Mengapa Perempuan Membunuh? Analisis Kriminologis-Feminis Terhadap Perempuan Pelaku Pembunuhan Dalam Relasi Intim (Intimate Partner Homicide)

Pendahuluan

Hipotesis umum menyatakan bahwa kejahatan diidentikkan dengan maskulinitas dimana pelaku adalah laki-laki. Seperti laporan statistik kriminal di Inggris  menunjukkan bahwa pada tahun 1987 dari 3.825.000 kasus kejahatan, 86.9% pelakunya laki-laki.[1] Lundberg di dalam Crime and Criminology bahwa secara kuantitas angka kejahatan yang dilakukan oleh laki-laki lebih tinggi daripada yang dilakukan oleh perempuan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa jumlah kejahatan yang dilakukan perempuan tidak ada, hanya saja berdasarkan statistik kriminal angka kejahatan yang dilakukan oleh perempuan relatif lebih rendah jika dibandingkan oleh laki-laki.[2]

Pembunuhan menjadi salah satu jenis kejahatan dengan derajat keseriusan tinggi dan pada umumnya dikonotasikan sebagai kejahatan yang dilakukan oleh laki-laki.[3] Kusumah yang mengutip pendapat Smart[4] ia mengatakan ada dua jenis kejahatan yang dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yaitu:

  • Sex Specific offences adalah kejahatan-kejahatan yang pelaku utamanya berasal dari satu jenis kelamin saja. Misalnya perempuan sebagai pelaku kasus abortus ilegal, pembunuhan bayi dan pelacuran sedangkan laki-laki dihubungkan dengan kasus perkosaan dan pembunuhan
  • Jenis-jenis kejahatan yang dapat dilakukan oleh kedua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan misalnya adalah pencurian, penggelapan, dan penipuan

Dalam konteks Indonesia, fakta dengan jelas menunjukkan sebagian besar kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di lingkup rumah tangga atau dilakukan oleh orang dekat (intimate partner). Sebagai contoh dari 1722 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani Rifka Annisa Women Crisis Centre, 1054 (60%) kasus diantaranya adalah kasus kekerasan terhadap istri. Temuan penelitian yang dilakukan Rifka Annisa bersama UGM, UMEA University, dan Women’s Health Exchange USA di Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia, pada tahun 2000 menunjukkan 1 dari 3 perempuan (34%) mengalami kekerasan emosional dari suaminya, termasuk didalamnya penghinaan, ancaman, dan ancaman fisik yang membahayakan. Kira-kira 1 dari 4 perempuan (27%) mempunyai pengalaman kekerasan fisik atau seksual dari suaminya dalam satu waktu dalam hidupnya, dimana 22% mengalami kekerasan seksual dan 11% mengalami kekerasan fisik. Satu dari 5 perempuan (19%) melaporkan bahwa biasanya mereka dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan mereka selama dipukuli. Kira-kira 1 dari 3 perempuan (33%) yang teraniaya mendapat paling sedikit satu luka-luka sebagai hasil kekerasan; sebagian besar berupa memar atau lecet-lecet. Sekitar 80% perempuan yang mencoba bunuh diri memiliki alasan karena telah mengalami kekerasan dari pasangannya, baik suami atau kekasih. Diseluruh dunia 1 dari 4 perempuan hamil mengalami kekerasan oleh suaminya baik kekerasan seksual maupun kekerasan fisik. Diperkirakan 40% hingga 70% lebih pembunuhan terhadap perempuan juga dilakukan oleh pasangan intimnya dalam konteks relasi yang penuh kekerasan.[5]

Potret dari kasus pembunuhan kebanyakan diwarnai oleh motif ekonomi dan tidak lepas dari konteks budaya. Hal ini melekat pada perempuan sebagai kaum yang terkena viktimisasi akibat kuatnya pengaruh atas kuasa yang dikonstruksikan dengan lebih utama kepada laki-laki. Perbandingkan studi klasik yang dilakukan pada laki-laki dan perempuan yang terlibat pada sebuah peristiwa pembunuhan (Wolfgang, 1958; Ward, Jackson, & Ward, 1969) menyatakan bahwa masing-masing kelompok yang melakukan pembunuhan merefleksikan peran gender dalam masyarakat.[6]

Dengan kata lain, pernyataan ini hendak menjelaskan bahwa gambaran yang dominan pada kekerasan yang dialami oleh perempuan seringkali adalah akibat dari pertumbuhan ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki secara struktural. Oleh sebab itu, seringkali respon yang paling umum yang dilakukan oleh perempuan adalah dengan memberikan ancaman balik kepada laki-laki yang telah melukai perempuan. Ketika pada akhirnya perempuan melakukan pembunuhan, seringkali ini juga merupakan respon atas ancaman yang lebih dahulu diterima oleh perempuan dari korban laki-lakinya, maka dalam hal ini kekerasan bahkan pembunuhan yang melibatkan perempuan sebagai pelaku bermuara pada bentuk proteksi atau perlindungan terhadap dirinya sendiri atau bentuk defensive reaction.

Contoh Kasus

WomenOffender

Setelah 25 tahun menikah dan dikaruniai tiga anak, perempuan berinisial AT (40), warga Dusun Bukit Rantau, nekat menghabisi suaminya Latif alias Sasen (52) yang ditemukan tewas mengenaskan dengan 17 luka sabetan benda tajam di sebuah jurang di Muntok. Setelah pemeriksaan kemudian terkuak bahwa AT menyewa jasa pembunuh bayaran senilai Rp 40 juta untuk menghabisi nyawa sang suami. Aksi ini dilatarbelakangi dendam karena sering diperlakukan kasar dan dianiaya oleh sang suami ditambah sang suami menolak untuk bercerai.[7]

womenoffender2

Kasus pembunuhan lainnya dengan perempuan sebagai pelaku ditemukan di Banyumas pada bulan Maret 2014. Perempuan pelaku pembunuhan ini membunuh suaminya dengan menggunakan martil, dan dilatarbelakangi oleh motif ekonomi serta sakit hati karena sang suami sering menganiayainya. Pelaku berinisial DK (46) juga mengakui sudah tujuh bulan pisah ranjang dan sering terjadi pertengkaran diantara keduanya.[8] Dari kedua contoh kasus yang diambil, dijelaskan bahwa perempuan juga memiliki kesempatan untuk menjadi pelaku dari Intimate Partner Homicide. Namun hal tersebut juga tidak terjadi secara alamiah begitu saja, karena perbedaan gender sudah mengakar di masyarakat, perilaku perempuan ini juga tidak lepas dari pengaruh konstruksi tersebut dan juga faktor-faktor lainnya yang akhirnya menyebabkan perempuan menjadi pelaku dalam suatu tindak pembunuhan.

Pembahasan

Karakteristik Pembunuhan Pasangan dalam Relasi Intim (Intimate Partner Homicide)

IPH akan lebih baik dipahami dalam konteks gender. Laki-laki mewakili angka terbanyak sebagai pelaku, meskipun perempuan juga memiliki kesempatan sebagai pelaku yang cenderung membunuh partner intimnya dibandingkan orang lain. Meskipun karakteristik sosio-demografis, seperti perbedaan usia korban dan pelaku, latar belakang etnis, serta kondisi sosial-ekonomi merupakan faktor-faktor pemicu yang sama bagi kedua gender, terdapat beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan misalnya hubungan antara pelaku dan korban serta konteks situasional, yang berbeda bagi kedua gender.[9] Sehingga, IPH juga sangat mungkin untuk dilakukan oleh perempuan.

A.1 Faktor Sosial-Budaya

Faktor sosial-budaya yang mempengaruhi keterlibatan perempuan dalam kekerasan dan pembunuhan antara lain situasi lingkungan dan nilai-nilai tradisional dalam keluarga. Kondisi lingkungan sekitar di area urban memiliki tingkat tertinggi pada kejadian kekerasan terhadap pasangan karena perubahan lingkungan yang cepat dan mudahnya terpapar tekanan psikis.[10]  Keterikatan kuat terhadap norma dan nilai tradisional dalam keluarga pun dapat memicu terjadinya kekerasan dan pembunuhan terhadap pasangan. Perempuan cenderung harus menuruti norma-norma tradisional dan terpaksa diam saat mengalami kekerasan oleh pasangan nya. Tekanan-tekanan dari keluarga lah yang membungkam perempuan. Kekerasan dan pembunuhan terhadap pasangan terjadi ketika perempuan tidak mampu lagi memendam perlakuan buruk terhadapnya.[11]  Penjelasan mengenai faktor sosial-budaya ini juga terlihat dari kedua contoh kasus di atas, di mana dalam kedua kasus tersebut telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mana posisi perempuan disini menjadi korban kerekasan. Bukan hanya itu, telah dijelaskan bahwa kekerasan merupakan faktor utama penyebab dari tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh kedua perempuan di atas. Sehingga budaya kekerasan dalam masyarakat khususnya dalam keluarga sangat kuat pengaruhnya dalam konteks membawanya ke perilaku lebih parah hingga terjadinya pembunuhan.

A.2 Faktor Ekonomi

Penelitian oleh Grana (2001)[12] menemukan bahwa banyak perempuan yang telah membunuh pasangan laki-lakinya, hidup dalam garis kemiskinan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi perempuan menjadi faktor resiko penentu terjadinya pembunuhan terhadap pasangan laki-laki. Tekanan ekonomi seperti pendapatan rendah, banyaknya jumlah anak yang dimiliki, rendahnya tingkat pendidikan, dan tinggal di pemukiman padat penduduk serta menengah ke bawah juga meningkatkan resiko perempuan melakukan pembunuhan terhadap pasangannya.

Biasanya, karena faktor tekanan ekonomi tersebut di atas, perempuan dengan keuangan rendah merasa bahwa ia tidak memiliki cara lain kecuali membunuh – sebagai bentuk pelawanan terhadap pasangan yang telah melakukan kekerasan terhadapnya. Semakin baik kondisi ekonomi perempuan, maka peluang untuk meninggalkan pasangan abusivenya semakin besar, karena perempuan memperoleh akses untuk mendapatkan pengacara atau pindah ke tempat lain.[13]  Hal serupa juga dijelaskan oleh Wilczynski[14], bahwa kehadiran dari kemiskinan, utang dan pengangguran juga berperan penting dalam kehidupan perempuan. akhirnya, kondisi ekonomi ini berpengaruh pada psikis perempuan yang nantinya akan menentukan bagaimana perempuan mengambil suatu tindakan yang lebih parah hingga mengarahkan ke tindak pembunuhan.

A.3 Faktor Relasi Pelaku-Korban

Karakteristik korban pembunuhan yang dilakukan oleh perempuan baik dalam serial murder maupun pembunuhan tunggal adalah mereka yangs secara emosional dan atau fisik dekat dengan pelaku potensial misalnya adalah pasangan atau anak. Tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh perempuan adalah sebagai bentuk agresi ataupun reaksi atas opresi yang dialami perempuan di ranah privat. Meskipun secara sosial patriarki boleh jadi merupakan akar dari terjadinya kejahatan ini, gender juga menjadi alasan perempuan dalam menjustifikasi tindakan pembunuhan yang telah dilakukan oleh perempuan. Oleh sebab itu, perempuan yang melakukan kejahatan harus dipandang sebagai korban dari sistem yang ada, tetapi juga tidak dapat mengabaikan bahwa perempuan juga merupakan pelaku yang juga mungkin memviktimisasi atau melakukan kejahatan.[15]

Selain itu terdapat beberapa motivasi lainnya perempuan terlibat dalam kekerasan dan pembunuhan, antara lain:

  • Pembelaan Diri (Self Defense).  Studi yang dilakukan oleh Swan & Snow (2003)[16] menunjukkan bahwa 36% responden perempuan menyatakan alasan melakukan kekerasan dan pembunuhan sebagai bentuk pembelaan diri dibandingkan responden laki laki (18%).
  • Rasa Takut (Fear). Dalam studi yang dilakukan oleh Archer (2000)[17] menemukan bahwa perempuan pelaku kekerasan dan pembunuhan memiliki rasa takut berlebih akibat sering mengalami kekerasan fisik maupun psikis yang dilakukan oleh pasangannya.
  • Membela Anak (Defense of Children). Dalam studi yang dilakukan oleh Das Gupta (2000)[18] ditemukan bahwa sekitar 30% hingga 60% anak yang ibunya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga – juga mengalami KDRT. Anak yang hidup dalam lingkungan keluarga dengan kekerasan beresiko 12 hingga 14 kali lebih rentan menjadi korban kekerasan seksual oleh anggota keluarga. Dampak fisik maupun psikis dari KDRT inilah yang membuat seorang ibu menyikapi secara agresif pasangannya yang melakukan kekerasan. Hingga terjadi pembunuhan.
  • Balas Dendam (Retribution). Studi oleh Swan & Snow (2003)[19] menunjukkan kecenderungan perempuan melakukan kekerasan dan pembunuhan sebagai bentuk balas dendam atas perlakuan pasangannya yang telah berlangsung lama, misalnya perselingkuhan, serangan kekerasan fisik, psikis dan seksual. Kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan perempuan dianggap sebagai bentuk hukuman yang setimpal bagi perbuatan pasangannya.

 

A.4 Faktor Internal: Trauma Masa Kecil

sexualabusetrauma

Masih dalam penelitian oleh Swan & Snow (2003)[20] serta diperkuat dengan penelitian oleh Leisring dkk (2003)[21] menunjukkan bahwa 35% respon perempuan pelaku kekerasan dan pembunuhan pernah mengalami kekerasan fisik di masa kecil, 37% mengalami kekerasan emosional, dan 35% lainnya mengalami kekerasan seksual. Pengalaman dipukuli dan dikasari secara verbal kemudian menjadi trauma perempuan tersebut saat dewasa. Ketika ia disakiti oleh pasangannya, trauma ini dapat berubah menjadi bentuk perlawanan agresi terhadap pasangan yang menyerangnya

Kerangka Teoritis

C.1 Male sexual proprietariness theory[22]

Teori ini merupakan teori evolusioner yang menjelaskan mengapa laki-laki membunuh pasangan mereka. Laki-laki membunuh pasangan karena dorongan kecemburuan dan perasaan ketidakpatuhan pasangan perempuan, atau upaya perempuan mengakhiri hubungan. Rasa keecemburuan ini dikaitkan dengan karakteristik jenis kelamin laki-laki. Shakelford menyimpulkan teori ini bahwa “laki-laki yang mengetahui hubungannya tidak stabil seringkali mengambil tindakan drastis untuk memastikan hubungan tetap berlanjut, atau perempuan tidak memiliki hubungan dengan laki-laki lain”. Laki-laki pelaku IPH menunjukan sifat kepemilikan, kecemburuan, dan penolakan sebagai motif tindakan. Studi Liem dan Robert menunjukkan 42% dari pelaku laki-laki memiliki motivasi dari amarah sifat narsistik (narcisstic rage) dimana mereka melindungi harga diri yang dianggap dilukai ketika pasangan perempuannya memperlakukan dengan “tidak baik” atau meninggalkannya. Ketakutan akan ditinggalkan merupakan motif umum kedua dimana pelaku merasakan hubungan simbiotik dengan korban, dimana apabila hubungan berakhir maka pelaku akan kehilangan sebagian dirinya. Male entitlement adalah konstruksi budaya atau sosial.

C.2 Self Defense Theory[23]

Felson dan Messner melaporkan bahwa laki-laki yang dibunuh oleh pasangannya cenderung memiliki catatan kekerasan diandingkan dengan laki-laki yang dibunuh pada kondisi lainnya. Perempuan 19 kali lebih mungkin melakukan IPH atas dasar pembelaan diri dibanding laki-laki. Perempuan yang menjadi pelaku IPH pada umumnya mengalami viktimisasi atas kekerasan serius yang dilakukan oleh laki-laki, yang kemudian dibunuh oleh perempuan tersebut. Laki-laki yang menjadi korban IPH dengan pelaku perempuan 3 kali lebih banyak melakukan kekerasan domestik dibandingkan dengan perempuan yang menjadi korban IPH. Banyak dari korban laki-laki berada dalam masa percobaan ataupun berada dalam masa penahanan. 5% dari perempuan korban IPH berada dalam kondisi hamil. Burch dan Gallop menemukan bahwa laki-laki yang melakukan kejahatan saat pasangannya hamil menunjukan tingkat kecemburuan yang tinggi dan frekuensi serta tingkat kekerasan parah yang naik selama masa kandungan dari pasangannya.

Dari 12 kasus IPH yang dilakukan oleh perempuan sebagai pelaku, 5 diantaranya dilakukan atas dasar pembelaan diri. Berbagai kasus ini dilihat berdasarkan 3 klasifikasi, yaitu pertahanan diri, proxy/retaliation atau  pembalasan, atau rasa kepemilikan seksual (sexual proprietariness). Terdapat pengkategorian senjata dalam kasus ini, yaitu 8 kasus IPH menggunakan senjata api sebagai alat pembunuhan dimana 6 diantaranya merupakan senjata api milik korban (pasangan laki-laki), penggunaan pisau pada satu kasus, dan satu kasus yang menggunakan telepon sebagai alat.

Kasus IPH sebagai pembelaan diri menunjukan viktimisasi yang dialami perempuan dan indikasi IPA (Intimate Partner Abuse) atau kekerasan yang dilakukan pasangan. Dari kasus yang terklasifikasi, secara umum pembunuhan diawali oleh konflik, provokasi bahkan teror oleh laki-laki korban kepada pasangannya. Terdapat kasus dimana perempuan pelaku kemudian membunuh dirinya sendiri setelah membunuh korban.

C.3 Battered Woman Syndrome[24]

battered-woman

Diperkirakan sebanyak 3-4 juta perempuan tiap tahun menjadi korban KDRT oleh laki-laki dalam relasi intim, dan hal ini terus meningkat dari waktu ke waktu (Centers for Disease Control and Prevention, 2003; Russo, Koss, & Goodman, 1995). Statistik penegak hukum menunjukkan bahwa lebih dari 1000 perempuan membunuh suami atau pacar mereka di Amerika Serikat. Pembunuhan kepada pelaku biasanya terjadi setelah seorang perempuan telah mengalami sejumlah penghinaan , termasuk ancaman, serangan fisik yang mengakibatkan luka berat, pemaksaan kegiatan seksual yang  tidak diinginkan. Hatcer (2003) telah menyarankan bahwa perempuan yang membunuh untuk dilihat terlebih dahulu bahwa ia tidak bersalah. Beberapa ahli juga percaya bahwa perempuan yang babak belur membunuh pelaku karena berada pada kondisi yang terancam dan sebagai cara pertahanan diri mereka (misalnya, Ammons, 2003; Browne, 1987; Ewing, 1987, 1990).

Kasus-kasus seperti ini berada dalam komentar yang berkembang di ranah hukum karena kekhawatiran mengenai kekerasan terhadap perempuan. Ilmuwan sosial pun telah mencoba mendalami tentang faktor yang mempengaruhi penilaian dalam jenis kasus. Contohnya, terdapat pendapat bahwa ketidak adilan di dalam kasus perempuan korban KDRT karena persepsi yang salah dari juri  (lihat Schuller, 2003). Ewing dan Aubrey (1987). Ewing dan Aubrey (1987) menunjukkan bahwa banyak orang percaya (a) perempuan korban KDRT setidaknya sebagian telah bertanggung jawab atas kekerasan tersebut, (b) emosionalnya akan terganggu apabila ia tetap berada pada hubungan tersebut, (c) dia harus memutuskan untuk meninggalkan hubungan tersebut.

batteredwifesyndromecycle

Dodge dan Greene (1991) menemukan hakim yang kurang pegetahuan mengenai persepsi perempuan korban KDRT dalam suatu tindakan, hal ini yang berakibat hakim sulit memahami tindakan yang dilakukan perempuan tersebut. Kemudian para peneliti mencoba untuk melibatkan kesaksian para ahli sebagai kesempatan untuk mengajarkan para hakim mengenai penderitaan perempuan korban KDRT. (Blackman & Brickman, 1984). Kesaksian tersebut, bagaimanapun, tidak selalu efektif dalam mempengaruhi juri penilaian (lih Kasian et al., 1993, dengan Schuller & Hastings, 1996).

Hal ini menunjukkan orang-orang yang bekerja di ranah hukum telah menggunakan faktor hukum yang kurang relevan dalam memutuskan kasus bagi perempuan korban KDRT yang menjadi pelaku pembunuhan (misalnya, direncanakan terlebih dahulu, kesalahan umum). Konsep perempuan tidak diperhitungkan dalam penilaian mereka dalam kasus ini. Penelitian ini memberikan beberapa petunjuk untuk memeriksa lebih dalam faktor psikologis terhadap perempuan yang dianiaya. Hal ini dalam masyarakat memiliki penilaian yang berbeda ketika seorang perempuan yang terniaya kemudian membunuh pelaku setelah bertahun tahun mendapatkan perlakuan yang mengerikan dibandingkan dengan terdakwa menyewa orang lain untuk membunuh pelaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya etika di dalam hukum dan keprihatinan untuk memutuskan hukum dan penerapannya.

Analisa Kasus

Dari kedua kasus yang telah disebutkan, motif dari pembunuhan kasus AT (40) dan DK (46) dan adalah emosi dan dendam yang dirasakan oleh perempuan pelaku pembunuhan, yang dalam kasus ini bertindak sebagai otak dari kasus pembunuhan. Dalam artikel yang memuat berita kasus pertama menjelaskan bahwa perempuan pelaku merasa sakit hati karena permintaan cerainya ditolak oleh korban laki-laki. Terdapat keterangan bahwa perempuan pelaku mengalami viktimisasi yang terjadi terus menerus, yang dilakukan oleh korban.

Berdasarkan penelitian, terdapat 3 jenis IPH (Intimate Partner Homicide) yang dilakukan perempuan berdasarkan motifnya, yaitu atas dasar motif pembelaan diri (self defense), pembalasan dendam (Proxy/retaliation), dan rasa kepemilikan secara seksual (sexual proprietariness). Motif dari kasus pembunuhan dalam artikel sebagai contoh kasus dapat dikaitkan dengan jenis motif yang kedua, yaitu pembalasan dendam. Tipe kedua berdasarkan motif pembunuhan ini menjelaskan bahwa pelaku perempuan dengan pasangan laki-lakinya sama-sama bersifat ”combative” atau saling melawan, tetapi tetap ada catatan viktimisasi yang dialami perempuan pelaku. Viktimisasi atas kekerasan domestik ini memicu amarah dan kekerasan yang ditujukan kepada laki-laki korban yang telah melakukan viktimisasi tersebut.

Dari artikel berita, dapat disimpulkan bahwa amarah yang dirasakan oleh perempuan pelaku berasal dari pengalaman viktimisasi atas kekerasan domestik yang dilakukan oleh korban. Kekerasan domestik yang dilakukan oleh korban membuat perempuan pelaku mengalami penderitaan baik fisik ataupun psikis, bahkan mungkin keduanya. Viktimisasi yang dialami perempuan pelaku mendorong amarahnya kepada korban yang berujung pada pembunuhan. Kasus ini merupakan contoh nyata bahwa viktimisasi yang melukai perempuan pelaku merupakan faktor pendorong dirinya melakukan kejahatan. Kekerasan domestik merupakan sebuah kejahatan kekerasan kepada perempuan dan bukan hal yang tidak mungkin bagi perempuan yang mengalami viktimisasi untuk melakukan kejahatan.

 Jika Grana (2001) menemukan bahwa banyak perempuan yang telah membunuh pasangan laki-lakinya, hidup dalam garis kemiskinan, berbeda dengan realitas kejahatan pada kasus AT (40).  AT tidak membunuh suami oleh karena berada dalam kondisi kekurangan daya finansial atau ekonomi, melainkan diduga untuk menguasai harta sang suami. Di sisi lain, memang perempuan pelaku memang melakukan tindakan tersebut terhadap suami karena seringkali menerima tindakan kekerasan dari suami semasa hidupnya. Dengan demkian, hipotesis bahwa kejahatan adalah karena faktor kemiskinan pada kasus ini menjadi tidak terbukti.

Modus pembunuhan yang dilakukan oleh AT (40 tahun) dilakukan dengan menyewa 3 orang eksekutor yaitu pembunuh bayaran dengan upah yang tidak sedikit yakni 40 juta. Dengan demikian, faktor kemiskinan dalam kasus ini tidak dapat menjadi faktor pemicu perempuan pelaku melakukan pembunuhan. Kemungkinan besar kondisi ekonomi keluarga tersebut berada pada level menengah ke atas dinilai dari tingginya bayaran yang diberikan kepada ketiga eksekutor yang berarti bahwa perempuan pelaku yang adalah otak pembunuhan berencana suami memiliki kapasitas dan kemampuan ekonomi yang kuat sebagai modal dalam melancarkan serangan baliknya atas tindak kekerasan atau viktimisasi yang lebih dulu telah dialami oleh perempuan pelaku serta tidak dipenuhinya permintaan cerai oleh sang suami yang adalah korban. Sisi lain dari kasus ini juga menyatakan bahwa semakin baik kondisi ekonomi perempuan, maka peluang untuk meninggalkan pasangan abusivenya semakin besar, karena perempuan memperoleh akses untuk mendapatkan pengacara atau pindah ke tempat lain dan hal ini berlaku pada kasus yang terjadi pada Mei 2016 ini.

Sedangkan pada kasus DK (46), faktor ekonomi dinilai sebagai pemicu terjadinya pembunuhan yang ia lakukan terhadap suaminya. Selain faktor ekonomi, pengalaman viktimisasi yang dirasakan pelaku berupa penganiayaan sejak awal pernikahan pun melatarbelakangi pelaku melakukan pembunuhan.

Teori Sindrom Perempuan Teraniaya (Battered Women Syndrome) pun dapat digunakan untuk menganalisis kedua kasus ini. Berdasarakan uraian sebelumnya, sangat jelas bahwa para perempuan pelaku dalam kedua kasus pembunuhan ini pernah mengalami viktimisasi dalam relasi intim yang dilakukan oleh korban, yaitu berupa penganiayaan, kekerasan fisik maupun psikis.

Kesimpulan

Dahulu perempuan luput dari perhatian mengenai keterkaitannya dengan kejahatan-kejahatan konvensional. Pada saat ini telah terjadi pergeseran, dimana perempuan dapat juga melakukan kejahatan konvesional yang dilakukan seperti laki-laki yaitu pembunuhan. Studi menunjukkan laki-laki yang menjadi korban pembunuhan dengan perempuan sebagai pelaku 7 kali lebih banyak melakukan kekerasan domestik dan 3 kali lebih sering ditahan atas kekerasan domestik, dibandingkan perempuan yang dibunuh oleh laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan laki-laki korban merupakan reaksi atas tindak kekerasan yang lebih dahulu dialami oleh perempuan pelaku. Faktor-faktor perempuan melakukan kejahatan tidak atas dasar motif dari dirinya sendiri namun juga didukung oleh motif lain seperti faktor sosial-budaya yang ada dalam masyarakat yang memegang sistem patriarki, ada pula faktor ekonomi, motivasi dendam dari dalam diri, dan trauma masa kecil.

Rekomendasi

Penanganan hukum bagi perempuan pelaku pembunuhan sangat perlu memperhatikan faktor-faktor pemicu dilakukannya pembunuhan tersebut, diantaranya faktor psikis, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, perlindungn hukum bagi para tersangka, khususnya untuk kasus pidana dan mereka yang tidak mampu, hendaknya lebih di perhatikan. Perlindungan hukum berarti melindungi hak setiap orang untuk mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama oleh hukum dan undang- undang, oleh karena itu untuk setiap pelanggaran hukum yang dituduhkan padanya serta dampak yang diderita olehnya ia berhak pula untuk mendapat perlindungan dari hukum yang diperlukan sesuai dengan asas hukum.

 

Sheila R.J

Referensi

[1] Abbot dan Wallace. (1990). An Introduction to Sociology: Feminist Perspective. London: Routledge. 

[2] Sue Titus Reid. (1982). Crime and Criminology. New York: Holt, Rinehart and Winston. Hlm.60

[3] Mulyana Kusumah. (1982). Analisa Kriminologi tentang Kejahatan Kekerasan. Jakarta: Ghalia Indonesia. 

[4] Ibid,.

[5] M. Hakimi, Hayati, E.N., Marlinawati, U.V., Winkvist, A., & Ellsberg, M.C. (2001). Membisu Demi Harmoni : Kekerasan Terhadap Isteri dan Kesehatan Perempuan di Jawa Tengah, Indonesia. Yogyakarta : LPKGM-FK-UGM, Rifka Annisa Women’s Crisis Center, Umea University, & Women’s Health Exchange.

[6] Nancy C. Jurik dan Russ Winn. (1990). Gender and Homicide : A Comparison of Men and Woman Who Kill. USA : Springer Publishing Company.

[7] Erlangga Djumena, Permintaan Cerai Tak Dikabulkan, Istri Bunuh Suami, diakses dari http://regional.kompas. com/read/2016/05/19/19530061/permintaan.cerai.tak.dikabulkan.istri.bunuh.suami  

[8] http://www.merdeka.com/peristiwa/darkem-bunuh-suami-pakai-martil-karena-sering-dianiaya.html

[9] J. Dearden & Jones, W. (2008). Homicide in Australia: 2006-2007 National Homicide Monitoring Program (NHMP) Annual Report. AIC Reports: Monitoring Reports. Canberra: Australian Institute of Criminology.

[10] Neil Websdale and Byron Johnson. “An Ethnostatistical Comparison of the Forms and Levels of Woman Battering in Urban and Rural Areas of Kentucky” dalam Criminal Justice Review 23(2), 1998. pp. 161-96.

[11] Logan, T. K., Walker, R., Jordan, C. E., & Leukefeld, C. G. (2006). Women and victimization: Contributing factors, interventions, and implications. Washington, DC: American Psychological Association.

[12] S. J. Grana. “Sociostructural considerations of domestic femicide” dalam Journal of Family Violence, 16(4), 2001, pp.421-435.

[13]  C.R. Block. (2000). Chicago Women’s Health Risk Study: A Risk Of Serious Injury Or Death In Intimate Violence: A Collaborative Research Project. Washington, DC: U.S. Department of Justice.

[14] Hannah Scott and Katie Fleming.  (2014). The Female Family Annihilator: An Exploratory Study. Oshawa; University of Ontario Institute of Technology. 

[15] Amanda L Farrel, dkk. Lethal Ladies : Revisiting What We Know About Female Serial Murderers dalam Homicide Studies, Vol.15, No.3, 2011. pp. 228-252.

[16] S. C. Swan & Snow, D. L. “Behavioral and psychological differences among abused women who use violence in intimate relationships” dalam Violence Against Women, 9,  2003. pp. 75-109.

[17] J. Archer. “Sex differences in aggression between heterosexual partners: A meta-analytic review.” dalam Psychological Bulletin, 126, 2000. pp.651-680.

[18] S. D. Dasgupta, (1999). Just like men? A critical view of violence by women dalam  M. F. Shepard & E. L. Pence (Eds.), Coordinating community responses to domestic violence: Lessons from Duluth and beyond. Thousand Oaks, CA: Sage.

[19] S. C. Swan & Snow, D. L. “Behavioral and psychological differences among abused women who use violence in intimate relationships” dalam Violence Against Women, 9,  2003. pp. 75-109.

[20] Ibid,.

[21] P. A. Leisring,   Dowd, L., & Rosenbaum, A. “Treatment of partner aggressive women” dalam Journal of Aggression, Maltreatment, and Trauma, 7, 2003. pp.257-277.

[22] Joanne Belknap dkk. “Types of Intimate Partner Homicides Committed by Women: Self Defense, Proxy/ retaliation, and Sexual Proprietariness” dalam Homicide Studies 16(4), 2012. pp. 359–379

[23] Ibid,.

[24] Matthew T. Huss et.al. “Battered Women Who Kill Their Abusers: An Examination of Commonsense Notions, Cognitions, and Judgments” dalam Journal of Interpersonal Violence, Volume 21 Number 8, August 2006. pp.1063-1080

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s