1 Tahun Kasus Kematian Akseyna

30 Maret 2015 tahun lalu, kita sempat dihebohkan oleh pemberitaan di media mengenai kematian misterius yang dialami oleh seorang mahasiswa Universitas Indonesia, seorang teman kita, bernama Akseyna Ahad Dori. Namun, seiring berjalannya waktu, pemberitaan oleh media tidak seheboh sebelumnya. Padahal hingga kini kasus tersebut belum juga terpecahkan. Bahkan dalam menetapkan apakah kematian tersebut merupakan bunuh diri atau pembunuhan, pihak kepolisian membutuhkan waktu selama dua bulan. Saya meyakini bahwa kasus Aksyena ini bisa dikatakan sebagai kasus pembunuhan yang tidak biasa.

Pihak kepolisian memberikan pernyataan melalui media bahwa mereka berupaya untuk tidak mencurigai pihak mana pun, yang justru terkesan bahwa kasus ini dimungkinkan masih memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. Kinerja polisi mungkin tidak harus saya ragukan jika benar pembunuhan tersebut dilakukan oleh tangan-tangan profesional yang hanya dapat terungkap hingga level eksekutor. Namun dalam pemberitaan yang ada, saya tidak melihat adanya indikasi yang menyatakan dengan jelas bahwa kasus ini setara dengan kasus pembunuhan yang menimpa Munir beberapa tahun silam. Dugaan mengenai tersangka yang muncul dari pihak keluarga dan para kriminolog UI pun terkesan tidak diperkuat oleh pihak kepolisian yang menimbulkan pertanyaan apakah benar bahwa pelaku pembunuhan bukanlah orang yang biasa? 

Akseyna

Banyak hal yang memicu saya untuk bertanya mengapa kasus ini bukan kasus yang sederhana. Bahkan dari lamanya waktu yang sudah berjalan sejak awal dilaporkannya kasus ini dapat menjadi pertanyaan yang fundamental. Mengapa polisi kok sepertinya sulit untuk bergerak cepat dalam mengungkapkan kebenaran kasus ini? Membuat saya serta merta menyimpulkan bahwa ada hal yang mungkin saja mengganggu atau menghalangi jalannya penyelidikan. Polisi mungkin tidak akan menggunakan waktu selama ini jika motif pembunuhan yang mereka selidiki hanyalah sebatas konflik asmara seperti yang dikatakan oleh keluarga korban. Terlebih lagi, saya berasumsi, bahwa profesi yang dijalankan Ayah korban mungkin dapat menjadi alasan lain terkait motif pembunuhan tersebut.

Baik pihak keluarga dan para kriminolog UI telah memunculkan banyak hipotesis terkait kasus tersebut. Setiap detil dilontarkan mengenai modus dan motif pembunuhan yang dilakukan pelaku. Keluarga sendiri menduga bahwa pelaku mungkin berasal dari orang terdekat korban, namun polisi justru menyangkal dugaan tersebut dengan mengatakan kepada media agar tidak menyajikan pemberitaan yang dapat menyudutkan orang-orang terdekat Akseyna. Karenanya, hipotesis dari kedua pihak sebelumnya terasa melempem.

Lantas siapa yang dapat dipercaya di sini? Jika memang bertindak hati-hati adalah yang harus dilakukan polisi, maka apakah polisi tengah menghadapi situasi yang sulit? Belum ada kepastian. Apakah kasus ini akan bernasib sama dengan kasus-kasus yang ga terselesaikan yang pernah terjadi di masa lalu? Dan mungkinkan pihak yang berwajib hanya akan tinggal diam dan membiarkan kasus ini hingga memasuki masa kadaluarsa?

Beberapa Kejanggalan Dalam Kasus Kematian Akseyna 

Kedalaman Danau UI yang Ternyata Dangkal

Jenazah Akseyna ditemukan di danau Kenanga UI yang termasuk dalam jenis danau eutropik, yaitu danau dangkal dan kaya akan beberapa jenis ikan-ikan air tawar karena terdapat banyak fitoplankton yang sangat produktif. Ciri-ciri danau eutropik adalah air berwarna keruh, terdapat beragam organisme dan oksigen terdapat di daerah profundal.1 Danau Kenanga UI memiliki luas 28.000m2 dengan kedalaman hanya 1,65 meter dari permukaan. Hal ini lah yang membuat Danau Kenanga menjadi tempat yang paling banyak dipilih oleh para pemancing ikan.2

kenanga1

Berdasarkan fakta diatas, sangat tidak logis jika Akseyna menenggelamkan dirinya secara sengaja.

Hasil Autopsi Berupa Luka Lebam dan Kondisi Paru-Paru

Berdasarkan hasil autopsi Rumah Sakit Polri Kramat Jati pada jenazah Akseyna ditemukan bekas luka lebam akibat pukulan benda tumpul. Tanda ini yang menjadi petunjuk bahwa korban mengalami tindak kekerasan sebelum tenggelam.3

Tas Ransel Berisi Batu

Saat ditemukan, jenazah Akseyna masih mengenakan pakaian lengkap serta tas ransel. Setelah diperiksa, ternyata tas tersebut berisi enam bongkahan batu konblok.Hal ini menguatkan dugaan bahwa korban ditenggelamkan. 4

Sepatu Robek

Saat jenazah Akseyna ditemukan, terdapat tanda sobekan di bagian tumit kanan dan kiri pada sepatu yang dikenakannya. Hal ini lah yang meyakinkan polisi bahwa korban diseret terlebih dulu sebelum ditenggelamkan ke dalam danau. 5

Selain itu, ukuran sepatu yang dikenakan korban saat ditemukan adalah nomor 43 yang sebenarnya menurut pihak keluarga, bukan nomor sepatu korban. 6

Surat di Kamar Akseyna

Beberapa media memberitakan hal yang berbeda-beda terkait penemuan surat wasiat korban. Padahal, surat wasiat ini merupakan kunci yang meyakinkan kepolisian bahwa korban bunuh diri.

  • Versi 1 Kutipan dari detik.com 7:

Kertas pesan ditempelkan di dinding kamar dengan tulisan berbahasa Inggris ‘will not return for please don’t search for existence my apologies for everything eternally’. Pesan itu ditemukan teman kos Akseyna, yang bernama Jibril pada Minggu (29/3) malam.

Jibril diminta orangtua Akseyna untuk mengecek kamar anaknya yang ada di Wisma Widya 208, Jl Kabel Tegangan Tinggi, Beji, Depok. Penemuan Jibril langsung dilaporkan ke polisi.

Kamar Akseyna berada di lantai 2 kosan itu. Kamarnya sedikit berantakan. Menurut penjaga kos, Edi Sukardi, kamar kos Akseyna dalam keadaan terkunci saat ditinggalkan. “Pintunya dikunci, terus pas polisi ke sini baru dibuka pakai kunci cadangan,” kata Edi Sukardi, Selasa (31/3/2015).

  • Versi 2: Surat Wasiat Ditemukan oleh Jibril dan penjaga kos 8

Kutipan dari tempo:

TEMPO.CO, Jakarta – Pintu kamar ukuran 3 x 4 meter itu terganjal kain gorden. Kain sepanjang satu meter tersebut difungsikan sebagai pintu karena pintu kamar bernomor 208 itu rusak. Di kamar inilah, Akseyna Ahad Dori, 18 tahun, mahasiswa jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tinggal.

Meski kelihatan bermasalah, ia tak curiga jika Ace akan mengakhiri hidupnya. Sebab, pada Jumat, 29 Maret 2015, teman Ace sesama jurusan, Jibril, datang ke kamar Ace. Jibril, ujar dia, adalah salah satu teman dekat Ace. Dia datang seorang diri dan langsung ke kamar Ace. Ketika itu, Jibril langsung pulang lagi karena Ace tidak ditemukan di dalam kamar.

(Perhatikan lagi, Jibril masuk ke dalam kamar di hari Jumat?)

Jibril kemudian datang lagi Minggu sore, 29 Maret 2015. Karena tak ada sahutan di dalam kamar, dia dan Edi membuka kamar Ace dengan kunci cadangan. “Pas dibuka kamar berantakan. Laptop, dompet, dan handphone ternyata ada di dalam kamar,” ujar Edi. Kedua alat elektronik itu dalam kondisi mati.

(Ternyata pintu kamar tidak rusak, ada kunci cadangannya. Berarti saat hari Jumat itu, Jibril masuk menggunakan apa?)

Edi pun menyuruh Jibril membereskan kamar tersebut. Dia juga meminta Jibril untuk menginap di kamar Ace Minggu malamnya. Sebelum keluar, Edi ditunjukkan oleh Jibril kertas bertulisan bahasa Inggris. “Jibril yang melihatkan tulisan itu ke saya. Tulisan itu menempel ditempelkan di paku yang tertancap di dinding kamar,” katanya.

Surat

  • Versi 3: Surat wasiat diberikan oleh ayah korban ke polisi 9

(Versi ini yang paling bisa dipercaya, bisa disimak langsung dari wawancara ayah korban di Youtube).

Sang ayah yang berpangkat kolonel merupakan dosen di Angkatan Udara, beliau mendapatkan surat wasiat tersebut dari seseorang yang mengaku teman Ace, tapi tidak dikenali oleh sang ayah.

Dari Polsek Beji, dia (Kolonel Sus Mardoto-red) mendatangi kampus UI menemui dosen pembimbing Ace pada pukul 16.00 WIB. Saat itu, ada dua mahasiswa yang ikut menemuinya di Gedung Biologi UI.

Salah satunya menyodorkan surat bertuliskan tangan yang selama ini banyak beredar diduga sebagai surat wasiat Ace, yang isinya meminta agar dirinya tidak dicari. Teman Ace tersebut mengaku mendapatkan surat itu di dalam kamar kos Ace.

Surat wasiat pemberian teman Ace kemudian ditunjukkan Mardoto kepada polisi. “Jadi saya membantah kalau surat itu ditemukan di kamar Ace. Surat itu berasal dari orang lain,” imbuh Mardoto.

Sementara itu, grafolog Deborah Dewi yang dimintai bentuan menganalisis tulisan di surat wasiat Akseyna menyatakan bahwa surat yang ditemukan di kamar kos Akseyna adalah ditulis oleh dua orang. Satu orang diantaranya adalah Akseyna sendiri, dan satu orang lainnya masih diselidiki polisi. 10

Keberadaan Jibril dan 5 Orang Teman Di Kamar Akseyna

Dikutip dari Tempo.com 11

Setelah empat hari Akseyna tidak pulang ke Wisma Widya, suami Maryamah meminta Jibril datang membereskan kamar Akseyna pada Minggu, 29 Maret. Jibril datang sendiri setelah asar ke Wisma Widya. Nah, saat sore itu, Jibril menemukan secarik kertas dengan tulisan berbahasa Inggris menempel pada tembok kamar Akseyna.

Jibril pun langsung menunjukkan surat itu kepada Maryamah dan mengatakan ini seperti surat perpisahan. “Kata Jibril, ini surat perpisahan. Intinya, Ace minta jangan dicari. Sebab, yang masuk Jibril dulu baru aku,” tutur Maryamah, mengingat kejadian saat itu.

Senin sore, persis saat identitas Ace diketahui polisi, rekan Akseyna bernama Pras datang disusul teman yang lain dan meminta dibukakan kamar Akseyna. “Lima anak ada pada ke sini. Pegang laptop pada mati,” ucapnya.

Maryamah juga tidak tahu bahwa pada Senin pagi atau sore surat itu dicabut dari tembok kamar Akseyna. Setelah teman Akseyna datang, baru banyak polisi yang mendatangi kamar Akseyna di Wisma Widya.

 

Analisis Kasus

Menurut saya, jika dianalisis menggunakan pendekatan psikologi kriminal, pembunuh Akseyna berasal dari lingkungan sekitar UI. Ini karena Akseyna sebagai seorang introvert, mempunyai mental map aktivitas yang tidak luas. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Eysenk (1970). Menurut Eysenk, terdapat keterkaitan antara preferensi lokasi untuk aktivitas dengan tipe kepribadian. Individu dengan tipe kepribadian ekstrovert, cenderung menyukai aktivitas di luar ruangan dengan jangkauan lokasi yang luas serta bergerak cepat dari lokasi satu ke lokasi lainnya. Lain hal nya dengan karakter introvert, yang lebih menyukai aktivitas di dalam ruangan, temoat-tempat sunyi, dan sedikit melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya (jangkauan lokasi aktivitas sempit).12

Gould (1975) juga berpendapat bahwa karakter individu dapat terbagi menjadi dua kategori jika dikaitkan dengan pemilihan lingkungan tempat dia tinggal dan beraktivitas, yaitu space searchers dan space sitters. Space searchers adalah individu yang aktif, penuh rasa ingin tahu dan cenderung mengeksplor tempat-tempat di sekitarnya untuk memenuhi rasa ingin tahunya serta menjalin pertemanan dengan banyak orang. Sedangkan space sitters cenderung merespon suasana lingkungan sekitarnya secara pasif, ia akan secara konsisten mengunjungi suatu lokasi yang ia anggap nyaman.13 

Berdasarkan uraian di atas, Akseyna yang memiliki karakter introvert adalah mahasiswa yang kesehariannya tidak berada jauh dari UI dan temannya tidak banyak. Mental map Akseyna hanya kos, kampus, masjid. Orang di sekitar Akseyna pun tidak banyak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembunuhnya tidak jauh dari mereka.

Mengenai pemilihan lokasi pembunuhan, mengapa pembunuh memilih membuang Akseyna di Danau Kenanga UI? Padahal ada banyak danau lain di Kampus UI dan beberapa danau kecil tak bernama.

Dari lima danau itu hanya tiga danau yang letaknya berdekatan dengan Gedung Program Studi Biologi Fakultas MIPA UI, yakni Danau Kenanga, Danau Aghatis, dan sebuah danau kecil tak bernama. Akseyna terakhir kali terlihat memang masih berada di Kampusnya di Fakultas MIPA pukul 10.00 pagi di hari Ia diduga tewas pada Rabu (25/3/2015). Dua rekan seangkatan Akseyna yang melihatnya dan keterangan ini sudah disampaikan ke polisi.

Menurut saya, Danau Kenanga adalah tempat paling ideal. Baik untuk membuat kejadian seolah-olah bunuh diri ataupun seolah-olah pembunuhan tidak mungkin dilakukan di danau tersebut. Karena jika dibandingkan dengan dua danau lainnya yaitu Danau Agathis, posisi masuk bisa melalui pinggir jalan yang berlampu terang di malam hari. Sama dengan danau kecil tak bernama. Lokasinya dekat dengan pintu masuk depan Fakultas MIPA. Dan lokasinya di pinggir jalan. Jika Danau Agathis dan danau tanpa naman yang dipilih sebagai lokasi pembuangan korban, maka dugaan pembunuhan menjadi lebih mudah.

Kemungkinan besar Akseyna dibuat tak sadar di lokasi sekitar Danau Kenanga sebelum ditenggelamkan. Batu bata berongga seperti yang ada di tas Akseyna banyak terdapat di Masjid UI. Dapat dikatakan bahwa kemungkinan Akseyna dibunuh usai melakukan sesuatu di Masjid UI, tepatnya dilakukan pada tengah malam. Setelah dibunuh, barulah pelaku memasukkan batu berongga itu ke tas Akseyna, kemudian menyeretnya ke lokasi dimana jenazah Akseyna ditemukan mengambang.

Masjid UI terletak di pinggir Danau Kenanga UI yang posisinya berseberangan dengan lokasi jenazah Akseyna dibunuh. Dari Masjid UI, untuk sampai ke lokasi jenazah Akseyna ditemukan mengambang bisa melalui dua jalur berupa jalan setapak yang seluruhnya harus mengitari Danau Kenanga UI.

UI

  • Jalur pertama, yakni melewati jalan setapak kecil yang berputar melintas di depan Perpustakaan baru UI. Setelah itu masih harus melewati Gedung Bank. Lalu melintas di belakang Kantor Rektorat. Baru sampai di lokasi Akseyna ditemukan. Sepengetahuan saya, setiap malam di belakang Gedung Rektorat dan Gedung Bank selalu ada petugas keamanan yang berjaga dengan pola waktu sebanyak 3 kali dalam jeda 1 jam harus berkeliling mengitari dan mengawasi sekitar Gedung Rektorat, termasuk Danau UI. Namun yang perlu diingat Rabu malam itu hujan terus turun di Kampus UI.

 

  • Jalur kedua untuk mencapai lokasi jenazah Akseyna ditemukan ada 2 pilihan: Pertama bisa melewati jalan besar dan kedua bisa pula melewati pinggir danau. Kedua jalan itu arahnya berlawanan dengan arah jalur pertama. Apabila memilih melewati pinggir danau, maka harus melintas di depan deretan bangunan yang dipakai untuk mesin ATM dan setiap malam selalu ada petugas keamanan berjaga di sana. Setelah melewati dereta ATM itu baru berkelok dan menembus pinggir Gedung Balairung UI lalu tiba di lokasi Akseyna ditemukan. Sementara jika memilih menyusuri pinggir danau, maka harus melewati lokasi pelataran tanah kosong yang kerap dipakai deretan pemancing, baru bisa berjalan di pinggiran danau yang sepi di malam hari. Jalan menyusuri danau itu berbatasan dengan bangunan rusak dan deretan pohon. Jalan ini benar-benar tersembunyi. Baru setelah itu melalui jalan berkelok di belakang Balairung UI dan tiba di lokasi jenazah Akseyna ditemukan mengambang Namun, menurut para pemancing, setiap malam sampai dengan subuh bahkan pagi hari selalu ada pemancing di lokasi pelataran tanah kosong. Kecuali apabila hujan turun, maka pemancing tidak datang.

Berdasarkan beberapa berita dan laporan cuaca BMKG pada Minggu (29 Maret 2015), waktu dimana Akseyna diduga tewas, berita dan laporan cuaca menyebut Jabodetabek berawan sejak pagi namun siang dan sore hari adanya intesitas hujan. Bahkan ada sumber yang mengatakan bajwa beberapa pintu air berstatus siaga pada sore harinya, termasuk Pintu Air Depok yang berstatus siaga 4 di hari diduga Akseyna tewas.

Jadi, sebenarnya jalur manakah yang paling masuk akal bagi pelaku untuk menyeret Akseyna?

Menurut saya, jalur kedua yang paling masuk akal. Pelaku kemungkinan memilih jalur yang berdekatan dengan bangunan rusak dan deretan pohon, karena saat itu hujan sedang turun dan tidak ada pemancing yang berada di sekitar lokasi. Kondisi gelap dan sepi ini mendukung lancarnya rencana pelaku. Yang perlu diperhatikan, aksi pembunuhan ini dilakukan oleh lebih dari satu orang. Mengapa? Karena dengan postur tubuh Akseyna yang cukup besar serta tinggi badan sekitar 170 cm, akan sangat sulit jika melumpuhkannya dilakukan hanya oleh satu orang. Selain itu, para pelaku kemungkinan tidak menggunakan kendaraan umum karena akan sangat mudah diketahui oleh petugas keamanan yang berjada di sekitar Gedung Rektorat dan Balairung.

Hal yang patut disayangkan adalah keberadaan Jibril dan lima orang teman di kamar Akseyna di hari saat jenazah Akseyna ditemukan yang mendahului kegiatan penyelidikan oleh pihak polisi yang baru dimulai sekitar pukul 18.30 (Senin, 30 Maret 2015). Karena sebenarnya, keberadaan mereka mungkin saja mempengaruhi keberadaan atau posisi barang bukti dan petunjuk kematian Akseyna.

Kesimpulan

Kasus pembunuhan ini sangat menarik untuk ditelusuri. Jika Akseyna dibunuh secara terencana, berarti pelaku sangat hebat dalam menentukan arah pembunuhan. Begitu juga sebaliknya, jika pembunuhan tidak direncanakan. Pelaku hebat sampai membuat dua arah penyelidikan ini. Dan jika pelakuknya berusia remaja, kemungkinan tersebut sangat kecil, karena remaja cenderung ceroboh dalam melakukan kejahatan Karena itu, polisi mudah sekali melakukan pengungkapan. Berbeda dengan kasus Akseyna. Ini direncanakan atau tidak, polisi masih bingung. Bila direncanakan, pelaku dapat dikatakan sangat pintar dalam memperhitungkan kondisi dan hal-hal pendukung keberhasilan rencananya.

Apapun langkah yang dilakukan polisi, gue berharap kasus ini segera diselesaikan dengan kebenaran yang pasti. Hukum dan keadilan harus tetap ditegakkan seperti bagaimana mestinya. Karena siapa lagi yang dapat kita andalkan dalam hal ini? Masyarakat mungkin dapat bertindak, namun tentunya tak memiliki wewenang yang sama seperti yang dimiliki oleh polisi.

Saya berharap, kasus ini harus tetap menjadi topik perbincangan di masyarakat. Kenapa? Karena kasus ini tidak boleh hilang ditelan bumi dan tak terselesaikan. Mengutip pernyataan kriminolog Amerika Bruce Arrigo dan Christopher William (2008) bahwa “kita semua memiliki apa yang disebut sebagai ‘tanggung jawab universal’ (universal responsibility) dalam penyelesaian kasus-kasus kejahatan. Semua pilihan dan tindakan kita, pasti memiliki konsekuensi tersendiri, sekalipun pilihan untuk tidak melakukan sesuatu.  Tidak membicarakan mengenai suatu kasus dan membiarkan nya terjadi, merupakan tindakan pembiaran yang disengaja. Sedangkan kontribusi dalam bentuk apapun, sekecil apapun, dapat menjadi pemicu efek jera baik secara psikologis maupun sosial.”14

Sheila R.J

Referensi

[1] Pengerukan Sedimentasi Lumpur Danau Kenanga UI 

[2] Dilarang Memncing! 

[3] Hasil Otopsi, Ada Luka Lebam Hasil Pukulan Benda Tumpul di Tubuh Akseyna 

[4] Dari Temuan Baru, Polisi Pastikan Mahasiswa UI Dibunuh 

[5] Polisi Temukan Fakta Baru dari Sepatu Akseyna 

[6] Polisi: Kenapa sepatu yang dipakai Akseyna tak sesuai kakinya? 

[7] Ini Kamar Kos Tempat Akseyna Meninggalkan Pesan Terakhir 

[8] Surat Wasiat Ditemukan oleh Jibril dan penjaga kos 

[9] Misteri Kematian Mahasiswa UI Ace: Kesaksian Penjaga Kos 

[10] Grafolog sebut surat di kamar kos Akseyna ditulis dua orang 

[11] Kasus Akseyna UI: Misteri Jibril dan 5 Orang di Kamar Ace  

[12] Eysenck, H.J. (1970). The structure of human personality. London: Methuen.

[13] Gould, P. (1975). Acquiring spatial information. Economic geography, 51, 87-99.

[14] Arrigo, Bruce .A and Christopher R. Williams. (2011). Ethics, Crime, and Criminal Justice. Prentince Hall

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s