Melepaskan Delusi

Di dalam salah satu karya dialognya, Plato, filsuf Yunani Kuno, menegaskan dengan jelas, bahwa ketidaktahuan (bisa juga dibaca sebagai kesalahpahaman) adalah akar dari semua kejahatan di atas bumi ini. Filsuf eksistensialis Prancis, Albert Camus, juga menegaskan, bahwa kesalahpahaman mendorong orang bertindak salah, walaupun niat hatinya baik. Buddhisme sejak 2500 tahun yang lalu juga sudah menegaskan, bahwa kesalahpahaman tentang seluruh kenyataan, termasuk tentang diri kita, adalah akar dari semua penderitaan hidup manusia.

Kesalahpahaman ini pun lalu diungkapkan dengan berbagai cara. Di dalam Buddhisme, ia disebut sebagai delusi. Di dalam filsafat, ia dikenal sebagai kesalahan berpikir. Bagi Francis Bacon, filsuf modern, kesalahpahaman adalah Idol-idol yang menutupi mata kita dari kebenaran. Anthony de Mello menyebutnya sebagai programming atau pengkondisian yang begitu kuat mempengaruhi cara berpikir dan cara merasa kita.

Secara pribadi, saya lebih suka menyebut kesalahpahaman ini sebagai delusi. Ungkapan ini begitu kuat menyatakan ketidakmampuan kita untuk membedakan antara kenyataan dan ilusi. Orang yang hidup dalam delusi akan selalu menderita, walaupun ia kaya raya, tampan atau cantik. Pertanyaan yang penting adalah, darimana delusi ini muncul?

Delusi muncul dari cara kita diasuh dari kecil. Nilai-nilai yang kita terima dari keluarga dan masyarakat kita juga menciptakan banyak delusi di dalam kepala kita. Teladan yang kita terima dari orang tua dan guru kita sejak kecil juga menciptakan delusi di dalam kepala kita. Makanya, banyak orang begitu sulit untuk lepas dari delusi yang mengotori kepalanya. Ia pun akhirnya hidup dalam penderitaan terus menerus.

Delusi Di Sekitar Kita

Ada begitu banyak delusi di dalam masyarakat kita. Semuanya mengotori kepala kita, dan membuat kita menderita. Delusi pertama adalah tentang cinta. Kita kerap menyamakan tindak mencintai dengan tindak menguasai. Kita ingin pasangan kita seperti harapan kita. Jika tidak, kita lalu marah, dan berlaku kasar, atau justru melepaskan semuanya. Dengan pola semacam ini, kita akan terus hidup dalam penderitaan, akibat dari delusi di dalam kepala kita. 

delusion-dorina-costras

image source: Painting by Dorina Costras – ‘Delusion’

Delusi kedua adalah menyamakan kesuksesan hidup dengan kebahagiaan. Sukses berarti kita mengikuti pola hidup sebagaimana diidealkan oleh masyarakat kita. Di Indonesia, ini berarti kita memiliki pekerjaan dengan gaji besar, serta keluarga yang harmonis serta religius. Ironisnya, orang yang punya pekerjaan baik dan keluarga harmonis juga kerap hidup dalam penderitaan. Ia masih terjebak dalam delusi.

Delusi ketiga berakar begitu dalam di masyarakat kita. Kita menyamakan agama dengan mental pengemis. Kita menyembah dan meminta, tetapi lupa mengembangkan diri kita sendiri. Kita berdoa dan berdoa, tetapi melakukan kekerasan terhadap orang lain. Kita beragama dan bertuhan, tetapi tetap menderita dan bermental kasar. Agama menjadi sumber delusi kita bersama.

Ketiga delusi di atas berakar pada satu delusi yang terdalam, yaitu delusi tentang kenyataan di depan mata kita. Kita menyamakan apa yang tampak di depan mata kita dengan kebenaran. Di dalam kenyataan, kita melihat orang yang hidup dan orang yang mati. Kita lalu mengira, itu semua adalah kebenaran yang sejati. Kita mengira, segala sesuatu di sekitar kita, dan bahkan diri kita sendiri, adalah sesuatu yang utuh, benar dan nyata. Kita lalu hidup dengan berpijak pada apa yang tampak di depan mata. Inilah hidup yang terjebak dalam delusi. Buahnya hanyat satu: penderitaan.

Melepas Delusi

Delusi dapat dengan mudah dilepaskan, asalkan kita mau. Kita cukup melihat diri kita dan segala perasaan maupun pikiran kita sebagai ilusi yang datang dan pergi. Kita juga cukup melihat segala kenyataan yang ada di depan mata kita sebagai ilusi yang sementara. Ia bukanlah kebenaran dan kenyataan itu sendiri. Ia justru mengaburkan kita dari kebenaran dan kenyataan.

Sheila R.J

Referensi

The Background Theory of Delusion and Existential Phenomenology

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s