Anti Kapitalisme = Anti Gadget, Anti-Transportasi, Gak Pakai Baju?

Sudah beberapa kali saya berhadapan dengan kawan-kawan yang salah paham mengenai anti-kapitalisme. Salah satu kawan nyeletuk…

“Kalau lu anti kapitalisme, kenapa lu punya handphone, punya laptop?”. Lalu saya balik nyeletuk “Yha lu salah paham tentang apa itu kapitalisme dan anti-kapitalisme. Kalau lu memahaminya sependek itu, sekalian aja gak usah pakai baju.” hehehe

Jelas salah paham dan masih dianut oleh mereka yang tidak mau paham. Seolah-olah memiliki laptop secara otomatis kontradiktif dengan anti-kapitalisme. Kenapa selalu laptop atau HP?

Kepemilikan barang dalam perspektif mbah Marx tergantung pada upah yang dalam definisi Mbah Marx adalah “cost of existence and propagation. Ini istilah yang tidak mudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, karena mbah Marx tidak memilih “cost of living” dengan makna sederhana yang berarti “biaya hidup” tetapi lebih kepada “cost of existence” yang meskipun arti harafiahnya “biaya untuk eksis” tapi sebenarnya lebih dari itu: “Biaya untuk hidup dalam lingkungan sosial tertentu.”

Continue reading

Marxisme = Anti Agama, Ateis?

Celetukan yang seringkali saya dengar kira-kira seperti ini: “Sheil, lu belajar dan menerapkan Marxisme gak takut jadi Ateis? Marx juga para penerusnya itu kan Anti Agama. Negara Komunis saja melarang agama.”

Eits. Tunggu dulu. Apa benar Marxisme dan turunannya (Marxisme-Leninisme, Marxisme-Leninisme-Maoisme) itu Anti-Agama dan Ateis? Apa benar negara Komunis melarang penduduknya untuk beragama? Mari saya jelaskeun ya.

Marxisme secara jelas memang tidak percaya pada solusi-solusi keagamaan dalam menyelesaikan ketidakadilan yang disebabkan oleh kapitalisme. Tapi ini tidak sama artinya dengan anti agama. Yang benar adalah Marxisme itu anti kelas. Anti penindasan yang dilakukan oleh kelas borjuis terhadap kelas proletar.

Dari beberapa kajian literatur yang saya pelajari, agama memiliki dua fungsi berbeda bagi masing-masing kelas: Bagi kelas borjuis, agama berfungsi sebagai alat manipulasi rakyat agar percaya bahwa ketidakadilan dan penindasan di bumi ini adalah kehendak dan hukum Tuhan, layaknya siang dan malam, panas dan dingin, baik dan buruk. Maka terimalah ketidakdilan itu, bekerjalah dengan sabar dan keras siapa tau nanti yang berada di kelas bawah akan naik, dan yang di atas akan turun kelas. Pasrah. Sebenarnya, ini lah yang dimaksud Mbah Karl Marx saat beliau ngomel dan berkata “Agama adalah candu masyarakat.” Beliau gemas melihat rakyat yang dibodohi sedemikian rupa sehingga rakyat tidak menyadari bahwa mereka sedang ditindas oleh kelas borjuis.

Sedangkan bagi kelas proletar (kelas pekerja), agama bermakna sebagai pembebasan (liberation). Para nabi, tidak hanya seorang pendakwah tapi juga seorang liberator (pembebas). Bagi kalangan proletar, agama menjadi mata air inspirasi yang tak pernah kering, bahwa sejak semula manusia diciptakan sama tapi, oleh proses sosial-politik-budaya-ekonomi, kesamaan itu dilupakan. Manusia kemudian menjadi terbelah-belah namun bukan oleh hukum Tuhan. Karena dalam Islam disebutkan, “semua orang di hadapan Allah adalah sama kecuali yang paling bertakwa.”

Continue reading

Negara Yang Dibeli dan Diperbudak Korporasi

Dalam bukunya “Indonesia Betrayed: How Development Fails”, Elizabeth Fuller Collins (2008) seorang akademisi dari Ohio University yang meneliti Indonesia menuliskan:

“Saya mempelajari bagaimana pembangunan telah digunakan untuk membenarkan kebijakan-kebijakan yang mengizinkan para pemegang kekuasaan politik bersekutu dengan kepentingan-kepentingan korporasi untuk melipatgandakan kekuasaan dan kekayaan mereka, sekaligus mengusir rakyat dari tanah mereka sehingga mereka terpaksa pergi ke kota-kota tempat mereka sekarang berusaha bertahan hidup dengan apa saja yang dapat mereka lakukan.” ~(Collins, 2008: 186) [1]

Itulah yang memang terjadi di Indonesia.. menjadi budak kapitalisme neoliberal, secara sukarela.

Silahkan garisbawahi term “Sukarela” disini. Karena memang pada kenyataannya, negara memiliki perannya sendiri demi melancarkan kebijakan neoliberalisme melalui perjanjian yang disepakati antara Indonesia sebagai negara berkembang dengan negara imperialis dalam berbagai program WTO, sebut saja General Agreements on Trade in Services  (GATS) yang berakibat pada liberalisasi 12 sektor jasa di Indonesia termasuk sektor pendidikan dan kesehatan; atau beberapa perjanjian perdagangan seperti Trade Related Investment Measures (TRIMs) dan Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights (TRIPs). Berdasarkan TRIPs & TRIMs perusahaan multinasional saat ini tidak hanya dapat menjadi pemegang paten penemuan – penemuan baru (invention), tetapi juga dimungkinkan dapat memegang hak intelektual terhadap produk yang tidak dikategorikan sebagai invensi seperti benih atau varietas unggul tanaman yang sangat penting bagi negara berkembang yang mayoritas merupakan negara pertanian. [2]

Liberalisasi dan globalisasi ekonomi merupakan konsekuensi dari dinamika internal kapitalisme yang bersifat ekspansif, yang kemudian menjadikan negara tidak lebih sebagai kendaraan pasifnya para imperialis. Panich & Gindin (2012: 82) dalam bukunya “The Making of Global Capitalism” menjelaskan dengan gamblang bahwa neoliberalisme justru tidak akan pernah sukses tanpa adanya peran negara yang besar dan kuat dalam memfasilitasi dan meregulasi berbagai bentuk kebijakan demi bekerjanya sistem ini di suatu negara. [3]

Continue reading

Perlawanan Itu Akan Terus Ada Selama Tanah Rakyat Masih Dirampas

lecehkan-hukum

Rakyat Indonesia kembali menyaksikan betapa buruknya pemerintahan Indonesia. Belum lama, pemerintah kembali mempertontonkan langkah anti rakyatnya kembali. Kali ini gilaran rakyat di Jakarta yang menjadi korbannya. Keputusan PTUN Jakarta yang menyatakan bahwa proyek reklamasi Teluk Jakarta melanggar hukum pun dikangkangi dan diinjak-injak oleh pemerintah melalu Menkomaritim, Luhut Binsar Panjaitan. Menkomaritim menyatakan untuk terus melanjutkan proyek reklamasi teluk Jakarta tanpa mempertimbangkan proses hukum dan terlebih penolakan dari rakyat.

Proyek reklamasi yang diperkirakan akan menelan biaya 400 trilyun rupiah ini, selain menyingkirkan kelompok nelayan dan mengganggu ekosistem pantai dan laut, proyek ini juga ditujukan sebagai sarana pendukung investasi dengan menyediakan pusat industri jasa dan lahan baru untuk berkembangnya bisnis. Tidak percaya? Coba saja tengok sejarah beberapa kasus reklamasi di Jakarta. Reklamasi pantai Pluit sepanjang 400 meter di awal tahun 80-an kemudian berubah menjadi pemukiman mewah bernama Pantai Mutiara. Atau sisi utara Ancol direklamasi pada tahun 1981 untuk menjadi pusat rekreasi yang sekarang kita kenal dengan Taman Ancol. Tahun 1991, kawasan hutan bakau Kapuk direklamasi dan akhirnya menjadi perumahan mewah Pantai Indah Kapuk. Tahun 1995 dilakukan kembali reklamasi untuk dijadikan zona industri yang disebut Kawasan Berikat Marunda. [1] 

Continue reading

Pemikiran Marx akan Revolusi dan Negara

Pemikiran awam melihat bahwa terdapat keterkaitan erat antara tindakan politik menggunakan kekerasan dengan Marxisme dan kaum Marxis. Seakan kaum Marxis menolak pemikiran moderat atau reformasi demi revolusi yang berlumuran darah dan penuh kekacauan. Segelintir pemberontak akan bangkit, menggulingkan negara dan memaksakan kehendaknya kepada mayoritas. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Ide dari sebuah revolusi biasanya membangkitkan gambaran kekerasan dan kekacauan. Dalam hal ini, revolusi dibandingkan dengan reformasi sosial yang secara awam dinilai sebagai proses yang damai, moderat dan bertahap. Padahal, dalam kenyataan nya, reformasi sosial sebagian besar adalah perlawanan palsu. Coba lihat kembali sejarah gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat yang jauh dari revolusioner, namun melibatkan banyak kematian, pemukulan, pembunuhan tanpa pengadilan dan represi brutal. Dalam kolonial yang mendominasi Amerika Latin pada abad ke-18 dan abad ke-19, setiap upaya reformasi liberal memicu kekerasan dan konflik sosial.

Bolshevik Rev

Revolusi Bolshevik, Rusia 1917 (sumber gambar: http://www.iwm.org.uk)

Sebaliknya, terdapat bukti bahwa pada beberapa revolusi, relatif berjalan dengan damai. Misalnya tidak banyak orang tewas dalam pemberontakan Dublin pada tahun 1916, dimana revolusi bertujuan menghasilkan kemerdekaan parsial untuk Irlandia. Atau sejarah revolusi Bolshevik tahun 1917 dimana pengambil-alihan titik kunci di Moskow dicapai tanpa adanya tembakan. Sangat menakjubkan melihat dukungan yang begitu kuat dari masyarakat umum kepada kaum pemberontak. Ketika sistem Soviet jatuh lebih dari tujuh puluh tahun kemudian, negeri yang memiliki sejarah dan konflik ini runtuh tanpa banyak terjadi pertumpahan darah dibandingkan pada saat Soviet berdiri. Memang benar bahwa perang sipil berdarah mengikuti langkah revolusi Bolshevik, namun hal ini terjadi karena tatanan sosial baru diserang secara brutal dari kekuatan sayap kanan serta para penyerbu asing. Pasukan Inggris dan Prancis turun mendukung pasukan kontrarevolusioner melawan kaum Bolshevik. (Eagleton 2011: 180) 

Continue reading

Marxisme dan Hak Asasi Manusia

Tiga Generasi Hak Asasi Manusia

Pemikiran tentang HAM terus berkembang mengikuti konteks sosial dunia yang terus berubah. Perkembangan ini secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam kategorisasi hak yang terkenal sebagai tiga generasi hak. Kategorisasi generasi ini seperti mengikuti slogan Revolusi Perancis yang terkenal, yaitu: kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Semangat generasi hak pertama, kebebasan, tercemin dalam hak-hak sipil dan politik (sipol). Adapun spirit generasi hak kedua, persamaan, tercemin di dalam hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Sementara roh generasi hak ketiga, persaudaraan, layaknya tampak pada hak-hak solidaritas dan kelompok. Bagian berikut menguraikan watak dan perbedaan ketiga generasi hak tersebut.

Generasi Hak Pertama

Hak-hak sipil dan politik (Sipol) disebut sebagai generasi hak pertama. Hak-hak dalam generasi ini di antaranya hak hidup, keutuhan jasmani, hak kebebasan bergerak, hak suaka dari penindasan, perlindungan terhadap hak milik, kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk berkumpul dan menyatakan pikiran, hak bebas dari penahanan dan penangkapan sewenang-wenang, hak bebas dari penyiksaan, hak bebas dari hukum yang berlaku surut, dan hak mendapatkan proses peradilan yang adil. Rumpun hak ini disebut juga hak negatif yang mensyaratkan tiadanya campur tangan negara di dalam perwujudan hak. Negara justru lebih rentan melakukan pelanggaran HAM jika bertindak aktif terkait hak-hak ini (Asplund 2008, Brown 2002).

Hak-hak Sipol berangkat dari pengalaman traumatik negara Barat atas terampasnya hak dan kebebasan pada masa kegelapan abad pertengahan dan tiga perang dunia abad 20. Namun demikian, konteks Dunia Ketiga yang merupakan negara-negara korban kolonialisme juga sangat mewarnai perumusan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP). Hak untuk menentukan nasib sendiri, misalnya, menjadi isu kontroversial pasca-DUHAM. Negara-negara Asia, Afrika, dan Arab gigih memperjuangkan isu ini dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Mereka berpandangan bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri merupakan prakondisi fundamental bagi semua pemenuhan HAM dan kolonialisme dianggap sebagai bentuk pelanggaran HAM (Burke 2010: 36).

Generasi Hak Kedua

Hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (Ekosob) disebut sebagai generasi hak kedua. Hak-hak Ekosob merupakan kontribusi dari negara- negara sosialis (dengan asas Marxisme) yang menomorsatukan pemenuhan kesejahteraan warganya (Ishay 2007).

Hak-hak yang termasuk dalam rumpun hak ini antara lain, hak atas pekerjaan dan upah yang layak, hak atas jaminan sosial, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, hak atas pangan, hak atas perumahan, hak atas tanah, dan hak atas lingkungan yang sehat. Hak ini disebut pula sebagai hak positif yang mensyaratkan peran aktif negara dalam pemenuhannya. Oleh karena itulah, hak-hak generasi kedua ini dirumuskan dalam bahasa yang positif: “hak atas” (“right to”), bukan dalam bahasa negatif: “bebas dari” (“freedom from”). Pada dasarnya, generasi hak kedua ini merupakan tuntutan akan persamaan sosial (Asplund 2008, Brown 2002).

Beberapa prinsip utama kewajiban negara dalam pemenuhan hak- hak ini, antara lain realisasi progresif, sumber daya maksimal yang mungkin, nonretrogresi, kewajiban pokok minimal, nondiskriminasi, setara, partisipasi, akuntabilitas, pemulihan yang efektif, serta perhatian pada kelompok rentan (Diokno 2004).

Pada generasi hak ini, budaya merupakan objek hak yang bisa diklaim. Setiap individu berhak memiliki dan menikmati budaya. Hak budaya ini dilegitimasi pula di dalam beberapa instrumen internasional, di antaranya Pasal 2.1 UN Declaration on the Rights of Persons Belonging to Ethnic or National, Linguistic and Religious Minorities dan Pasal 27 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, dan Konvensi ILO No. 169.

Continue reading

Kasus Bunuh Diri Edward Nylander

Edward Nylander

Classification: Suicide

Characteristics: Voluntary Suicide. Victimless Crime

Date of Suicide: April 11, 1977

Victim Profile: Edward Nylander, 29

Method of Suicide: Self burning (self-immolation)

Location: City of Boulder, Colorado, USA

 

A. Gambaran Singkat Kasus

Pada tanggal 1 April 1977. Edward Nylander mengirimkan satu foto dirinya kepada 10 teman. Di dalam foto tersebut, terlihat Edward Nylander sedang berpose tersenyum dalam posisi meditasi, membelakangi pola mandala, dengan tengkorak di pangkuannya. Sepuluh hari kemudian, Nylander ditemukan tewas di dalam sebuah gua di sebelah barat Boulder, Colorado. Jenazah Edward Nylander ditemukan setengah terbakar dalam posisi meditasi persis seperti dalam foto yang telah ia kirimkan kepada teman-temannya.

Selain foto, Ed juga menyertakan surat wasiat yang menjelaskan bagaimana teman-teman nya dapat menghubunginya setelah kematiannya, yaitu dengan bermeditasi dalam posisi seperti yang ia lakukan, Ed akan muncul diantara menit ke-3 hingga ke-20 dan menyapa mereka. Dalam suratnya, Ed meyakinkan teman-temannya bahwa setelah kematiannya, ia bereinkarnasi.

Media massa saat itu mendeskripsikan kasus bunuh diri Edward Nylander sebagai ‘unsolved event’ dan ‘kasus bunuh diri misterius’.

(Data diperoleh dari Harian The Free Lance-Star, terbit pada 2 Juni 1977) 1

B. Profil Edward Nylander

Edward Nylander (29) merupakan anak dari pensiunan Angkatan Udara Amerika. Ia merupakan lulusan dari Oberlin College, Ohio. Pemerang Optimist International Youth Award, seorang pekerja pabrik, penggemar berat pinball, penggemar filsafat Timur dan seorang guru yoga.

Edward Nylander pindah ke Boulder, Colorado pada tahun 1974 bersama seorang istri dan suatu misi yaitu untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya dan mengajarkan masyarakat tentang metode-metode realisasi diri (self realizatation) yang ia kembangkan sendiri. Sebelumnya, Edward pernah memiliki pengalaman sebagai instruktur yoga pada Departemen Olahraga di Oberlin College, dan ia dianggap sebagai guru (yogi).

Namun sayangnya, harapan Edward Nylander untuk menyebarluaskan ajarannya terhambat di Boulder. Hal ini disebabkan karena Boulder merupakan kota pelajar dengan beberapa universitas yang tersebar di sana. Selain itu, Boulder juga adalah kota religius dengan banyak pemuka agama dan sebagian besarnya pengikut Kristen yang taat.

Pada tahun 1976, Nylander dan istrinya bercerai. Nylander juga memiliki riwayat penggunaan LSD dengan dosis yang tidak menentu. LSD digunakan Nyander saat meditasi untuk memicu serta mempertahankan perasaan spiritualitas tinggi.

(Data diperoleh dari Harian The Free Lance-Star, terbit pada 2 Juni 1977).2

Continue reading

Civilized Societies’ Problems

Human beings long for a sense of connection and adventure. We tend to value experiences that are real and make us feel something over the uninteresting and boring, even if they’re extremely painful to get through at the time.

For many people who live in advanced civilized societies, the typical daily struggles for food, shelter and immediate safety are no longer an issue. However, the people still yearn for that sense of connection and adventure. People need to feel a sense of excitement, a sense of purpose, a sense that life is more than just a set of meaningless, repetitive, robotic motions in the name of self-preservation.

AloneintheCafe

People feel unfulfilled, and long to feel raw emotions again. They feel unsatisfied because they feel disconnected from the grand parade of life, but they don’t know exactly why. So they nitpick and search for increasingly trivial things to be upset about, which seems so unnatural that a set of memes mocking this phenomenon appears all over the Internet.

I think the solution lies in putting things in their proper perspective. The world is not going to end if the barista put half and half into your coffee instead of skim milk. It’s not a big deal. Drink it and be happy. It doesn’t matter if the person down the street has heated leather seats and a fountain in their apartment lobby that you can’t afford. It’s unwise to make this vain competition the focus of one’s life, because it’s a competition that you can never win. Someone will always have more unnecessary material goods and more impressive personal accolades.

Continue reading

Nietzsche dan Kehendak Manusia Untuk Berkuasa

Salah satu konsep yang paling banyak menarik perhatian dari pemikiran Nietzsche adalah konsep kehendak untuk berkuasa (the will to power).

Nietzsche melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiahnya (natural instincts) yang mirip dengan hewan, maupun mahluk hidup lainnya. Nietzsche dengan jelas menyatakan penolakannya pada berbagai konsep filsafat tradisional, seperti kehendak bebas (free will), substansi (substance), kesatuan, jiwa, dan sebagainya. Ia mengajak kita memandang diri kita sendiri sebagai manusia dengan cara-cara baru. Ada tiga konsep dasar yang mewarnai seluruh pemikiran Nietzsche, yakni:

  1. Penerimaan total pada kontradiksi hidup
  2. Proses transendensi insting-insting alamiah manusia
  3. Cara memandang realitas yang menyeluruh (wholism

Pemikiran tentang kehendak untuk berkuasa terselip serta tersebar di dalam tulisan-tulisannya sebagai fragmen-fragmen yang terpecah, dan seolah tak punya hubungan yang cukup jelas. Dari semua fragmen tersebut, setidaknya ada tiga pengertian dasar tentang kehendak untuk berkuasa, yakni (1) kehendak untuk berkuasa sebagai abstraksi dari realitas, (2) sebagai aspek terdalam sekaligus tertinggi dari realitas (the nature of reality), dan (3) sebagai realitas itu sendiri apa adanya (reality as such).

Dalam bahasa Nietzsche kehendak untuk berkuasa adalah “klaim kekuasaan yang paling tiranik, tak punya pertimbangan, dan tak dapat dihancurkan.” Kehendak untuk berkuasa adalah dorongan yang mempengaruhi sekaligus membentuk apapun yang ada, sekaligus merupakan hasil dari semua proses-proses realitas itu sendiri. Semua ini terjadi tanpa ada satu sosok yang disebut sebagai pencipta, atau subyek agung. Semua ini adalah gerak realitas itu sendiri yang berjalan mekanis, tanpa pencipta dan tanpa arah. Continue reading

Melepaskan Delusi

Di dalam salah satu karya dialognya, Plato, filsuf Yunani Kuno, menegaskan dengan jelas, bahwa ketidaktahuan (bisa juga dibaca sebagai kesalahpahaman) adalah akar dari semua kejahatan di atas bumi ini. Filsuf eksistensialis Prancis, Albert Camus, juga menegaskan, bahwa kesalahpahaman mendorong orang bertindak salah, walaupun niat hatinya baik. Buddhisme sejak 2500 tahun yang lalu juga sudah menegaskan, bahwa kesalahpahaman tentang seluruh kenyataan, termasuk tentang diri kita, adalah akar dari semua penderitaan hidup manusia.

Kesalahpahaman ini pun lalu diungkapkan dengan berbagai cara. Di dalam Buddhisme, ia disebut sebagai delusi. Di dalam filsafat, ia dikenal sebagai kesalahan berpikir. Bagi Francis Bacon, filsuf modern, kesalahpahaman adalah Idol-idol yang menutupi mata kita dari kebenaran. Anthony de Mello menyebutnya sebagai programming atau pengkondisian yang begitu kuat mempengaruhi cara berpikir dan cara merasa kita.

Secara pribadi, saya lebih suka menyebut kesalahpahaman ini sebagai delusi. Ungkapan ini begitu kuat menyatakan ketidakmampuan kita untuk membedakan antara kenyataan dan ilusi. Orang yang hidup dalam delusi akan selalu menderita, walaupun ia kaya raya, tampan atau cantik. Pertanyaan yang penting adalah, darimana delusi ini muncul?

Delusi muncul dari cara kita diasuh dari kecil. Nilai-nilai yang kita terima dari keluarga dan masyarakat kita juga menciptakan banyak delusi di dalam kepala kita. Teladan yang kita terima dari orang tua dan guru kita sejak kecil juga menciptakan delusi di dalam kepala kita. Makanya, banyak orang begitu sulit untuk lepas dari delusi yang mengotori kepalanya. Ia pun akhirnya hidup dalam penderitaan terus menerus.

Delusi Di Sekitar Kita

Ada begitu banyak delusi di dalam masyarakat kita. Semuanya mengotori kepala kita, dan membuat kita menderita. Delusi pertama adalah tentang cinta. Kita kerap menyamakan tindak mencintai dengan tindak menguasai. Kita ingin pasangan kita seperti harapan kita. Jika tidak, kita lalu marah, dan berlaku kasar, atau justru melepaskan semuanya. Dengan pola semacam ini, kita akan terus hidup dalam penderitaan, akibat dari delusi di dalam kepala kita.  Continue reading

Mengapa Perempuan Membunuh? Analisis Kriminologis-Feminis Terhadap Perempuan Pelaku Pembunuhan Dalam Relasi Intim (Intimate Partner Homicide)

Pendahuluan

Hipotesis umum menyatakan bahwa kejahatan diidentikkan dengan maskulinitas dimana pelaku adalah laki-laki. Seperti laporan statistik kriminal di Inggris  menunjukkan bahwa pada tahun 1987 dari 3.825.000 kasus kejahatan, 86.9% pelakunya laki-laki.[1] Lundberg di dalam Crime and Criminology bahwa secara kuantitas angka kejahatan yang dilakukan oleh laki-laki lebih tinggi daripada yang dilakukan oleh perempuan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa jumlah kejahatan yang dilakukan perempuan tidak ada, hanya saja berdasarkan statistik kriminal angka kejahatan yang dilakukan oleh perempuan relatif lebih rendah jika dibandingkan oleh laki-laki.[2]

Pembunuhan menjadi salah satu jenis kejahatan dengan derajat keseriusan tinggi dan pada umumnya dikonotasikan sebagai kejahatan yang dilakukan oleh laki-laki.[3] Kusumah yang mengutip pendapat Smart[4] ia mengatakan ada dua jenis kejahatan yang dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yaitu:

  • Sex Specific offences adalah kejahatan-kejahatan yang pelaku utamanya berasal dari satu jenis kelamin saja. Misalnya perempuan sebagai pelaku kasus abortus ilegal, pembunuhan bayi dan pelacuran sedangkan laki-laki dihubungkan dengan kasus perkosaan dan pembunuhan
  • Jenis-jenis kejahatan yang dapat dilakukan oleh kedua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan misalnya adalah pencurian, penggelapan, dan penipuan

Dalam konteks Indonesia, fakta dengan jelas menunjukkan sebagian besar kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di lingkup rumah tangga atau dilakukan oleh orang dekat (intimate partner). Sebagai contoh dari 1722 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani Rifka Annisa Women Crisis Centre, 1054 (60%) kasus diantaranya adalah kasus kekerasan terhadap istri. Temuan penelitian yang dilakukan Rifka Annisa bersama UGM, UMEA University, dan Women’s Health Exchange USA di Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia, pada tahun 2000 menunjukkan 1 dari 3 perempuan (34%) mengalami kekerasan emosional dari suaminya, termasuk didalamnya penghinaan, ancaman, dan ancaman fisik yang membahayakan. Kira-kira 1 dari 4 perempuan (27%) mempunyai pengalaman kekerasan fisik atau seksual dari suaminya dalam satu waktu dalam hidupnya, dimana 22% mengalami kekerasan seksual dan 11% mengalami kekerasan fisik. Satu dari 5 perempuan (19%) melaporkan bahwa biasanya mereka dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan mereka selama dipukuli. Kira-kira 1 dari 3 perempuan (33%) yang teraniaya mendapat paling sedikit satu luka-luka sebagai hasil kekerasan; sebagian besar berupa memar atau lecet-lecet. Sekitar 80% perempuan yang mencoba bunuh diri memiliki alasan karena telah mengalami kekerasan dari pasangannya, baik suami atau kekasih. Diseluruh dunia 1 dari 4 perempuan hamil mengalami kekerasan oleh suaminya baik kekerasan seksual maupun kekerasan fisik. Diperkirakan 40% hingga 70% lebih pembunuhan terhadap perempuan juga dilakukan oleh pasangan intimnya dalam konteks relasi yang penuh kekerasan.[5]

Potret dari kasus pembunuhan kebanyakan diwarnai oleh motif ekonomi dan tidak lepas dari konteks budaya. Hal ini melekat pada perempuan sebagai kaum yang terkena viktimisasi akibat kuatnya pengaruh atas kuasa yang dikonstruksikan dengan lebih utama kepada laki-laki. Perbandingkan studi klasik yang dilakukan pada laki-laki dan perempuan yang terlibat pada sebuah peristiwa pembunuhan (Wolfgang, 1958; Ward, Jackson, & Ward, 1969) menyatakan bahwa masing-masing kelompok yang melakukan pembunuhan merefleksikan peran gender dalam masyarakat.[6]

Dengan kata lain, pernyataan ini hendak menjelaskan bahwa gambaran yang dominan pada kekerasan yang dialami oleh perempuan seringkali adalah akibat dari pertumbuhan ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki secara struktural. Oleh sebab itu, seringkali respon yang paling umum yang dilakukan oleh perempuan adalah dengan memberikan ancaman balik kepada laki-laki yang telah melukai perempuan. Ketika pada akhirnya perempuan melakukan pembunuhan, seringkali ini juga merupakan respon atas ancaman yang lebih dahulu diterima oleh perempuan dari korban laki-lakinya, maka dalam hal ini kekerasan bahkan pembunuhan yang melibatkan perempuan sebagai pelaku bermuara pada bentuk proteksi atau perlindungan terhadap dirinya sendiri atau bentuk defensive reaction.

Contoh Kasus

WomenOffender

Setelah 25 tahun menikah dan dikaruniai tiga anak, perempuan berinisial AT (40), warga Dusun Bukit Rantau, nekat menghabisi suaminya Latif alias Sasen (52) yang ditemukan tewas mengenaskan dengan 17 luka sabetan benda tajam di sebuah jurang di Muntok. Setelah pemeriksaan kemudian terkuak bahwa AT menyewa jasa pembunuh bayaran senilai Rp 40 juta untuk menghabisi nyawa sang suami. Aksi ini dilatarbelakangi dendam karena sering diperlakukan kasar dan dianiaya oleh sang suami ditambah sang suami menolak untuk bercerai.[7]

womenoffender2

Kasus pembunuhan lainnya dengan perempuan sebagai pelaku ditemukan di Banyumas pada bulan Maret 2014. Perempuan pelaku pembunuhan ini membunuh suaminya dengan menggunakan martil, dan dilatarbelakangi oleh motif ekonomi serta sakit hati karena sang suami sering menganiayainya. Pelaku berinisial DK (46) juga mengakui sudah tujuh bulan pisah ranjang dan sering terjadi pertengkaran diantara keduanya.[8] Dari kedua contoh kasus yang diambil, dijelaskan bahwa perempuan juga memiliki kesempatan untuk menjadi pelaku dari Intimate Partner Homicide. Namun hal tersebut juga tidak terjadi secara alamiah begitu saja, karena perbedaan gender sudah mengakar di masyarakat, perilaku perempuan ini juga tidak lepas dari pengaruh konstruksi tersebut dan juga faktor-faktor lainnya yang akhirnya menyebabkan perempuan menjadi pelaku dalam suatu tindak pembunuhan.

Continue reading

“Suka Sama Suka?”

Kita tidak bisa melihat kasus perkosaan  dengan perspektif hitam-putih atau dengan “kacamata kuda”. 

Perkosaan sendiri kemudian menjadi pisau bermata dua yang bisa digunakan oleh si korban untuk mempidanakan pelaku atau oleh khalayak lain yang menganggap perkosaan hanya sebagai alasan. Apalagi komentar di portal berita yang merendahkan korban, seperti:

“Kenapa ketika sudah hamil 7 bulan baru melapor, kemarin ke mana aja?” atau

“Palingan ini suka sama suka, kan sudah dilakukan berkali-kali?!”

Terus terang, komentar semacam itu membuat saya sedih, melihat bahwa upaya membangun peradaban manusia di Indonesia untuk membela hak-hak perempuan serta kelompok yang termarjinalkan seolah mundur ke belakang. Bisa jadi, karena cara kita memandang apa itu perkosaan dan kekerasan berbasis gender memang  abu-abu. Dalam sistem tempat kita berada, ada ketidaksetaraan. Dan mungkin, kacamata kita yang belum diperbaharui. Karena ini bukan soal hitam-putih, ini adalah soal korban dan kekerasan.

Apa Itu Perkosaan?

Definisi ‘perkosaan’ memang tidak sederhana. Satu waktu tindakan ini bisa dilakukan oleh orang yang tidak pernah kita kenal, di lain waktu, perkosaan juga bisa dilakukan oleh orang yang kita kenal bahkan kelompok terdekat kita (teman, keluarga, pacar, kenalan, dll). Dalam ruang budaya Indonesia istilah perkosaan selalu dimaknai sebagai pemaksaan hubungan seksual terhadap perempuan. Di sini perempuan diposisikan sebagai korban kekerasan seksual. Perkosaan merupakan kekerasan seksual paling menyakitkan dan meninggalkan trauma psikologis yang panjang dan sulit dihapuskan dalam seluruh kehidupan korban.

Kita perlu melihat perkosaan bukan hanya sebagai tindakan kriminal, melainkan sebentuk kekerasan seksual sebagai upaya merenggut kedaulatan tubuh dan kebebasan korban (perempuan). Dalam sejarah masyarakat yang patriarki*, perempuan dianggap sebagai properti laki-laki yang nilainya, salah satunya, ditentukan oleh kesucian seksual (sexual purity) perempuan tersebut. Berangkat dari hal ini, perkosaan lantas dianggap sebagai tindakan kriminal atau pelanggaran norma melawan martabat si ‘pemilik’ properti (misalnya ayah atau suami korban). Namun, berkat perkembangan dalam perjuangan hak-hak perempuan, prinsip kepemilikan atas tubuh perempuan tidak lagi mendasari terjadinya perkosaan, karena pihak yang tadinya dianggap “memiliki” perempuan, seperti suami misalnya, bisa menjadi pelaku perkosaan itu sendiri.

rape

Perkosaan diambil dari bahasa latin, repere, yang berarti mencuri, memaksa, ataupun merampas. Secara lebih luas perkosaan didefinisikan oleh Rifka Annisa Women’s Crisis Center sebagai segala bentuk pemaksaan hubungan seksual, tidak selalu persetubuhan, akan tetapi segala bentuk serangan atau pemaksaan yang melibatkan alat kelamin, dan perkosaan ini juga dapat terjadi dalam sebuah pernikahan. Perkosaan berarti merampas kedaulatan tubuh perempuan (atau korban), terutama kontrol oleh laki-laki (pelaku) terhadap bagian reproduksi dan seksual pada tubuh perempuan. Perkosaan kemudian merupakan bagian dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual oleh laki-laki, mengingat relasi dan bagaimana perkosaan dilakukan untuk melanggengkan penindasan terhadap perempuan. 1

Definisi ‘perkosaan’ tidak hanya sebatas pemaksaan secara fisik atau kekerasan yang dilakukan secara eksplisit. Karena kekuasaan laki-laki berupaya menekan kedaulatan tubuh dan seksualitas perempuan secara sistematis, ‘perkosaan’ berarti mengabaikan persetujuan (consent) perempuan. 

Peran perkosaan sendiri sangat luas, bahkan dilihat dari ideologi yang melatarbelakangi perkosaan, tindakan kekerasan seksual ini tidak hanya menciptakan dan mereproduksi penindasan tetapi juga sistem dominasi yang berlapis, tidak hanya pada perempuan tetapi juga rasisme dan kolonialisme (dalam kasus perang misalnya).

Perkosaan Terjadi Saat Tidak Ada Persetujuan Untuk Berhubungan Seksual Dari Salah Satu Pihak

Pernyataan seperti “Itu bukan perkosaan tapi tindakan yang disadari suka sama suka…” merupakan pernyataan yang bodoh dan tidak sensitif pada penderitaan korban serta melanggengkan pembenaran pada tindakan perkosaan yang dilakukan oleh pelaku.  Continue reading

1 Tahun Kasus Kematian Akseyna

30 Maret 2015 tahun lalu, kita sempat dihebohkan oleh pemberitaan di media mengenai kematian misterius yang dialami oleh seorang mahasiswa Universitas Indonesia, seorang teman kita, bernama Akseyna Ahad Dori. Namun, seiring berjalannya waktu, pemberitaan oleh media tidak seheboh sebelumnya. Padahal hingga kini kasus tersebut belum juga terpecahkan. Bahkan dalam menetapkan apakah kematian tersebut merupakan bunuh diri atau pembunuhan, pihak kepolisian membutuhkan waktu selama dua bulan. Saya meyakini bahwa kasus Aksyena ini bisa dikatakan sebagai kasus pembunuhan yang tidak biasa.

Pihak kepolisian memberikan pernyataan melalui media bahwa mereka berupaya untuk tidak mencurigai pihak mana pun, yang justru terkesan bahwa kasus ini dimungkinkan masih memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. Kinerja polisi mungkin tidak harus saya ragukan jika benar pembunuhan tersebut dilakukan oleh tangan-tangan profesional yang hanya dapat terungkap hingga level eksekutor. Namun dalam pemberitaan yang ada, saya tidak melihat adanya indikasi yang menyatakan dengan jelas bahwa kasus ini setara dengan kasus pembunuhan yang menimpa Munir beberapa tahun silam. Dugaan mengenai tersangka yang muncul dari pihak keluarga dan para kriminolog UI pun terkesan tidak diperkuat oleh pihak kepolisian yang menimbulkan pertanyaan apakah benar bahwa pelaku pembunuhan bukanlah orang yang biasa? 

Akseyna

Banyak hal yang memicu saya untuk bertanya mengapa kasus ini bukan kasus yang sederhana. Bahkan dari lamanya waktu yang sudah berjalan sejak awal dilaporkannya kasus ini dapat menjadi pertanyaan yang fundamental. Mengapa polisi kok sepertinya sulit untuk bergerak cepat dalam mengungkapkan kebenaran kasus ini? Membuat saya serta merta menyimpulkan bahwa ada hal yang mungkin saja mengganggu atau menghalangi jalannya penyelidikan. Polisi mungkin tidak akan menggunakan waktu selama ini jika motif pembunuhan yang mereka selidiki hanyalah sebatas konflik asmara seperti yang dikatakan oleh keluarga korban. Terlebih lagi, saya berasumsi, bahwa profesi yang dijalankan Ayah korban mungkin dapat menjadi alasan lain terkait motif pembunuhan tersebut.

Baik pihak keluarga dan para kriminolog UI telah memunculkan banyak hipotesis terkait kasus tersebut. Setiap detil dilontarkan mengenai modus dan motif pembunuhan yang dilakukan pelaku. Keluarga sendiri menduga bahwa pelaku mungkin berasal dari orang terdekat korban, namun polisi justru menyangkal dugaan tersebut dengan mengatakan kepada media agar tidak menyajikan pemberitaan yang dapat menyudutkan orang-orang terdekat Akseyna. Karenanya, hipotesis dari kedua pihak sebelumnya terasa melempem.

Lantas siapa yang dapat dipercaya di sini? Jika memang bertindak hati-hati adalah yang harus dilakukan polisi, maka apakah polisi tengah menghadapi situasi yang sulit? Belum ada kepastian. Apakah kasus ini akan bernasib sama dengan kasus-kasus yang ga terselesaikan yang pernah terjadi di masa lalu? Dan mungkinkan pihak yang berwajib hanya akan tinggal diam dan membiarkan kasus ini hingga memasuki masa kadaluarsa?

Beberapa Kejanggalan Dalam Kasus Kematian Akseyna 

Kedalaman Danau UI yang Ternyata Dangkal

Jenazah Akseyna ditemukan di danau Kenanga UI yang termasuk dalam jenis danau eutropik, yaitu danau dangkal dan kaya akan beberapa jenis ikan-ikan air tawar karena terdapat banyak fitoplankton yang sangat produktif. Ciri-ciri danau eutropik adalah air berwarna keruh, terdapat beragam organisme dan oksigen terdapat di daerah profundal.1 Danau Kenanga UI memiliki luas 28.000m2 dengan kedalaman hanya 1,65 meter dari permukaan. Hal ini lah yang membuat Danau Kenanga menjadi tempat yang paling banyak dipilih oleh para pemancing ikan.2

kenanga1

Berdasarkan fakta diatas, sangat tidak logis jika Akseyna menenggelamkan dirinya secara sengaja.

Hasil Autopsi Berupa Luka Lebam dan Kondisi Paru-Paru

Berdasarkan hasil autopsi Rumah Sakit Polri Kramat Jati pada jenazah Akseyna ditemukan bekas luka lebam akibat pukulan benda tumpul. Tanda ini yang menjadi petunjuk bahwa korban mengalami tindak kekerasan sebelum tenggelam.3

Tas Ransel Berisi Batu

Saat ditemukan, jenazah Akseyna masih mengenakan pakaian lengkap serta tas ransel. Setelah diperiksa, ternyata tas tersebut berisi enam bongkahan batu konblok.Hal ini menguatkan dugaan bahwa korban ditenggelamkan. 4

Sepatu Robek

Saat jenazah Akseyna ditemukan, terdapat tanda sobekan di bagian tumit kanan dan kiri pada sepatu yang dikenakannya. Hal ini lah yang meyakinkan polisi bahwa korban diseret terlebih dulu sebelum ditenggelamkan ke dalam danau. 5

Selain itu, ukuran sepatu yang dikenakan korban saat ditemukan adalah nomor 43 yang sebenarnya menurut pihak keluarga, bukan nomor sepatu korban. 6

Surat di Kamar Akseyna

Beberapa media memberitakan hal yang berbeda-beda terkait penemuan surat wasiat korban. Padahal, surat wasiat ini merupakan kunci yang meyakinkan kepolisian bahwa korban bunuh diri.

  • Versi 1 Kutipan dari detik.com 7:

Kertas pesan ditempelkan di dinding kamar dengan tulisan berbahasa Inggris ‘will not return for please don’t search for existence my apologies for everything eternally’. Pesan itu ditemukan teman kos Akseyna, yang bernama Jibril pada Minggu (29/3) malam.

Jibril diminta orangtua Akseyna untuk mengecek kamar anaknya yang ada di Wisma Widya 208, Jl Kabel Tegangan Tinggi, Beji, Depok. Penemuan Jibril langsung dilaporkan ke polisi.

Kamar Akseyna berada di lantai 2 kosan itu. Kamarnya sedikit berantakan. Menurut penjaga kos, Edi Sukardi, kamar kos Akseyna dalam keadaan terkunci saat ditinggalkan. “Pintunya dikunci, terus pas polisi ke sini baru dibuka pakai kunci cadangan,” kata Edi Sukardi, Selasa (31/3/2015).

  • Versi 2: Surat Wasiat Ditemukan oleh Jibril dan penjaga kos 8

Kutipan dari tempo:

TEMPO.CO, Jakarta – Pintu kamar ukuran 3 x 4 meter itu terganjal kain gorden. Kain sepanjang satu meter tersebut difungsikan sebagai pintu karena pintu kamar bernomor 208 itu rusak. Di kamar inilah, Akseyna Ahad Dori, 18 tahun, mahasiswa jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tinggal.

Meski kelihatan bermasalah, ia tak curiga jika Ace akan mengakhiri hidupnya. Sebab, pada Jumat, 29 Maret 2015, teman Ace sesama jurusan, Jibril, datang ke kamar Ace. Jibril, ujar dia, adalah salah satu teman dekat Ace. Dia datang seorang diri dan langsung ke kamar Ace. Ketika itu, Jibril langsung pulang lagi karena Ace tidak ditemukan di dalam kamar.

(Perhatikan lagi, Jibril masuk ke dalam kamar di hari Jumat?)

Jibril kemudian datang lagi Minggu sore, 29 Maret 2015. Karena tak ada sahutan di dalam kamar, dia dan Edi membuka kamar Ace dengan kunci cadangan. “Pas dibuka kamar berantakan. Laptop, dompet, dan handphone ternyata ada di dalam kamar,” ujar Edi. Kedua alat elektronik itu dalam kondisi mati.

(Ternyata pintu kamar tidak rusak, ada kunci cadangannya. Berarti saat hari Jumat itu, Jibril masuk menggunakan apa?)

Edi pun menyuruh Jibril membereskan kamar tersebut. Dia juga meminta Jibril untuk menginap di kamar Ace Minggu malamnya. Sebelum keluar, Edi ditunjukkan oleh Jibril kertas bertulisan bahasa Inggris. “Jibril yang melihatkan tulisan itu ke saya. Tulisan itu menempel ditempelkan di paku yang tertancap di dinding kamar,” katanya.

Surat

  • Versi 3: Surat wasiat diberikan oleh ayah korban ke polisi 9

(Versi ini yang paling bisa dipercaya, bisa disimak langsung dari wawancara ayah korban di Youtube).

Sang ayah yang berpangkat kolonel merupakan dosen di Angkatan Udara, beliau mendapatkan surat wasiat tersebut dari seseorang yang mengaku teman Ace, tapi tidak dikenali oleh sang ayah.

Dari Polsek Beji, dia (Kolonel Sus Mardoto-red) mendatangi kampus UI menemui dosen pembimbing Ace pada pukul 16.00 WIB. Saat itu, ada dua mahasiswa yang ikut menemuinya di Gedung Biologi UI.

Salah satunya menyodorkan surat bertuliskan tangan yang selama ini banyak beredar diduga sebagai surat wasiat Ace, yang isinya meminta agar dirinya tidak dicari. Teman Ace tersebut mengaku mendapatkan surat itu di dalam kamar kos Ace.

Surat wasiat pemberian teman Ace kemudian ditunjukkan Mardoto kepada polisi. “Jadi saya membantah kalau surat itu ditemukan di kamar Ace. Surat itu berasal dari orang lain,” imbuh Mardoto.

Sementara itu, grafolog Deborah Dewi yang dimintai bentuan menganalisis tulisan di surat wasiat Akseyna menyatakan bahwa surat yang ditemukan di kamar kos Akseyna adalah ditulis oleh dua orang. Satu orang diantaranya adalah Akseyna sendiri, dan satu orang lainnya masih diselidiki polisi. 10

Keberadaan Jibril dan 5 Orang Teman Di Kamar Akseyna

Dikutip dari Tempo.com 11

Setelah empat hari Akseyna tidak pulang ke Wisma Widya, suami Maryamah meminta Jibril datang membereskan kamar Akseyna pada Minggu, 29 Maret. Jibril datang sendiri setelah asar ke Wisma Widya. Nah, saat sore itu, Jibril menemukan secarik kertas dengan tulisan berbahasa Inggris menempel pada tembok kamar Akseyna.

Jibril pun langsung menunjukkan surat itu kepada Maryamah dan mengatakan ini seperti surat perpisahan. “Kata Jibril, ini surat perpisahan. Intinya, Ace minta jangan dicari. Sebab, yang masuk Jibril dulu baru aku,” tutur Maryamah, mengingat kejadian saat itu.

Senin sore, persis saat identitas Ace diketahui polisi, rekan Akseyna bernama Pras datang disusul teman yang lain dan meminta dibukakan kamar Akseyna. “Lima anak ada pada ke sini. Pegang laptop pada mati,” ucapnya.

Maryamah juga tidak tahu bahwa pada Senin pagi atau sore surat itu dicabut dari tembok kamar Akseyna. Setelah teman Akseyna datang, baru banyak polisi yang mendatangi kamar Akseyna di Wisma Widya.

 

Analisis Kasus

Menurut saya, jika dianalisis menggunakan pendekatan psikologi kriminal, pembunuh Akseyna berasal dari lingkungan sekitar UI. Ini karena Akseyna sebagai seorang introvert, mempunyai mental map aktivitas yang tidak luas. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Eysenk (1970). Menurut Eysenk, terdapat keterkaitan antara preferensi lokasi untuk aktivitas dengan tipe kepribadian. Individu dengan tipe kepribadian ekstrovert, cenderung menyukai aktivitas di luar ruangan dengan jangkauan lokasi yang luas serta bergerak cepat dari lokasi satu ke lokasi lainnya. Lain hal nya dengan karakter introvert, yang lebih menyukai aktivitas di dalam ruangan, temoat-tempat sunyi, dan sedikit melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya (jangkauan lokasi aktivitas sempit).12

Gould (1975) juga berpendapat bahwa karakter individu dapat terbagi menjadi dua kategori jika dikaitkan dengan pemilihan lingkungan tempat dia tinggal dan beraktivitas, yaitu space searchers dan space sitters. Space searchers adalah individu yang aktif, penuh rasa ingin tahu dan cenderung mengeksplor tempat-tempat di sekitarnya untuk memenuhi rasa ingin tahunya serta menjalin pertemanan dengan banyak orang. Sedangkan space sitters cenderung merespon suasana lingkungan sekitarnya secara pasif, ia akan secara konsisten mengunjungi suatu lokasi yang ia anggap nyaman.13 

Berdasarkan uraian di atas, Akseyna yang memiliki karakter introvert adalah mahasiswa yang kesehariannya tidak berada jauh dari UI dan temannya tidak banyak. Mental map Akseyna hanya kos, kampus, masjid. Orang di sekitar Akseyna pun tidak banyak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembunuhnya tidak jauh dari mereka.

Mengenai pemilihan lokasi pembunuhan, mengapa pembunuh memilih membuang Akseyna di Danau Kenanga UI? Padahal ada banyak danau lain di Kampus UI dan beberapa danau kecil tak bernama.

Dari lima danau itu hanya tiga danau yang letaknya berdekatan dengan Gedung Program Studi Biologi Fakultas MIPA UI, yakni Danau Kenanga, Danau Aghatis, dan sebuah danau kecil tak bernama. Akseyna terakhir kali terlihat memang masih berada di Kampusnya di Fakultas MIPA pukul 10.00 pagi di hari Ia diduga tewas pada Rabu (25/3/2015). Dua rekan seangkatan Akseyna yang melihatnya dan keterangan ini sudah disampaikan ke polisi.

Menurut saya, Danau Kenanga adalah tempat paling ideal. Baik untuk membuat kejadian seolah-olah bunuh diri ataupun seolah-olah pembunuhan tidak mungkin dilakukan di danau tersebut. Karena jika dibandingkan dengan dua danau lainnya yaitu Danau Agathis, posisi masuk bisa melalui pinggir jalan yang berlampu terang di malam hari. Sama dengan danau kecil tak bernama. Lokasinya dekat dengan pintu masuk depan Fakultas MIPA. Dan lokasinya di pinggir jalan. Jika Danau Agathis dan danau tanpa naman yang dipilih sebagai lokasi pembuangan korban, maka dugaan pembunuhan menjadi lebih mudah.

Kemungkinan besar Akseyna dibuat tak sadar di lokasi sekitar Danau Kenanga sebelum ditenggelamkan. Batu bata berongga seperti yang ada di tas Akseyna banyak terdapat di Masjid UI. Dapat dikatakan bahwa kemungkinan Akseyna dibunuh usai melakukan sesuatu di Masjid UI, tepatnya dilakukan pada tengah malam. Setelah dibunuh, barulah pelaku memasukkan batu berongga itu ke tas Akseyna, kemudian menyeretnya ke lokasi dimana jenazah Akseyna ditemukan mengambang.

Masjid UI terletak di pinggir Danau Kenanga UI yang posisinya berseberangan dengan lokasi jenazah Akseyna dibunuh. Dari Masjid UI, untuk sampai ke lokasi jenazah Akseyna ditemukan mengambang bisa melalui dua jalur berupa jalan setapak yang seluruhnya harus mengitari Danau Kenanga UI.

UI

  • Jalur pertama, yakni melewati jalan setapak kecil yang berputar melintas di depan Perpustakaan baru UI. Setelah itu masih harus melewati Gedung Bank. Lalu melintas di belakang Kantor Rektorat. Baru sampai di lokasi Akseyna ditemukan. Sepengetahuan saya, setiap malam di belakang Gedung Rektorat dan Gedung Bank selalu ada petugas keamanan yang berjaga dengan pola waktu sebanyak 3 kali dalam jeda 1 jam harus berkeliling mengitari dan mengawasi sekitar Gedung Rektorat, termasuk Danau UI. Namun yang perlu diingat Rabu malam itu hujan terus turun di Kampus UI.

 

  • Jalur kedua untuk mencapai lokasi jenazah Akseyna ditemukan ada 2 pilihan: Pertama bisa melewati jalan besar dan kedua bisa pula melewati pinggir danau. Kedua jalan itu arahnya berlawanan dengan arah jalur pertama. Apabila memilih melewati pinggir danau, maka harus melintas di depan deretan bangunan yang dipakai untuk mesin ATM dan setiap malam selalu ada petugas keamanan berjaga di sana. Setelah melewati dereta ATM itu baru berkelok dan menembus pinggir Gedung Balairung UI lalu tiba di lokasi Akseyna ditemukan. Sementara jika memilih menyusuri pinggir danau, maka harus melewati lokasi pelataran tanah kosong yang kerap dipakai deretan pemancing, baru bisa berjalan di pinggiran danau yang sepi di malam hari. Jalan menyusuri danau itu berbatasan dengan bangunan rusak dan deretan pohon. Jalan ini benar-benar tersembunyi. Baru setelah itu melalui jalan berkelok di belakang Balairung UI dan tiba di lokasi jenazah Akseyna ditemukan mengambang Namun, menurut para pemancing, setiap malam sampai dengan subuh bahkan pagi hari selalu ada pemancing di lokasi pelataran tanah kosong. Kecuali apabila hujan turun, maka pemancing tidak datang.

Berdasarkan beberapa berita dan laporan cuaca BMKG pada Minggu (29 Maret 2015), waktu dimana Akseyna diduga tewas, berita dan laporan cuaca menyebut Jabodetabek berawan sejak pagi namun siang dan sore hari adanya intesitas hujan. Bahkan ada sumber yang mengatakan bajwa beberapa pintu air berstatus siaga pada sore harinya, termasuk Pintu Air Depok yang berstatus siaga 4 di hari diduga Akseyna tewas.

Jadi, sebenarnya jalur manakah yang paling masuk akal bagi pelaku untuk menyeret Akseyna?

Menurut saya, jalur kedua yang paling masuk akal. Pelaku kemungkinan memilih jalur yang berdekatan dengan bangunan rusak dan deretan pohon, karena saat itu hujan sedang turun dan tidak ada pemancing yang berada di sekitar lokasi. Kondisi gelap dan sepi ini mendukung lancarnya rencana pelaku. Yang perlu diperhatikan, aksi pembunuhan ini dilakukan oleh lebih dari satu orang. Mengapa? Karena dengan postur tubuh Akseyna yang cukup besar serta tinggi badan sekitar 170 cm, akan sangat sulit jika melumpuhkannya dilakukan hanya oleh satu orang. Selain itu, para pelaku kemungkinan tidak menggunakan kendaraan umum karena akan sangat mudah diketahui oleh petugas keamanan yang berjada di sekitar Gedung Rektorat dan Balairung.

Hal yang patut disayangkan adalah keberadaan Jibril dan lima orang teman di kamar Akseyna di hari saat jenazah Akseyna ditemukan yang mendahului kegiatan penyelidikan oleh pihak polisi yang baru dimulai sekitar pukul 18.30 (Senin, 30 Maret 2015). Karena sebenarnya, keberadaan mereka mungkin saja mempengaruhi keberadaan atau posisi barang bukti dan petunjuk kematian Akseyna.

Kesimpulan

Kasus pembunuhan ini sangat menarik untuk ditelusuri. Jika Akseyna dibunuh secara terencana, berarti pelaku sangat hebat dalam menentukan arah pembunuhan. Begitu juga sebaliknya, jika pembunuhan tidak direncanakan. Pelaku hebat sampai membuat dua arah penyelidikan ini. Dan jika pelakuknya berusia remaja, kemungkinan tersebut sangat kecil, karena remaja cenderung ceroboh dalam melakukan kejahatan Karena itu, polisi mudah sekali melakukan pengungkapan. Berbeda dengan kasus Akseyna. Ini direncanakan atau tidak, polisi masih bingung. Bila direncanakan, pelaku dapat dikatakan sangat pintar dalam memperhitungkan kondisi dan hal-hal pendukung keberhasilan rencananya.

Apapun langkah yang dilakukan polisi, gue berharap kasus ini segera diselesaikan dengan kebenaran yang pasti. Hukum dan keadilan harus tetap ditegakkan seperti bagaimana mestinya. Karena siapa lagi yang dapat kita andalkan dalam hal ini? Masyarakat mungkin dapat bertindak, namun tentunya tak memiliki wewenang yang sama seperti yang dimiliki oleh polisi.

Saya berharap, kasus ini harus tetap menjadi topik perbincangan di masyarakat. Kenapa? Karena kasus ini tidak boleh hilang ditelan bumi dan tak terselesaikan. Mengutip pernyataan kriminolog Amerika Bruce Arrigo dan Christopher William (2008) bahwa “kita semua memiliki apa yang disebut sebagai ‘tanggung jawab universal’ (universal responsibility) dalam penyelesaian kasus-kasus kejahatan. Semua pilihan dan tindakan kita, pasti memiliki konsekuensi tersendiri, sekalipun pilihan untuk tidak melakukan sesuatu.  Tidak membicarakan mengenai suatu kasus dan membiarkan nya terjadi, merupakan tindakan pembiaran yang disengaja. Sedangkan kontribusi dalam bentuk apapun, sekecil apapun, dapat menjadi pemicu efek jera baik secara psikologis maupun sosial.”14

Sheila R.J

Referensi

[1] Pengerukan Sedimentasi Lumpur Danau Kenanga UI 

[2] Dilarang Memncing! 

[3] Hasil Otopsi, Ada Luka Lebam Hasil Pukulan Benda Tumpul di Tubuh Akseyna 

[4] Dari Temuan Baru, Polisi Pastikan Mahasiswa UI Dibunuh 

[5] Polisi Temukan Fakta Baru dari Sepatu Akseyna 

[6] Polisi: Kenapa sepatu yang dipakai Akseyna tak sesuai kakinya? 

[7] Ini Kamar Kos Tempat Akseyna Meninggalkan Pesan Terakhir 

[8] Surat Wasiat Ditemukan oleh Jibril dan penjaga kos 

[9] Misteri Kematian Mahasiswa UI Ace: Kesaksian Penjaga Kos 

[10] Grafolog sebut surat di kamar kos Akseyna ditulis dua orang 

[11] Kasus Akseyna UI: Misteri Jibril dan 5 Orang di Kamar Ace  

[12] Eysenck, H.J. (1970). The structure of human personality. London: Methuen.

[13] Gould, P. (1975). Acquiring spatial information. Economic geography, 51, 87-99.

[14] Arrigo, Bruce .A and Christopher R. Williams. (2011). Ethics, Crime, and Criminal Justice. Prentince Hall

Tinjauan Kriminologis Pornografi Anak

Pornografi anak di Indonesia saat ini semakin marak dan semakin mengkhawatirkan. Kemajuan informasi dan teknologi yang demikian pesat memberi manfaat yang cukup besar. Tetapi ternyata juga berdampak negatif luar biasa. Media pornografi anak semakin mudah untuk diakses melalui media elektronik dan cetak. Begitu mudahnya setiap anak untuk melihat materi pornografi melalui internet, handphone, buku bacaan dan VCD. Kemudahan mengakses materi pornografi dapat mencontoh aktifitas seksual sesuai dengan adegan yang ditontonnya. Inilah yang menyebabkan kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh sesamanya.1 Di masa mendatang, pornografi internet adalah bencana besar terhadap anak yang akan menghantui orang tua. Belum lagi semakin banyaknya bisnis warung internet yang dengan leluasa dijelajahi secara bebas oleh anak-anak.

Lalu bagaimana kriminologi melihat persoalan pornografi anak? Aspek-aspek apa saja yang menjadikan pornografi anak merupakan suatu masalah yang berbahaya? Apa dampak yang ditimbulkan dari porgrafi anak? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis akan menelaah lebih dalam perihal sifat pornografi anak, tinjauan dari konteks psikologis dan legal serta konteks sejarah pornografi anak berdasarkan kajian literatur dan data-data yang relevan.

Mengapa Pornografi Anak Menjadi Masalah?

Banyak hal yang memicu pornografi anak menjadi suatu masalah, namun hal utama adalah menyangkut perlindungan anak. Usia anak yang seharusnya belum terlibat dalam aktivitas seksual menjadikan pornografi anak sesuatu hal yang ilegal. Terlebih adanya fakta bahwa pornografi anak merupakan gambaran kekerasan seksual terhadap anak. Oleh karena itu, dalam membahas sifat pornografi anak, difokuskan pada proses produksi dan proses ‘menyaksikan’ (viewing).2

Proses Produksi. Untuk memproduksi pornografi anak, seseorang harus melakukan kekerasan fisik atau memerintahkan anak berpose secara seksual untuk kemudian merekamnya. Dengan demikian, sangat jelas bahwa pornografi anak bukan suatu kebetulan; melainkan dibuat oleh fotografer, anak diperintahkan untuk berpose, serta adegan-adegan yang terjadi adalah disengaja. Kepentingan seksual dan seringkali termasuk kekerasan seksual, menjadi bagian inti dari pembuatan pornografi anak.

Karakteristik umum dari pornografi anak adalah subjek pornografi biasanya menampilkan wajah tersenyum; dan bukan nya murung. Senyuman merupakan hal terpenting untuk mengesankan si anak dalam keadaan gembira, atau bahkan menikmati apa yang dialami. Sehingga seolah-olah menunjukkan bahwa anak secara sukarela melibatkan diri dalam perilaku seksual. Ini ditujukan untuk membangkitkan fantasi bagi yang menontonnya.

Selanjutnya, terdapat dua hal yang perlu dibahas; yaitu pertama berkaitan dengan produksi privat, dan digunakan untuk kepentingan produser. Fotografer yang terlibat biasanya adalah orang tua, penjaga/pengasuh, atau kerabat dekat. Kedua berkaitan dengan produksi yang berlanjut pada distribusi pornografi anak, baik untuk kalangan pribadi maupun untuk kepentingan komersial. Dalam konteks ini pun, fotografer adalah kerabat si anak.

Menyaksikan (viewing). Umumnya istilah ‘menyaksikant’ termasuk bagian dari memiliki, mengoleksi, dan mendistribusikan pornografi anak. Namun, istilah ini sebenarnya memiliki makna lebih kompleks. Dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Date (1990) dan Tate, pedofil pun ‘menyaksikan’ tidak hanya dalam bentuk observasi pasif, mereka juga membuat katalog dan indeks serta berinteraksi secara seksual melalui masturbasi dan fantasi. Hal terpenting dalam pembahasan ini adalah bagaimana cara penonton menggunakan material pornogafis.

Tyler dan Stone (1985) menjelaskan bahwa penganiaya anak (child molester) yang memiliki pornografi anak dalam bentuk apapun menggunakan nya untuk membujuk dan menggoda korban anak. Korban akan ditunjukkan gambar-gambar pornografis sebagai bagian dari cara  mengehentikan penolakan anak.

Beberapa alasan yang memperkuat mengapa kita harus mempermasalahkan cara “menyaksikan” pornografi anak antara lain: Continue reading

Meluruskan Salah Kaprah Meme Kesetaraan Gender

Dalam postingan ini, saya ingin meluruskan rangkaian meme yang menurut saya salah kaprah mengenai kesetaraan gender. Meme yang santer beredar di media sosial, terutama Facebook ini saya anggap merepresentasikan prasangka dan ketakutan masyarakat umum akan kesetaraan gender. Prasangka bahwa kesetaraan gender merupakan masalah yang hanya berkaitan dengan perempuan, ketakutan bahwa kaum perempuan pada akhirnya akan menyaingi kaum pria dan bahkan menyingkirkan laki-laki, prasangka bahwa kesetaraan gender melawan kodrat dan lain sebagainya. 

gend1

  1. Women are brave if they hit men, whereas men are brutal, perverts if they hit women.

Ini merupakan sesat pikir. Kesetaraan gender tidak pernah memberi label bahwa apabila perempuan memukul laki-laki, adalah tanda keberanian. Tidak pula menjadi pembenaran perempuan untuk memukul laki-laki. Tindakan pemukulan sejatinya merupakan salah satu bentuk kekerasan, dan merupakan tindakan yang salah. Siapa pun yang melakukan kekerasan, baik itu perempuan atau laki-laki, adalah salah. Jika kemudia kekerasan dikaitkan dengan gender, yang terjadi bukan kesetaraan gender namun bias gender.

Konsep kesetaraan gender hadir justru untuk mengurangi tingkat kekerasan berbasis gender, dan fakta menunjukkan bahwa kekerasan cenderung terjadi kepada perempuan dalam ranah domestik (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Menurut Catatan Akhir Tahun 2014, terdapat 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2014. Sebanyak 68% dari kasus tersebut adalah kekerasan domestik dan rumah tangga (KDRT) dengan mayoritas korban ibu rumah tangga dan pelajar. Bentuk-bentuk kekerasan meliputi penelantaran tanggung jawab, penganiayaan jasmani dan psikis, serta pernikahan paksa ataupun pernikahan di bawah umur.

2. Women are romantic if they suddenly kiss men. But men are perverted if they suddenly kiss women.

Ini juga logika yang salah. Mencium seseorang dan merasa romantis tidak ada kaitaGend2nnya dengan gender, tapi lebih kepada persepsi si pencium dan yang dicium serta persepsi orang ketiga yang melihat adegan ciuman tersebut. Juga seberapa dekat hubungan antara si pencium dan yang dicium. Apakah mereka saling kenal? Apakah mereka sepasang kekasaih? Terlepas dari gender nya perempuan atau laki-laki, jika ciuman itu tidak diinginkan, ya tidak bisa dikatakan romantis. Sebaliknya, jika ada kesepakatan bersama, ya ciuman itu bisa dikatakan romantis. Jangan lupakan persepsi orang ketiga yang menafsirkan ciuman tersebut romantis atau tidak. Saat anda melihat seseorang tiba-tiba mencium orang lain, saya yakin yang Anda pikirkan pertama kali adalah bukan gendernya, tapi bagaima reaksi orang yang dicium, baru kemudian kita simpulkan ciuman itu romantis atau tidak. Bukan begitu??

gend33. Women staring at men’s crotch is flirting. Men staring at women’s breasts it is perverted and offensive.

Pernyataan yang lucu. Saya tidak pernah mendengar bahwa perempuan memperhatikan area selangkangan nya laki-laki dengan tujuan untuk menggoda. Bahkan saat saya mencoba googling, yang saya temukan justru pertanyaan-pertanyaan dari pria kepada perempuan untuk memastikan bagaimana bahasa tubuh perempuan saat menggoda pria. Jadi, belum tentu memperhatikan area selangkangan pria berarti si perempuan sedang menggoda. Dan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan gender.  Continue reading

Kepribadian Sang Peracun

Meskipun banyak fakta menunjukkan bahwa racun telah digunakan sejak ratusan tahun sebagai alat pembunuh tercepat, sedikit fakta yang kita ketahui tentang kepribadian si peracun. Alasan pertama disebabkan oleh keahlian para peracun dalam menghindari aparat kepolisian dan penyidik (baru pada abad ke-20 dikembangkan alat-alat pendeteksi racun), alasan kedua disebabkan oleh stereotipe yang mengatakan bahwa perempuan secara konsisten digambarkan sebagai peracun profesional, dan alasan ketiga yaitu adanya anggapan bahwa racun merupakan senjata ideal dalam membunuh yang kemudian lebih mempengaruhi persepsi masyarakat mengenai kecerdasan sang peracun daripada kepribadian sang peracun.

Demografi Kejahatan

Berbeda dengan stereotipe populer yang berkembang di masyarakat, ternyata mayoritas terdakwa peracun adalah laki-laki dengan korban terbanyak adalah perempuan. Namun ketika korban adalah laki-laki, kemungkinan peracun nya laki-laki dan perempuan adalah sama. Seperti halnya dengan metode pembunuhan lain, peracun jarang memperhatikan latar belakang ras atau etnis saat melakukan kejahatannya, ini berarti siapapun dapat menjadi target pembunuhan baik dari ras afro-amerika, kaukasia, asia, dan sebagainya. Rata-rata statistik menunjukkan bahwa, sebagian besar peracun berusia 5 hingga 10 tahun lebih muda dari korban nya.

Sebagian besar peracun berasal dari kalangan profesional dalam dunia medis (dokter, perawat, petugas laboratorium) atau dari kalangan rumah tangga (seorang istri, ibu, pengurus rumah tangga). Mereka memiliki akses mudah untuk mendapatkan racun dan mendekati korban. Mayoritas peracun membunuh korban yang telah dikenal mereka sebelumnya, seperti anak kecil, pasangan nya, teman, kenalan dan sebagainya.

Kepribadian Sang Peracun 

Continue reading

CN-

Sianida merupakan racun pembunuh yang mematikan. Hanya dengan dosis 100mg, racun ini sudah dapat membunuh dengan cepat. Kematian terjadi dalam waktu satu menit hingga 15 menit, tergantung pada seberapa besar dosis dan metode yang digunakan.

Racun ini pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I sebagai senjata kimia dalam bentuk gas dan digunakan pula oleh Nazi sebagai gas kamar dalam tragedi Holocaust. Pada tahun 1980, gas sianida juga digunakan untuk menyerang penduduk Kurdistan yang menempati Irak utara selama perang antara Irak dan Iran berlangsung.

potassiumcn

Potasium & Sodium Sianida

Sianida terdapat dalam bentuk gas, cair atau padat. Hidrogen sianida dalam bentuk cair sangat mudah berubah menjadi gas apabila dipanaskan dalam suhu ruangan yaitu 25.6o C/28.1o F, dengan struktur tanpa warna hingga warna biru muda transparan. Dalam bentuk cair maupun gas, sianida memiliki aroma manis seperti almond. Hal ini lah yang menyebabkan aroma sianida sulit terdeksi oleh manusia. Sedangkan dalam bentuk padat, sianida terlihat seperti bubuk kristal berwarna putih, umunya dikenal sebagai sodium sianida atau potasium sianida.

Sianida dipilih sebagai racun ideal oleh para pembunuh karena beberapa alasan, diantaranya:

Sianida sangat beracun meskipun dalam dosis kecil

Kemungkinan kematian dalam waktu tiga hari untuk seseorang dengan berat badan sebesar 72.64 kg yang menelan 0.3632 gram potasium sianida adalah 50%, dan jika ia menelan sebanyak 0.55 gram, kemungkinan kematiannya adalah 90%. Dalam dunia nyata, kematian akibat keracunan sianida dapat terjadi lebih cepat dari tiga hari, dengan kemungkinan terbesar yaitu hanya dalam kurun waktu 2-6 jam.  Continue reading

Sekilas Tentang Efektivitas Program Deradikalisasi Narapidana Terorisme di Indonesia

Pemidanaan terhadap para pelaku terorisme merupakan kajian penting dalam menjaga stabilitas keamanan di kemudian hari. Hal ini menjadikan lembaga pemasyarakatan sebagai tempat yang sangat memiliki peranan dalam melakukan pembinaan terhadap narapidana teroris untuk tidak mengulangi perbuatannya. Pola pembinaan narapidana teroris tentu berbeda dengan narapidana lain, di mana dalam masa pembinaan mental, narapidana teroris tidak diperkenankan memberikan dakwah.

Pemasyarakatan bagi narapidana teroris bertujuan untuk membina dan mendidik mereka menjadi orang yang lebih baik. Perubahan paradigma tempat pemidanaan dari penjara menjadi lembaga pemasyarakatan sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan membawa konsekuensi yuridis berupa perubahan tujuan pemidanaan dari pembalasan menuju pembinaan. Dalam kerangka pembinaan terhadap narapidana, lembaga pemasyarakatan memiliki dua peranan penting yakni sebagai tempat dan sarana atas reedukasi dan resosialisasi.

Pembinaan di lembaga pemasyarakatan bertumpu pada konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Rehabilitasi wajib dilakukan di lembaga pemasyarakatan sedangkan reintegrasi dapat dilakukan di dalam lembaga pemasyarakatan maupun di luar lembaga pemasyarakatan. Penerapan konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang optimal. Ketidakberhasilan pembinaan terhadap para narapidana teroris dapat dilihat pada banyak residivis yang mengulangi kembali perbuatannya. Doktrin yang dianut oleh narapidana terorisme sulit dihilangkan meskipun ia telah menjalani pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan.

Program Deradikalisasi di Indonesia

Secara sederhana deradikalisasi dapat dimaknai suatu proses atau upaya untuk menghilangkan radikalisme. Secara lebih luas, deradikalisasi merupakan segala upaya untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdisipliner, seperti hukum, psikologi, agama dan sosial budaya bagi mereka yang dipengaruhi paham radikal dan/atau pro kekerasan. Continue reading

Aliran Sesat?

Beberapa hari terakhir media massa gencar memberitakan organisasi bernama Gafatar sebagai organisasi yang menyampaikan aliran sesat. Masalah pemberian label “aliran sesat” bukan kali ini saja terjadi – dan media massa, seperti biasa, berusaha mengonstruksikan pola pikir masyarakat untuk ikut serta melabel aliran-aliran lain di luar aliran mayoritas Islam, sebagai “sesat” dan “menyesatkan”.

Pertanyaan besar yang kemudian muncul dalam benak saya adalah: Siapakah yang berhak menghakimi suatu aliran sebagai sesat atau tidak sesat?

Peran Fatwa MUI sebagai Dalil Penghakiman

Maraknya aliran-aliran baru yang berbeda paham dengan keyakinan mayoritas Islam, memaksa Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memberikan sejumlah kriteria tentan sesat dan tidaknya sebuah aliran tertentu. Bagi MUI, ada sepuluh kriteria aliran sesat. Tiga diantaranya yang menurut saya patut dicermati antara lain:

  1. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah
  2. Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir
  3. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i. 

Continue reading

Harm Reduction in the Netherlands

The Netherlands’ current drug policy has its roots in the 1970s, when a serious heroin problem there led to the establishment of the Baan Commission to develop recommendations for to a new approach to illegal drugs. The commission’s recommendations were a precusor to today’s harm reduction strategy. It recognized that drug use is a problem that will not go away, and it recommended that drug users be treated as people in need of help, not as criminals. The aim of national policy, it said, should be to try to reduce the use of drugs through means other than law enforecement and to help people with drug problems by providing them with suitable treatment.

Adopting the comission’s recommendations in 1976, the Netherlands established an important distinction between drug traffickers and drug users. The former are subject to arrest and prosecution if they possess or are selling large amounts of hard drugs, but are not normally arrested for all amounts of hard drugs. Meanwhile, drug users are also normally subject to arrest merely for possessing and  use drugs. If drug users are arrested for some other reason, they are required to undergo drug treatment. The Netherlands established an important distinction between hard and soft drugs.  Continue reading

Perfect Imperfections

“You don’t need to be perfect to inspire others. Let people get inspired by how you deal with your imperfections.”  — Wilson Kanadi

SenyumSempurna

taken at Sunda Kelapa Harbor, Jakarta (2014) with Canon EOS  30D  F/8.0, 18 mm

The inspirational people are the ones who faced hardships and overcame them, the ones who deal with challenges daily but still have smiles on their faces, the ones who help others despite the fact that they need the most help. These are the people we stare at with awe.

Bersyukurlah (Sebuah Monolog)

Smileinthetrash

Photo taken in Cakung, East Jakarta in July 2012. Camera: Canon EOS 550D, F/10.0 21mm

Karena bersyukur kita bahagia bukan karena bahagia kita bersyukur.

Memang sih, kehidupan orang lain selalu terlihat lebih menyenangkan dari kehidupan saya sendiri. Tapi apakah saya akan mendapat manfaat dengan selalu membandingkan diri dengan orang lain? Manfaat tidak saya dapat, malah penyakit stres melanda. Iya kan?  Continue reading

Melihat Wacana Hukuman Kebiri Dari Berbagai Sisi

 Pertanyaan Besar
Apakah hukuman kebiri efektif untuk mengurangi kejahatan seksual? Atau malah akan menimbulkan masalah baru?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar diatas, saya akan mencoba memulainya dengan definisi kejahatan seksual, definisi kebiri dan mengkaji faktor penyebab mengapa seseorang melakukan kejahatan seksual.

Kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks dengan menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapa saja tanpa memandang hubungan dengan korban, dalam situasi apa saja, termasuk tapi tidak terbatas pada rumah dan pekerjaan. (IASC, 2005)

Sedangkan kebiri atau yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah kastrasi, sebenarnya telah dipraktikkan sejak lama. Kastrasi pada manusia sendiri memiliki banyak arti namun secara umum diartikan sebagai upaya mendisfungsikan hormon seksual (fungsi reproduksi) pada manusia. Dalam sejarah kastrasi, metode-metodenya telah berkembang seiring penemuan metode baru dengan tidak lagi dilakukan bedah, kecuali pada kepentingan dunia kedokteran.

Pada pria, kastrasi dilakukan dengan tiga cara. Pertama, memotong saluran sperma ke arah penis yang kemudian tren dengan nama vasektomi dalam istilah kontrasepsi. Kedua, mengeluarkan atau meniadakan organ penghasil sperma (testis) yang terdapat pada kantung skrotum di bawah batang kemaluan laki-laki. Ini dikenal dengan istilah orkiektomi. Ketiga, penyuntikan atau injeksi bahan kimia yang mematikan fungsi organ penghasil sperma (testis) itu sendiri. Ini dikenal dengan metode kastrasi kimiawi. Metode ini yang telah lazim digunakan di zaman ini dalam kepentingan pemberantasan kejahatan.

Faktor Penyebab Seseorang Melakukan Kejahatan Seksual  Continue reading

Pendidikan dan Passion

Orang: “Ambil kuliah jurusan apa Sheil?

Saya: “Kriminologi“.

Orang: “Wah jurusan itu nanti lulusnya mau jadi apa? Bisa menghasilkan uang ga?

Saya: “Inshaallah jadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tujuan saya kuliah adalah menimba ilmu, menaikkan derajat saya di mata Tuhan karena saya sedang menimba ilmu dengan sungguh-sungguh dan saya memang mencintai Kriminologi. Uang bisa datang dari mana saja selama saya tetap berusaha dan yakin. Cita-cita saya bukan uang tapi kepuasan batin. Cita-cita saya ingin berkontribusi untuk bangsa.

Orang: “Tapi orang tua kamu mahal lho bayar kuliahnya

Saya: “Inshaallah uang dari orang tua saya ga akan sia-sia karena saya sudah berniat sepenuh hati akan memuliakan mereka dengan ilmu yang saya peroleh. Toh saya juga ga menggunakan uang mereka untuk foya-foya ngehedon sana-sini. Toh selama proses kuliah saya berusaha semampu saya untuk jujur. Berusaha mati-matian mengandalkan kemampuan saya dalam mengerjakan semua tugas. Berusaha untuk amanah. Yang penting itu prosesnya

Orang: “Semoga berhasil ya!

Saya: “Terima kasih” 🙂

Begitulah segelintir percakapan saya dengan seseorang yang tidak bisa saya salahkan kenapa mindset dia seperti itu. Dan saya yakin teman-teman sekalian pasti pernah mengalami obrolan yang sama.

Di Indonesia, kita sekolah setinggi-tingginya hanya untuk dipersiapkan bekerja di sektor yang menghasilkan uang banyak. Sebut saja profesi dokter, akuntan, ahli ekonomi, konsultan keuangan, pegawai bank, arsitek, hingga pejabat DPR. Terlepas apakah itu sesuai dengan passion atau minat dan bakat kita.  Continue reading

Menolak Lupa. Melawan Amnesia Sosial

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa media ramai memberitakan mengenai Pengadilan Internasional Tragedi 65 akan diselenggarakan di Den Haag.

Menurut saya, Pengadilan Rakyat Internasional ini merupakan langkah yang sangat baik dan memang diperlukan karena walau bagaimana pun pembunuhah massal adalah salah, apalagi dilakukan atas nama kekuasaan dan ideologi. Setidaknya, dengan diusut nya kasus Tragedi 65 ini, bisa menyadarkan Indonesia atas komitmen dan tanggung jawabnya terhadap penyelesaian kasus-kasus HAM. Dan setidaknya rantai lingkaran impunitas dan pengingkaran bisa diputus.

Tragedi 65 merupakan salah satu dari rentetan peristiwa pelanggaran HAM berat di Indonesia. Dikategorikan pelanggaran HAM berat karena memang merupakan kejahatan kemanusiaan yang ditandai dengan aksi pembunuhan massal dan penindasan berjuta-juta orang yang dianggap sebagai PKI atau orang terdekat PKI, baik yang dibunuh secara langsung dalam aksi pembunuhan massal, diperkosa, maupun yang meninggal dalam siksaan di tahanan. Ratusan ribu orang ditahan tanpa proses pengadilan, keluarga mereka mengalami diskriminasi dan penindasan politik selama puluhan tahun.

Harus diakui bahwa tragedi 65 ini merupakan isu yang sensitif karena bukan hanya suatu “kejahatan militer” atas warga seperti yang selama ini sering digambarkan. Peristiwa ini juga mengindikasikan, bahwa ketika itu terjadi perpecahan besar dalam masyarakat. Bukan hanya tentara, melainkan juga kelompok-kelompok agama, baik Islam maupun Kristen, terlibat dalam aksi pembunuhan massal.

Sekilas Tentang Tragedi 65 dan Rezim Otoriter Soeharto 

Continue reading

Diskusi Singkat Tentang Terorisme

Hari ini kelas kriminologi-postmodern sempat membahas tentang bagaimana perspektif postmo melihat terorisme. Menurut dosen cerdas kriminologi, Mas Iqrak, terorisme muncul karena anggapan suatu kelompok (bisa kelompok politik bahkan agama) yang merasa PALING BENAR. Dalam hal ini, misalnya suatu kelompok agama menganggap penafsiran mereka atas “scripture texts” adalah paling benar, tafsir-tafsir diluar itu dianggap salah, melenceng, kafir.

Perspektif postmo sendiri melihat bahwa tidak ada kebenaran yang absolut. Kebenaran adalah subjektif. Kebenaran tidak bersifat universal. Dan kebenaran itu banyak, ada kebenaran 1, 2, 3, dst. Seandainya para teroris ini berpikir dengan pendekatan postmo, mungkin mereka tidak akan sesempit itu dalam memandang dunia. Mungkin juga mereka akan lebih menghargai perbedaan karena Tuhan lah yang menciptakan keberagaman. Rasulullah SAW sendiri pun, sangat mewanti-wanti umat Islam untuk tidak terjebak pada tindakan ekstremisme (at-tatharuf al-diniy), berlebihan (ghuluw), berpaham sempit (dhayyiq), kaku (tanathu’/rigid), dan keras (tasyaddud).  Continue reading

Ingat Mati

A: “Kak, senior aku meninggal hari ini karena kecelakaan. Ga nyangka banget padahal masih muda. Pintar. Lagi ngambil S2 di AS. Yang lebih miris, liburan 3 bulan yang lalu kita masih ketemu dan ngobrol”

Saya: (cuma bisa bilang “Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un“). Shock. Ikutan sedih. Dan cuma bisa bilang “Kematian memang ga mengenal usia ya…”

Setiap kali mendengar berita kematian, saya selalu merasakan perasaan aneh. Terbayang jika kematian itu menimpa diri kita? Apa kita siap? Sudah cukupkah bekal akhirat kita untuk dipertanggung jawabkan kepada Sang Pencipta?

Saya secara pribadi memandang kematian sebagai proses yang amat sangat rasional. Sesuatu yang PASTI terjadi. Kehidupan sejatinya adalah proses menuju kematian, kita hanya berjuang melawan waktu. Waktu adalah beragam persoalan yang harus dihadapi. Segala problema hidup kadang membuat kita lupa, kita terus memuaskan tubuh kita, dengan segala hal semu. Bahkan diantara kita rela melakukan segala upaya untuk mempertahankan eksistensi, status sosial dengan mengorbankan hak hidup manusia lain. Kematian seharusnya bisa menjadikan alasan untuk kita agar tidak lupa diri, tidak menjadikan kita merasa lebih sempurna dibanding manusia lainnya.

Memento mori. Kita semua pasti mati, hanya masalah waktu saja..

Uncovering The Rape Myths

Schwartz (2010, p.9) explained that:

“Underlying the entire notion that some people, including police investigators, don’t believe that rape survivors are telling the truth is based on a set of beliefs about rape that are often considered wrong. A central tenet of sociological and psychological inquiry into these beliefs, and certainly of feminist analysis, has been that these beliefs of women do not improve truth or reality, but rather are myths. They are stereotypes or presumptions about women that are not true: whether some women are more likely to be raped than others (always the women who behave in ways we don’t like); how women should act after being raped (e.g., women who are too calm are lying); whether women use rape commonly and typically as an accusation to get men inti trouble; whether it is possible for prostitutes to be raped, or whether women lie about rape for instrumental reasons – to provide an excuse that keeps them from getting into trouble if they are out late or doing something else that they should not have done.”

These myths can distort an investigator’s perception, lead to preconceived theories, bias an investigation, prevent a thorough investigation, and perhaps even end any serious investigative response before it can begin. While the ignorant belief of rape myths is often attributed to men, women are not immune men to by any means. In fact, it has been argued that the culture acceptance of rape myths by women has contributed to the underreporting of rape by actual victims. In these cases, victims either do not recognize the crimes that have been committed against them or feel inappropriately complicit because of some aspect of their conduct.

OFFENDER MYTHS

Myth: Uncontrollable Sexual Desire

One of the most pervasive myths about rape is that it is committed to satisfy an offender’s uncontrollable sexual desires, as though they become overwhelmed with sexual excitement and commit rape because they cannot control themselves. This aspect of the stereotypical rapist is described by Groth (1979, p.2) as

“… a lusty male who is the victim of a provocative and vindictive woman, or he is seen as a sexually frustrated man reacting under the pressure of pent up needs, or he is thought to be a demented sex fiend harboring insatiable and perverted desires.”

This myth has its origins in some facts that are easily focused by those with an agenda or a less than perfect understanding of human biology, chemistry, and psychology. It is true that visual and auditory stimuli play a major role in human sexuality. However, a male’s erection, one primary indicator of sexual arousal, occurs as a result of harmony achieved among nerves, hormones, blood vessels, and psychological factors. Each of these elements is aroused and dampened differently in different individuals. Everyone’s brain chemistry is different, everyone’s psychological pleasure and pain associations are different.

The first clue to the fallacy of argument that rape is the result of sexual arousal gone awry is the fact that many people experience extreme levels of sexual arousal every day without thinking about, let alone committing, the crime of rape. More specifically and perhaps lesser known to the general public, there are rapists who experience varying degrees of sexual dysfunction during the commission of their crimes. That is to say, they may experience the inability to achieve an erection, maintain an erection, or ejaculate. Some rapists experience sexual dysfunction infrequently; some rapists experience it during many, if not all, of their crimes. Certainly, for sexual rapists who fall into this category, personal sexual arousal and sexual gratification are not primary concerns, although anger over the condition may will be.

Rape is subsequently best described as a pseudosexual act. That is to say rape involves sex, and it can involve sexual arousal, but that’s not what it is all about. Sexual penetration, sexual contact are only means to achieving the rapist’s goals, not the goals themselves.

Myth: The Stranger

Rape1 There are still those who consider rape a crime that happens primarily between strangers. This myth is particularly dangerous because it suggests that there is perfect safety being out in the daylight, being in your own home, in your own car, or being with people that you know. Potential victims are at risk from without and from within, in public and private, at home and away, in familiar surroundings and strange ones, at all times of day and night. In specific, most victims are female who have been attacked by someone who that is not a stranger.

Myth: The Loner

For some reasons, there are number of experts who believe, and general public eager to accept, that rapists are largely disenfranchised social outcasts who are not able to have normal sexual relations and must therefore resort to rape. This is perhaps it fits nicely with images of an undersexed male whose social isolation and sexual activity result in unctrollable sexual arousal that must lead to rape.

Groth (1979, p.5) dispels the myth of the typical rapist as a “loner” or socially outcast, by explaining that

“… one third of the offenders that we worked with were married and sexually active with their wives at the time of their assaults…. Of those offenders who were not married (that is, single, separated, or divorced), the majority were actively involved in a variety of consenting secual relationship with other persons at the time of their offenses.”

Furthermore, Groth and Hobson (1983, p.161), who studied 1000 offenders over a 16-year period, found the following:

“All of the offenders we have seen were sexually active males involved in consensual relationships at the time of their offenses. No one raped because he had no other outlet for his sexual needs.”

The literature goes on to describe rape as a symptom of psychological disturbance that tends to manifest itself during times of stress or tension. However, the rapist is not necessarily crazy or intellectually diminished. He is in a state of desperation and turmoil (Groth, 1979).

Myth: Females Cannot Commit Rape or Sexual Assault

Rape involves forced sexual penetration and may not require a penis depending upon local statutes. Regardless, there are many examples of female sex offenders. They include women who engage in sexual relationships with victim below the age of consent and women who forcibly penetrate their victims with objects or nonpenile body parts (e.g., sexual devices and fingers). They also include women who help procure, lure, or incapacitate victims for their male partners and participate in rape-related activity.

VICTIM MYTHS
1371850049

 The view that rape is about sex and unchecked sexual arousal can lead to the false conclusion that victims may be in some way responsible for arousing the rapist or failing to the fully dissuade them. This includes statements regarding the victim’s clothing if she is wearing a skirt that is too short, heels that are too high, an outfit that is too tight or revealing, or failing to wear a bra and/or underpants. The inference is that the victim’s conduct was essentially encouraging the rapist, and the victim is therefore less deserving of sympathy and the benefit of a complete and thorough investigation. The further inference is that perhaps her crime falls into a gray area that isn’t actual rape. As explained by Groth (1979, p.7):

“Issues of provocations really are ridiculous when one realizes that the victims of rapists include males as well as females and occupy all age categories from infancy to old age…. There is no place, season, or time of day in which rape has never occurred, nor any specific type of person to whom it has never happened.”

Maples (1999, p.38) also argued that:

“In short, they are attracted to vulnerability. Wherever and whenever their victims are available and vulnerable, that’s where they will be.”

He further places the responsibility right back on leaderless, untrained, and inexperienced law enforcement (Maples, 1999, p.57):

“Years of uncreative policing must have taught the crooks to overestimate how much they could get away with, because despite our notoriety, our unit enjoyed a front-row view of the predatory instinct at work.”

The vulnerable victim populations include drug addicts, the homeless, those under the influence of drugs or alcohol, runaways, and prostitutes. Although it is true that such populations do take more risks with their personal safety and have more contact with crime, it should not be true that crimes committed against them have less meaning. Serial offenders hunt them because they perceive investigators are less likely to give such cases their full attention and skill; they are a lower risk than someone whose tragedy will catch the sympathetic eye of an investigator or a news camera.

Common victim myths include:

  1. Rape is uncommon
  2. Women who dress revealingly intentionally tease and excite men, essentially inviting rape
  3. Women who are drunk or using drugs cannot be raped
  4. Women cannot be raped by men with whom they have previously had consensual sex or by their intimate partners
  5. Prostitutes cannot be raped
  6. Males cannot be the victims of rape
  7. There is a typical or normal victim response to being raped
  8. If victims do not fight back, they were not really raped
  9. Some victims of rape are more deserving than others
  10. If a victim lies about one aspect of the crime, the entire rape is unfounded
  11. Attractive victims of rape require the attention of everyone in the department
  12. Women often “cry rape” to get a man in trouble
  13. A victim who does not report a rape or cooperate with the police is responsible for any other assaults the offender may commit
  14. Rapists never return to the same victim, or contact them after the rape, so victims have nothing to fear.
THE CONSEQUENCES OF RAPE MYTHS 

Rape Culture  The consequences of accepting and even endorsing rape myths are discussed in Franiuk and colleagues (2008, pp. 288-290):

“Several studies have shown that rape myths are endorsed by a significant portion of the population and that men are almost always most accepting of rape myths than are women (for review see Lonsway and Fitzgerald, 1994). Rape myths, no matter how strongly endorsed by an individual, have serious consequences for sexual assault victims. People who endorse rape myths are less likely to label a scenario as sexual assault, even when it meets the legal criteria (Muehlenhard and MacNaughton, 1998, Norris and Cubbins, 1992). Endorsement of rape myths lead people to be less likely to blame the man for an assault (Check and Malamuth, 1985; Linz, Donnerstein, and Adams, 1989; Muehlenhard and MacNaughton 1988)…. Furthermore, research has shown associations between the endorsement of rape myth and hostility towards women, endorsement of stereotypical attitudes and sex roles for women, and negative evaluations of rape survivors (for a review, see Lonsway and Fitzgerald, 1994). Finally, rape myths acceptance has been shown to lead to greater victim blame, lower conviction rates for accused rapists, and shorter sentences for convicted rapists by juries in mock trials (Finch and Munro, 2005; also see Lonsway and Fitzgerald, 1994). It follows that rape myths may lead others to advise sexual assault victim away from pressing charges, may lead law enforcement to doubt the legitimacy of a woman’s claim, and may lead lawmakers away from enacting appropriate legislation.”

Protected by Copyscape

REFERENCES:

Groth, A.N. (1979). Men Who Rape: The Psychology of The Offender. New York: Plenum Press

Groth, A.N., and Hobson, W. (1983). The dynamics of sexual assault. In Sexual Dynamics of Anti-Social Behavior (L.Schlesinger and E. Revitch, eds.). Springfield, IL: Charles C. Thomas

Maples, J. (1999). The Crime Fighter. New York: Doubleday

Schwartz, M. (2010). National Institute of Justice Visiting Fellowship: Police Investigation of Rape—Roadblocks and Solutions. National Criminal Justice Reference Centre, Document No. 232667, December; retrieved from http://www.ncjrs.gov/pdffiles1/nij/grants/232667.pdf

Happy 70th Independence Day, Republic of Indonesia!

Seventy years ago, more than three centuries’ worth of blood, sweat, and tears culminated in a single point in time when Soekarno read Indonesia’s Proclamation of Independence.

Unlike many other Asian states, who were either liberated or had their independence given to them by their colonial masters, Indonesians won their own independence and sovereignty through their unyielding effort and sacrifice within the three hundred and fifty years. Countless battles were won and lost, in which millions upon millions gave their lives to both achieve and maintain the one dream of freedom. Many of their names are now lost in time, but we will always remember their courageous deeds.

Much has been achieved since then. Indonesia now boasts the 16th largest economy in the world, one spot ahead of, ironically, the Netherlands, which used to colonize the archipelago. Indonesia is also one of Asia’s growth engines, and one of only a handful of nations who are able to couple a Muslim majority and a stable democracy.  Continue reading

Hidden Messages in Suicide Notes

PEOPLE who leave suicide notes rarely give a reason for killing themselves, but they often praise loved ones and write surprisingly long, complicated letters.

Study into the differences between faked and genuine suicide notes is used to help identify killers who attempt to cover up murder by forging a suicide confession.

An analysis of 84 suicide notes, 51 genuine and 33 written by volunteers, revealed the fakers use longer sentences but fewer verbs and nouns. Genuine suicide victims are more often practical about life, rather than writing of hate and revenge. About one in five people who commit suicide leave a note.

Adam Gregory, who works at the Surrey police force’s offender profiling unit, told the seminar that the genuine suicides were less likely to blame themselves, or give a reason for the deaths. 

Mr Gregory became interested in suicide notes following the case of Eddie Gilfoyle, who was sentenced to 25 years in July 1994 after being found guilty of murdering his wife. He was accused of tricking his wife into writing a suicide note, telling her he was studying suicide at the hospital in Merseyside where he worked as a nurse. Earlier in 1994 he was given leave to appeal.

Mr Gregory in his study The Decision to Die – Psychology of the Suicide Note, uses a scientific model to help predict which notes are likely to be fake and which are genuine.  Continue reading

Critical Mistakes In Death Investigation

Death investigation is a complicated process, which involves a number of different members of the police department as well as various other forensic disciplines working together toward the goal of solving the case. There are any number of things that can and will go wrong due to the nature of sudden and violent death. 

There may be miscommunications, which result in serious errors that affect the outcome of the case due to the various responsibilities of uniform officers, detectives, medical examiners to forensic experts, prosecutors as well as others in the process.

MISTAKE 1: Assuming the Case is A Suicide Based on the Initial Report

If the case is reported as a “suicide,” the police officers who respond as well as the investigators automatically tend to treat the call as a suicide. It is a critical error in thinking to handle the call based on the initial report. The immediate problem is that psychologically one is assuming the death to be a suicide case, when in fact this is a basic death investigation, which could very well turn out to be a homicide. The investigator cannot “assume” anything as a professional law enforcement officer.  Continue reading

The New Typology of Family Murderers

After analyzing newspaper accounts concerning “family annihilator” events that occurred between 1980 and 2012, British criminologists have categorized the men who murder their own families into four distinct types. [1]

The types are self-righteous, anomic, disappointed, and paranoid. The identification of these four helps to dispel the popular myth that revenge or altruism are the motivations behind most family murders are. Although each type has a somewhat different trigger that prompts these individuals to murder their own, the most common motivation behind these heinous acts is the break-up of the family, with financial problems and honor killings counting as second and third reasons, respectively.  It was observed that many of these individuals also have a history of domestic violence. In four out of five cases, the killers then went on to commit suicide, or at least made an attempt to do so.  

August was revealed to be the month most of these crimes — about 20 percent of the cases — were perpetrated. Because of school holidays, this was the month when family members were likely to be spending time together.

The Typology 

Continue reading

What is A Car Thief’s Biggest Challenge?

It is staying calm, according to a study published in the British Journal of Criminology that explored the psychology of looking inconspicuous when driving a stolen vehicle.

Criminologists Michael Cherbonneau and Heith Copes interviewed 54 car thieves from Tennessee and Louisiana about their experience of stealing automobiles, particularly focusing on what strategies they use to maintain an appearance of normality while driving away with a stolen vehicle.

Perhaps the most striking point to come out of the interviews is that dealing with the psychological pressure of the drive is by far the biggest challenge. As one offender noted “that’s where the adrenalin is, it’s in the drive. The actual theft is really no big deal.”

Some of these strategies were common sense, for example, not doing too much damage when breaking in or driving recklessly, but others were clearly thought out with ideas of how other people would perceive what a ‘normal’ driver would look like.

This can involve thinking about the sort of driver that would be in the type of car the person wants to steal – and dressing accordingly. Offenders reported that they specifically ‘dressed up’ to match their target car and avoided stereotypically gangsterish clothing, while another reported that instead of changing his appearance to fit the car, he made sure he stole cars to fitted his day-to-day look.  Continue reading

Drug Addiction in 1933

I have just found a curious paper from 1933 on unusual forms of drug addiction that contains some charming old-world views on the diversity of intoxication.

It was apparently presented at the wonderfully named “Society for the Study of Inebriety” and uses the term “addiction” synonymously with general drug use but does describe a number of curious ways of drug taking in different cultures.

…perhaps our author is more to be trusted in his description of the curious method used by the Zulu Kafis when indulging in the drug [cannabis]. It appears that these people place some burning manure on top of a handful of hashish, and, having covered up all with a small mound of earth, they dig air holes in the heap with their fingers.

Each man then lies down in turn and inhales the smoke through these vents. After a few whiffs they retain the vapour in their respiratory organs for a while with the object of inducing a violent attack of coughing and expectoration. It is evident that they like their dope full flavoured and take their pleasures as sadly as an Englishman is reputed to take his!

Full flavoured indeed!

It also notes that the word “muggles” was used as slang for marijuana in ’30s New Orleans. Is there something you aren’t telling us J.K. Rowling?

Reference:

‘Some Unusual Forms of Drug Adduction’ retrieved from http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1360-0443.1933.tb04863.x/pdf

ISIS In The SKy: Two Indonesian Pilots (May Have) Links to ISIS

Two Indonesian pilots were mentioned to have allegedly joined ISIS. Australian Police is reported to have tracked the whereabouts of the two. It is revealed in a document of Australian Federal Police (AFP).

According to The Intercept, who obtained the document, both pilots were known as Ridwan Agustin and Tommy Hendratno.

The Intercept is a media which become the funnel for top secret documents hacked by the former contractor of America’s National Security Agency (NSA) Edward Snowden. Based on the document, The Intercept mentioned that AFP had tracked the two pilots through Facebook since September 2014.

In his statement, Ridwan Agustin is an AirAsia pilot joining since 2009. In his Facebook account, Ridwan shows the pictures during a training at the Airbus off ur in Tolouse, France, with AirAsia team.

Ridwan was said to graduate from the AirAsia Academy’s pilot training in January 2010. With AirAsia, he flies international routes including Hong Kong and Singapore, as well as domestic routes.  Continue reading

Challenging The Common Conception of Terrorism

Why would regular people support or join terrorist groups? How do they go from living normal lives to murdering innocent people in a manner calculated to evoke widespread terror? Why haven’t decades of counterterrorism efforts stopped the escalation and brutality of terrorist attacks?

Questions like these have been explored in tens of thousands of articles and books: Amazon lists 33,982 books on terrorism as of July 11. British terrorism expert Andrew Silke, PhD, estimates that a new book on terrorism is being published every six hours, and that’s just the books in English.

So you’d think we’d know everything there is to know about the “typical” terrorist profile, their motivations, their transformation into radicals, their entry into terror groups and the group’s dynamics, and, if they leave terrorism behind, their reasons for disengaging from the group. But unfortunately, most of the “answers” and explanations are either wrong or irrelevant (not “actionable,” i.e., useful for counterterrorism efforts) according to experts like Silke [1] and John Horgan, PhD [2], a University of Massachusetts (Lowell) professor and director of the Center for Terrorism and Security Studies.

How can that be? A 1988 assessment of terrorism research by Alex Schmid and Albert Jongman explains: 
Continue reading

On Selfless Act

I recently had the chance to discuss this idea in depth with a wise philosophy professor. The conclusions we came to about selfishness pick up status quo beliefs by the backs of their shirts and throw them out the window.

This may sound strange, but may also be a relief for you to hear at the same time: There is no such thing as a selfless act. None. No matter what the situation, every action is selfish, and every person is selfish.

Camera: Canon EOS 550D, F/4.0 18mm

Camera: Canon EOS 550D, F/4.0 18mm

Break any story down to its roots, and there is a selfish motivation. Even the act of giving has a selfish motive – it makes you feel good! Trying to create a better world is selfish too – after all, it is YOUR world that you want to improve.  Continue reading

When You Are Misunderstood

The most liberating thing is to realise deeply that nobody will ever, ever understand you. Everyone is too busy trying to understand themselves.

No matter how you want to be seen, people will always have their own image of you. They will mishear, misunderstand and misinterpret your words and your actions. But forgive them, for how can they understand in exactly the way you want them to? They are absolutely free to understand in the way they do.

Twisted

All that’s left is to understand them, to understand that they don’t understand right now (and perhaps they never will), and then maybe try to help them to understand if you can, rather than dwelling on their lack of understanding (in your eyes).

I used to live my life waiting, waiting, waiting for people to understand me, always feeling misunderstood, and now I realise that I just wasn’t understanding them. I wasn’t understanding their present lack of understanding. It was all about ‘me’!  Continue reading

Psychologist’s Personality and Diagnosis of Psychopathy

A psychologist’s personality may affect whether someone is diagnosed as a psychopath or not. 

There is a preliminary study on how evaluators with different personality traits systematically differed in their ratings when using the ‘industry standard’ Hare Psychopathy Checklist. The checklist is often referred to by the abbreviation PCL-R. It is designed to assess and measure psychopathy, a condition where people lack empathy, are impulsive, manipulative and anti-social.

Psychopathy

Needless to say, it now features heavily in many legal cases.

The PCL-R is the most widely used measure of psychopathy in the world. But in real-world forensic settings, scores vary widely depending upon which side (of the legal case) retained the evaluator. This finding is called the “partisan allegiance” effect.  Continue reading

Revisiting The Case of Rurik Jutting: Hongkong Double Murders

Classification: Double Lust- Murders

Characteristics: Mutilation, Necrophilia

Number of Victims: 2

Date of Murders: October 31st, 2014 – November 1, 2014

Date of Arrest: November 1, 2014

Methode of Murder: Stabbing, Sadomasochism

Perfil Victima: Sumarti Ningsih (a 25 year-old Indonesian woman), Seneng Mujiasih aka Jesse Lorena (a 20 year-old Indonesian woman)

Location: Hongkong

Status: Officially known as Hong Kong Special Administrative Region v Jutting Rurik George Caton, ESC3743/14, was heard at the Eastern Magistrates’ Court. Jutting appeared in court and expressed understanding of the charges brought against him, but declined to enter a plea, before the court was adjourned until 10 November 2014.

As a result of his November court appearance, Jutting was declared mentally fit to stand trial with the case adjourned until July 6, 2015.

Rurik Jutting’s Personal Life  Continue reading

Welcome July! Best Month of The Entire Year (It’s My Birthday Month!)

Hello there, July! I am so glad that you are here. I hope that this year you are filled with all that best summer has to offer: hot humid days, blooming flowers and dying ones too, storm-cloud filled days to curl up under my quilt, and fireflies at night.

Camera: Nikon D40, F/11.0 22mm

Camera: Nikon D40, F/11.0 22mm

And since it’s my birthday month, I’m going to set some goals. This month I want to:

*30 mins of yoga most days (everyday just isn’t logical for me)
*Read 4 books 
*Save $100-$150 for a new DSLR
*Hiking a mountain 

All pretty goals if you ask me 🙂

So July.. Please be filled with love and with laughter, because I have a feeling that you’ll be filled with some sadness too. Be good to me July, I’ve been waiting for you.

 

The Cultural Relativity of Law and Crime

Just as the law is not fixed across time, it varies from one location to another. What is defined as crime may differ dramatically from one country to another or between locations within a specific country. Differences in norms and laws often lead to cross-cultural conflicts. The “ugly American” image may be largely a consequence of an affluent population traveling widely within other cultures, while remaining ignorant of their norms. In some instances, the conflict may be rooted less in ignorance than in ethnocentrism (believing that the customs and values of one’s own culture are superior to those of others). In some instances, the norm violations will be regarded not only as insulting, but as criminal behavior.

Since the terrorist hijacking and subsequent suicide airline crashes into the World Trade Center on September 11, 2001, attention has focused on the conflict between Islamic extremists and Western culture. This is the highest-profile, contemporary example of the relativity of law across cultures. Those who perpetrate such attacks are labeled “terrorists” in the West, are loathed, and more vigorously pursued than any other type of “criminals.” It was labeling them as outlaw terrorist-sponsoring regimes that provided American justification for the invasions of Afghanistan and Iraq. Yet, those same “criminals” are widely regarded as martyrs within Islamic cultures.  Continue reading

Watch Your Move!

How you move gives a lot away. Maybe too much, if the wrong person is watching. We think, for instance, that the way people walk can influence the likelihood of an attack by a stranger. But we also think that their walking style can be altered to reduce the chances of being targeted.

Stalker

Image Sources: www,gettyimages.com

A small number of criminals commit most of the crimes, and the crimes they commit are spread unevenly over the population: some unfortunate individuals seem to be picked out repeatedly by those intent on violent assault. Back in the 1980s, two psychologists from New York, Betty Grayson and Morris Stein, set out to find out what criminals look for in potential victims. They filmed short clips of members of the public walking along New York’s streets, and then took those clips to a large East Coast prison. They showed the tapes to 53 violent inmates with convictions for crimes on strangers, ranging from assault to murder, and asked them how easy each person would be to attack.

The prisoners made very different judgements about these notional victims. Some were consistently rated as easier to attack, as an “easy rip-off”. There were some expected differences, in that women were rated as easier to attack than men, on average, and older people as easier targets than the young. But even among those you’d expect to be least easy to assault, the subgroup of young men, there were some individuals who over half the prisoners rated at the top end of the “ease of assault” scale (a 1, 2 or 3, on the 10 point scale).  Continue reading

Facial Expressions Are Not So Universal

Can you tell when a person is angry? Or scared? Or worried? Can you simply look at their face and determine what they’re feeling? What emotions are in play?

Most people would say yes and indeed we have been taught that much of communication is nonverbal, meaning facial expressions, hand gestures, body language, and other cues that we constantly receive from others. Nearly half a century ago psychologist Paul Ekman “proved” that facial expressions revealed six basic emotions: happiness, sadness, fear, disgust, anger, and surprise. He further said that these expressions crossed all racial and cultural lines so that each human expressed emotions in their face in exactly the same way. Psychologists and police have used this technique for many years.

But is that true?  Continue reading

Allow Your Light To Shine

The path to self-growth is not linear. It is a meandering journey through mountains and valleys and, occasionally there are more lows than highs. But it is a journey ever onward, and it is our light — that same light that exists in every one of us — that guides the way, if only we allow it to shine.

Canon EOS 550D F/5.6, 59mm

Canon EOS 550D F/5.6, 59mm

There is a quote by Stephen Cope, from The Great Work of Your Life, that I have hanging in my bedroom. It reads,

“Each of us feels some aspect of the world’s suffering acutely. And we must pay attention. We must act. This little corner of the world is ours to transform. This little corner of the world is ours to save.”

The moment we share our light, the world becomes a brighter place.

Sheila RJ

Horror of Child Abuse: The Death of Angeline

The murder of 8-year-old Angeline has received overwhelming attention from the public and the media as yet another failure in the protection of children. The body of Angeline was found buried in the backyard of her adoptive mother’s house in Denpasar on Wednesday after she was reported missing on May 16. The police have arrested Agus, a former domestic servant at the house, who has confessed to the murder.

Image Source: Facebook-

Image Source: Facebook-“Find Angeline”

The police have released the results of an autopsy on the remains of Angeline and announced that she had been presumed dead for three weeks. In the autopsy, the police found signs of violence, namely bruises on the face, neck, hands and legs. Also a burn wound possibly from a cigarette butt on her right back. The team also discovered traces of plastic rope in four places on the body. Beyond speculation on the adoption and the murder, the reported daily conditions of Angeline in her neighborhood and at school is disturbing. Neighbors did say they occasionally heard cries from the house, and her teachers later revealed the child was often lethargic, hungry, late and smelly. She was also found to have bruises on her body when her teachers decided to bathe her.

Medical workers take a body bag containing the body of 8-year old Engeline, whose murder is being investigated by the police.  (Image Source: liputan6.com)

Medical workers take a body bag containing the body of 8-year old Angeline, whose murder is being investigated by the police. (Image Source: liputan6.com)

Unlawful Child Adoption  Continue reading

Relics of The Past in Kota Tua (Jakarta Old Town)

KotuLowAng_CopR

The Stadhuis

Kota Tua, or Old Town, is Jakarta’s equivalent to a historical heart found in various other cities around the world. It spans 1.3 square kilometers on the administrative border between North and West Jakarta and was previously dubbed “the Queen of the East” by European sailors in the early 16th century. It’s one of the few locations in Jakarta where many old heritage buildings are concentrated and still endure in some way or another. 

KoTuOperaCopR

Dasaad Musin Concern was the first modern trading company built in 1857, founded by Mr.Dasaad & Mr.Musin. Not many notes left on this company, only the magnificent abandoned building can be seen in the area.

You can surely see the Dutch influence in the architecture in the area. Built around a canal system, it was used by the Dutch colonial administration mainly as a base for commerce and military defense, as well as an administrative center.

Abandoned

The walls that used to contain the city have since been torn down, but Kota Tua still retains its original design, making it relatively simple to navigate compared to the rest of Jakarta. Over time, the capital’s city center gradually moved further south toward the National Monument in Central Jakarta, but the antiquated remnants of Dutch architecture in Kota Tua remain intact.

Ruined

Some buildings are abandoned, while others have been converted into museums, banks, offices and commercial stores.

Forgotten

The Jakarta administration plans to revitalize Old Town, turning it from an area overrun by the homeless and thugs, into a cultural tourism center. Jakarta governor said the city had formulated a master plan for earmarking Rp 150 billion for the project. ***** 

Sheila R.J

The photos were taken in January 2015.

Camera: Canon EOS 550 D, EF-S 10-22mm f.3/5-4.5

Murder for the Sake of Honor (Case Study: Pakistan & Turkey)

Imagine that a father murders his own daughters by shooting them and then burying them alive. This tradition was enacted in a remote village of Jafarabad, a district of Pakistan. The three victims were teenage girls between 16 and 18 years old whose crime was tarnishing the family honor by wishing to marry someone of their own choosing.¹

HonorCrime

An honor killing such as this is an act of murder in which “a woman is killed for her actual or perceived immoral behavior”.² Such behavior can include being unfaithful in marriage, refusing to submit to an arranged marriage, wearing makeup or short skirts, asking for a divorce, flirting with or receiving phone calls from men, and not having dinner prepared on time. In some culture, a woman raped by a man is also accused of committing an immoral act that brings shame to the honor of the family and perhaps the wider community. If her execution is considered deserved, it is usually carried out by one or more of her family members.

Honor killings result from a tradition that sees murder as justified when an individual has brought shame to the family name, a dishonor that can be removed only by killing the offender. In the Turkish province of Sanliurfa, one young woman was publicly executed by having her throat slit in the town square. Apparently, a love song had been dedicated to her over the radio. Within such traditions, cultural norms become intertwined with deviant behavior, and crime becomes a matter of social definition.³

Sheila R.J

References
[1] Najam, A., & Mughal, O. (2008, August 30). Jahalat: There is no honor in murder; criminality is not culture. All Things Pakistan. Retrieved from http://pakistaniat.com/2008/08/30/honor-honor-killing-pakistan/

[2] Case study: Honor killings and blood feuds. (2008). Gendercide Watch. Retrieved from http://www.gendercide.org/case_honour.html

[3] Hassan, Y. (1999, March 25). The fate of Pakistani Women. New York Times. Retrieved from http://www.nytimes.com/1999/03/25/opinion/25iht-edhass.2.t.html

Pengaruh Globalisasi Terhadap Identitas Lokal dan Potensi Terjadinya Kekerasan

Globalization

Globalisasi dan identitas tidak mudah untuk didefinisikan karena keduanya merupakan konsep yang kompleks. Globalisasi didefinisikan sebagai “keseluruhan proses di mana umat manusia di seluruh dunia disatukan ke dalam sebuah masyarakat dunia, masyarakat global, yang tunggal” (Albrow 1994).¹ Globalisasi bersifat multidimensional yang mencakup dimensi ekonomi, teknologi-komunikasi, politik, dan kultural.²  Menurut Tomlinson, globalisasi adalah sebuah proses yang menyebarkan ciri-ciri institusional dari modernitas.³

Sementara itu, identitas dapat didefinisikan sebagai “sumber makna dan pengalaman bagi orang-orang” (Castell 1997)4 atau “pencarian makna individu dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan masyarakat.”5

Menurut Tomlinson, identitas adalah dimensi dari kehidupan sosial yang terlembagakan dalam dan terbentuk karena adanya modernitas, yang didefinisikan sebagai “abstraksi praktik-praktik sosial dan kultural dari konteks-konteks kekhususan lokal dan pelembagaan serta regulasinya melintasi batas-batas ruang dan waktu.” (Giddens, 1990). Proses pelembagaan ini dapat dilihat dalam, misalnya, pembentukan teritori sosial (negara modern dan urbanisme) serta produksi dan praktik-praktik konsumsi (industrialisasi dan ekonomi kapitalis).6 Modernitas juga melembagakan dan mengatur praktik-praktik kultural yang membuat kita merasa harus mengikatkan diri dengan suatu ‘identitas’ yang didasarkan pada pembedaan-pembedaan spesifik, misalnya gender, seksualitas, kelas, agama, ras dan etnisitas, serta kebangsaan.7

Dampak Globalisasi terhadap Kebudayaan Lokal
Michael Hsiao mengajukan tipologi mengenai konsekuensi globalisasi terhadap kebudayaan lokal, yaitu (1) budaya lokal tergeser oleh budaya global, (2) budaya lokal dan global hidup berdampingan tanpa adanya penyatuan berarti di antara keduanya (koeksistensi), (3) budaya lokal dan global bersintesis, dan (4) budaya global ditolak oleh budaya lokal yang kuat.8 Berikut ini dibahas dua pandangan yang bertentangan tentang dampak globalisasi terhadap identitas kebudayaan kultural lokal, yakni globalisasi sebagai penghancur identitas dan globalisasi sebagai pembentuk identitas.  Continue reading

Hati-Hati Menggunakan Istilah “Kriminalisasi” (Studi Kasus & Literatur)

Kriminalisasi

Prof.Adrianus Meliala dalam rubrik OPINI KOMPAS berjudul “Kriminalisasi” (24 Oktober 2012) secara khusus menyoroti penyalahgunaan istilah akademik “kriminalisasi” dalam kasus penangkapan penyidik Polri, Komisaris Novel Baswedan, yang bertugas di KPK. Penyalahgunaan istilah akademik yang dilakukan oleh KPK ini sangat disayangkan karena sebagai institusi hukum, KPK seharusnya mempelopori penggunaan terminologi akademik yang tepat, sehingga tidak menimbulkan konteks negatif di masyarakat awam. Untuk lebih memahami persoalan ini mari kita tinjau kembali makna sebenarnya dari kriminalisasi.

Soetandyo Wignjosoebroto mengemukakan bahwa kriminalisasi ialah suatu pernyataan bahwa perbuatan tertentu harus dinilai  sebagai perbuatan pidana yang merupakan hasil dari suatu penimbanganpenimbangan normatif (judgments) yang wujud akhirnya adalah suatu keputusan (decisions). Kriminalisasi dapat pula diartikan sebagai proses penetapan suatu perbuatan seseorang sebagai perbuatan yang dapat dipidana. Proses ini diakhiri dengan terbentuknya undang-undang di mana perbuatan itu diancam dengan suatu sanksi yang berupa pidana. Muladi dan Barda Nawawie Arief juga mengatakan bahwa sebagai suatu kebijakan kriminalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menentukan perbuatan apa yang akan dilarang karena membahayakan atau merugikan, dan sanksi apa yang akan dijatuhkan, maka sistem peradilan pidana dapat diartikan sebagai proses penegakan. 

Dari beberapa definisi diatas, dapat kita tentukan inti-inti dari kata kriminalisasi:  Continue reading