemukan suatu permasalahan di dalam hidup, tidak ada yang membantunya, ia akan merasa depresi, kesepian dan merasa sia-sia. Tingginya perasaan sia-sia dan kecewa inilah yang menjadi faktor pendorong individu melakukan bunuh diri dengan dalih agar lepas dari semua kondisi kesepian dan kecewa.
  • Bunuh Diri Altruistik: Bunuh diri tipe ini terjadi ketika seseorang memiliki integrasi sosial dan kesadaran kolektif yang sangat besar. Secara harfiah dapat dikatakan bahwa individu melakukan bunuh diri untuk orang lain. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri dan lebih mementingkan orang lain atau masyarakat. Orang yang melakukan bunuh diri altruistik menganggap bahwa kematian adalah pembebasan.

 

Suicide

 

  • Bunuh Diri Anomik: Anomik terjadi ketika seseorang tak siap menghadapi perubahan sosial. Sebagai contoh orang yang mengalami post-power syndrome. Dia yang sebelumnya berpangkat mendadak tak punya orang untuk disuruh. Pada akhirnya dia terjangkit stres. Begitu pula dengan veteran perang yang mengalami PTSD, atau orang kaya yang mendadak jatuh miskin. Pada dasarnya orang yang tak siap menerima perubahan berpotensi terkena anomi. Dan dari situ, jadi cenderung terdorong untuk mengakhiri hidup. (berkaitan dengan bunuh diri Egoistik).
  • Bunuh Diri Fatalistik: Orang yang melakukan bunuh diri fatalistik pada umumnya adalah orang yang merasa kalah dalam hidup. Setiap kali dia berusaha, selalu gagal. Cita-citanya untuk maju selalu terhambat. Dalam hal ini orang tersebut telah mengambil posisi fatalistik. Ia tidak lagi hendak berusaha, melainkan menyerahkan saja apa yang akan terjadi nanti. Dia memiliki ekspektasi buruk pada dunia. Oleh karena itu orang jenis ini jadi terdorong untuk bunuh diri — dengan mengakhiri hidup di dunia yang kejam.

D.2. Mahasamadhi Sebagai Bentuk “Melepaskan Diri Dari Raga”

Mahasamadhi merupakan tingkat terakhir dari fase samadhi yang merupakan bagian dari yoga. Samadhi sendiri merupakan fase tertinggi dalam delapan fase penguasaan Yoga.9 Menurut Kamus Bhargava, Samadhi adalah fase terkuat dari yoga di mana seseorang memperoleh kekuatan untuk menangguhkan hubungan antara tubuh dan jiwa selama yang Ia suka.9 Dalam ajaran Hindu, Samadhi merupakan bagian dari tata cara ritual beragama yang dijelaskan di kitab Yoga Sutra pada bab pertama dengan judul Samadhi-pada.10

8_limbs1

Dalam ajaran Hindu, samadhi dibagi menjadi lima tingkatan:

laya samadhi : pada tingkat ini yogi atau yogini mengenal untuk pertama kalinya bentuk dari kedamaian dan kebagiaan melalui nyanyian, tarian, atau aktifitas harian lainnya. Ia juga mulai menumbuhkan dan mengenal bakat potensial dalam dirinya untuk melanjutkan samadhi ke tingkat berikutnya.

savikalpa samadhi : yogi/yogini akan megalami sensasi perjalanan ruang dan waktu secara berbeda. Pada masa-masa samadhi ini, sang medtator berusaha memahami penyempurnaan samadhi. Segala macam perasaan dan pikiran-pikiran membanjiri benaknya, tetapi secara sadar dia memadamkannya.

nirvikalpa samadhi : dalam fase ini yogi/yogini akan mengalami puncak kebahagiaan yang luar biasa. Dia merasakan seakan-akan dunia dan seisinya berjalan mengikuti dirinya. Seseorang biasanya dapat mengalami fase Nirvikalpa Samadhi dalam beberapa jam atau beberapa hari, dan hanya orang-orang dengan kekuatan spiritual tertinggi yang bisa mengalami hal ini. Orang dalam fase ini juga dikabarkan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi layaknya manusia biasa

sahaja samadhi : Fase supremasi dari samadhi, yakni sang yogi/yogini telah sepenuhnya menguasai dunia spiritual dan kesulitan memahami dunia materi. Saat mengalami sahaja samadhi seseorang akan merasa telah dekat dengan zat sang maha kuasa.

mahasamadhi: Ini adalah fase akhir yakni sang yogi/yogini telah meninggalkan tubuhnya secara utuh dan pergi menyatu dengan Tuhan. Fase ini dianggap sebagai fase realisasi diri (self-realization). Terdapat 4 proses yang digunakan seorang yogi/yogini untuk mencapai tingkat mahasamadhi yang sempurna, antara lain dengan meditasi dalam posisi samadhi – tanpa pergerakan atau berbicara selama beberapa hari; menghentikan pernapasan di dalam air; membakar diri sepersekian detik dengan meditasi yang berfokus pada area ulu hati; meninggalkan raga secara sukarela melalui bagian atas tulang tengkorak (ubun-ubun).

D.3 Penggunaan LSD dalam Meditasi

LSD (Lysergic Acid Diethylamide) sendiri merupakan jenis bahan kimia yang bersifat halusinogen, bahan kimia atau obat ini berbentuk seperti kertas dan biasanya lekat dengan istilah psikadelik. LSD relatif bersifat tidak adiktif dan toksisitas rendah. LSD banyak dikenal atas efek psikologisnya yang bisa dijadikan obat untuk senang-senang (rekreasional) maupun mencari ketenangan atau meditasi, serta berperan penting dalam kontra budaya tahun 1960.

Dari berbagai penelitian dan pengalaman orang yang mengkonsumsi LSD, efek penggunaan zat ini bisa mencapai 6-8 jam, ditambah dengan 2-6 jam offset (penurunan), efeknya meliputi :11

  • Meningkatnya energi
  • Sulit tidur
  • Halusinasi penglihatan
  • Halusinasi pendengaran
  • Emosi tidak stabil
  • Perubahan persepsi tentang waktu
  • Paranoid
  • Ingatan tentang masa lalu lembali muncul
  • Sulit kosentrasi

Walaupun tidak terbukti bisa menyebabkan kecanduan secara fisik, oleh karena sifatnya yang mempengaruhi kerja hormon dopamine di dalam otak yang berfungsi sebagai hormon reward system (yang mendorong munculnya perasaan puas dan bahagia akan sesuatu hal yang didapat/dicapai) sehingga LSD dapat menyebabkan kecanduan secara psikologis.

Pada beberapa kasus penggunaan LSD ini banyak dilatarbelakangi oleh faktor mencari kesenangan semata karena efek euphoria-nya yang begitu signifikan dibandingkan obat halusinogen lainnya. Bahkan tidak sedikit orang yang menggunakan LSD sebagai pelarian dari berbagai masalah. Hal ini merupakan penyebab utama kasus kecelakaan maupun kematian akibat LSD. Karena efek LSD sendiri sangat dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan penggunanya.

Ada pun pengguna LSD yang termasuk kedalam “pengguna cerdas”/smart user berdasarkan motivasinya menggunakan LSD sebagai media untuk melakukan eksplorasi pikiran, memahami diri sendiri dan berpikir lebih dalam tentang alam semesta. Dalam perkembangannya, para smart user ini mengoptimalkan eksplorasi pikirannya dengan melakukan meditasi, lucid dream bahkan out of body experience (astral project) serta mengkonsumsi tamanan psikedelik. Seseorang yang menggunakan kondisi tersebut untuk bereksplorasi diketahui sebagai psychonaut.12

Para psychonaut yang mengkonsumsi LSD percaya bahwa dengan mengeksplorasi pikiran bermanfaat secara spiritual. Pengalaman dan sensasi spiritual tersebut membuat psychonaut ini melihat kehidupan dari sisi introspektif.13

Berdasarkan uraian beberapa teori di atas, maka motif bunuh diri Edward Nylander yang dapat penulis analisis adalah Nylander secara sukarela membakar dirinya sebagai bentuk realisasi diri yang menjadi tujuan utama selama hidupnya. Jika merujuk pada teori bunuh diri Durkheim, kasus Nylander dapat dikategorikan sebagai bunuh diri alturistik dimana bunuh diri memang diharapkan dan dilakukan bukan karena kecewa, putus asa, atau tidak siap menghadapi perubahan. Bunuh diri dilakukan oleh Nylander karena merasa puas dengan kehidupan dan menganggap bahwa kematian sebagai pembebasan. Foto yang Nylander kirimkan kepada 10 temannya menunjukkan bahwa bunuh diri ini memang sudah direncanakan dengan baik.

Semua gagasan tentang realisasi diri melalui kematian yang dimiliki Nylander dapat dikaitkan dengan kepercayaan nya terhadap proses samadhi, khususnya mahasamadhi. Oleh karena itu, proses kematian nya pun sesuai dengan tahapan dalam mencapai mahasamadhi yang sempurna seperti membakar diri dalam posisi bermeditasi. Tengkorak dalam pangkuannya melambangkan upaya jiwa meninggalkan tubuh melalui ubun-ubun.

Apakah Nylander gila? Penulis tidak akan berasumsi lebih jauh mengenai hal ini. Yang jelas adalah, Nylander sebagai psychonaut memang secara sadar menggunakan LSD dalam meditasi untuk mempertahankan rasa spiritualitas serta membantu dalam eksplorasi pikiran.

Dengan demikian, kasus bunuh diri Nylander bukan lagi kasus yang tidak dapat dijelaskan (unexplained event). Seperti yang dikatakan Durkheim, bunuh diri merupakan pilihan sadar individu yang lebih memilih kematian daripada kehidupan di dunia dengan berbagai alasan.

Kesimpulan

Dari sudur pandang kriminologi, bunuh diri termasuk dalam kejahatan tanpa korban (victimless crime – korban hanya diri sendiri). Bunuh diri, merupakan pilihan rasional individu yang memilih kematian daripada kehidupan – yang tentu saja dilataebelakangi oleh berbagai alasan. Meskipun sebagian besar masyarakat menilai tindakan menghabiskan nyawa sendiri merupakan bunuh diri, namun sebagian masyarakat lainnya menilai bunuh diri sebagai bentuk pembebasan atau pengorbanan yang dilandasi oleh pandangan kuat masing-masing individu terhadap suatu ajaran agama maupun kepercayaan.

Menurut penulis, dalam kasus Edward Nylander, bunuh diri dalam bentuk membakar diri yang ia lakukan dalam posisi meditasi – dianggap aneh, misterius, dan tidak dapat dijelaskan karena masyarakat Barat pada saat itu kurang memiliki pengetahuan mengenai prosesi kematian dan realisasi diri dari perspektif kepercayaan dan budaya Timur dalam hal ini adalah Hindu. Pengetahuan tentang Yoga pun masih minim. Sehingga cara bunuh diri ini dianggap kurang sesuai dengan budaya Barat. Disinilah relativisme budaya berperan besar. 

Sheila R.J

Protected by Copyscape Protected by Copyscape Protected by Copyscape Protected by Copyscape Protected by Copyscape

Referensi

[1] Berita The Free Lance-Star – Jun 2, 1977

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Clive R. Hollin. (2013). Psychology and Crime: An Introduction to Criminological Psychology.  UK: Routledge

[5] Lari dan Alaghehbandan. Suicidal Behavior By Burns In The Province Of Fars, Iran: A Socioepidemiologic Approach, dalam The Journal of Crisis Intervention and Suicide Prevention, Vol 30(2), 2009, 98-101.

[6] A Reiland et.al. The Epidemiology Of Intentional Burns dalam Journals of Burn Care and Research, 2006 May-Jun; 27(3):276-80.

[7] 5 Linked to Banned Sect in China Set Themselves on Fire in Protest 

[8] Emile Durkheim. (1897/1951). Suicide. New York: Free Press

[9] Thomas L. Palotas. (2006). Divine Play: the Silent Teaching of Shivabalayogi. Lotus Press.

[10] Ibid

[11] Stanislav Grof. (1994). LSD Psychoterapy: Exploring the Frontiers of the Hidden Mind. California: Hunter House.

[12] Ibid

[13] Ibid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s